Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Paus Fransiskus Inginkan Damai, Tanpa Perkelahian “tentang” Tuhan

OPINI | 10 October 2013 | 14:01 Dibaca: 733   Komentar: 16   8

13813889001247232392

Illustrasi Paus Fransiskus. | FILIPPO MONTEFORTE / AFP (kompas.com)

Baru-baru ini, Paus Fransiskus melontarkan sebuah pernyataan ‘menggelitik’ dan mengejutkan: “Saya percaya akan Tuhan, tetapi bukan (kepada) Tuhan Katolik. Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal, dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia. Yesus adalah guru dan pemimpin saya. Tetapi Tuhan, Bapa, adalah cahaya dan Sang Pencipta. Itulah yang saya yakini. Apakah menurut Anda keyakinan kita jauh berbeda? Pandangan Vatikan sentris telah mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tak sepakat dengan cara ini, dan saya akan lakukan apa pun untuk mengubahnya.”

Mungkin bagi banyak orang yang tidak memahami konteks pembicaraan Paus Fransiskus, pernyataan ini membingungkan. Bagi orang Katolik sendiri pun bisa membingungkan jika pernyataan Paus ini dicopot dari konteks pembicaraannya karena Paus yang ajarannya bersifat mengikat untuk semua umat Katolik di seluruh dunia malah melalui pernyataannya ini  seolah-olah jatuh dalam pandangan relativisme/pluralisme tanpa integritas.

Dari pernyataan-pernyataan Paus di atas pun bisa ditarik apa sesungguhnya konteks dan maksud pernyataan “kontroversialnya” tersebut.

Pertama, Paus memang tidak percaya pada Tuhan yang seolah-olah secara eksklusif milik orang Katolik. Paus ingin membuka pintu Gereja Katolik (umat dan hirarki) untuk menghargai dan menghormati realitas kebenaran yang diajarkan di dalam agama-agama lain. Bahwa perbedaan ajaran jangan sampai memecah belah umat Katolik dengan umat manusia yang punya ribuan agama/aliran kepercayaan. Jangan sampai umat Katolik kemudian merasa bahwa Tuhan dalam agamanyalah yang paling benar, sehingga tidak lagi mampu menghargai perbedaan cara pandang Ketuhanan yang ada dalam agama-agama lain. Hal inilah yang mau ditegaskannya kembali dengan kalimat terakhir dalam pernyataannya di atas: “Apakah menurut Anda keyakinan kita jauh berbeda? Pandangan Vatikan sentris telah mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tak sepakat dengan cara ini, dan saya akan lakukan apa pun untuk mengubahnya.”

Di sini, Paus ingin mengubah cara pandang kaum konservatif di dalam Gereja Katolik yang ’sulit’ untuk melihat dan menghargai realitas kebenaran dalam agama-agama lain. Paus ingin agar apa yang menjadi hasil Konsili Vatikan II terkait pandangan Gereja Katolik terhadap agama-agama lain sungguh-sungguh dihidupi oleh umat Katolik di mana pun demi menciptakan tatanan dunia yang lebih damai. Agama hakekatnya membawa damai. Namun jika agama tidak lagi menjadikan penganutnya menjadi pembawa damai: apa lagi yang tersisa dan bisa diharapkan?

Kedua, dengan pernyataan yang pertama di atas lantas bukan berarti Paus kemudian jatuh dalam relativisme tanpa integritas bahwa semua agama itu sama saja. Jika semua agama sama saja, sebaiknya agama-agama di muka bumi ini (entah berapa jumlahnya) dileburkan di dalam satu agama saja: agama tanpa agama. Karena itulah mengapa ia menegaskan bahwa: “Yesus adalah guru dan pemimpin saya. Tetapi Tuhan, Bapa, adalah cahaya dan Sang Pencipta. Itulah yang saya yakini.”

Dari kedua pernyataan ini, Paus ingin menegaskan kembali pandangan/sikap Gereja Katolik terhadap penganut-penganut agama lain. Sekaligus menjadi himbauan kepada umat Katolik di seluruh dunia untuk bersikap pluralis tetapi berintegritas terbuka.

Sikap pluralis berintegritas terbuka ini mau mengatakan bahwa silahkan umat Katolik percaya dan yakin bahwa iman Katolik ini adalah jalan terbaik baginya menuju Bapa, Sang Cahaya, dan Pencipta semesta alam dan menyelamatkan dosa-dosanya melalui Yesus Kristus.

Akan tetapi, jangan sampai keyakinan ini kemudian jatuh dalam sikap fundamentalis ketika berelasi dengan umat beragama lain yang juga mempunyai keyakinannya sendiri (vatikancentris). Sikap terhadap ajaran agama lain adalah menghargai karena itulah jalan yang diyakini oleh penganut agama-agama lain untuk mencapai Tuhan, Pencipta Alam Semesta.

Dengan kata lain, jangan sampai orang beragama terlalu sibuk mempertentangkan ajaran agama yang satu dengan yang lain (demi mencari mana yang paling benar) dan lupa untuk mengubah diri menjadi lebih baik oleh ajaran agamanya, sehingga orang lain bisa mengecap kasih, damai, dan suka cita bagi segenap makhluk apa pun jenis agamanya.

Naga-naganya, bakalah ada Konsili Vatikan III di masa kepausan Paus Fransiskus :smile:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 11 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 11 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: