Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Fauzan Ismail

MNC Radio Network Medan| HMI Kom's FISIP USU| Alam Raya Sekolahku, Pengalaman Guruku

Sekilas Dialog Kebenaran

OPINI | 15 September 2013 | 16:14 Dibaca: 687   Komentar: 8   2

Kebenaran merupakan sesuatu yang terus menerus dicari manusia selama hidupnya dan tidak berhenti dari awal mula manusia itu diciptakan sampai saat ini. Satu hal yang menarik tentunya karena manusia memiliki kelemahan ketika ingin mencapai kebenaran yang berada diluar dari batas kemampuan fisik dan akalnya (walaupun sebenarnya kita tidak tahu sampai sebatas mana kemampuan kita yang sebenarnya), karena sadar akan kekurangan itulah manusia senantiasa berupaya untuk mendapatkan kebenaran - kebenaran yang belum ia temukan dan proses itu terjadi secara bertahap mengikuti perjalanan peradaban manusia. Selain itu, manusia memiliki kekaguman terhadap apa yang ada di sekitarnya yang itu meliputi dirinya sendiri sebagai manusia, Tuhan, dan alam semesta beserta isinya.
Beberapa pertanyaan mungkin timbul dikala itu, yang sudah berabad - abad yang lalu dipertanyakan oleh orang - orang terdahulu. Seperti di Yunani di era Socrates dan Prasocrates, waktu itu para pemikir di masa itu berpikir darimana kah sebenarnya manusia itu berasal, begitu juga dengan alam semesta ini. Banyak mitos - mitos di zaman itu yang menurut mereka tidak masuk di akal dan perlu di kaji ulang. Ada banyak persepsi waktu itu, salah satunya Thales yang mengatakan bahwa manusia dan alam semesta ini berasal dari air, kemudian pemikiran tersebut dibantah oleh Anaximander dengan mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sesuatu yang tidak terbatas. Selanjutnya ada Anaximenes yang justru mengatakan bahwa bukan air dan “Yang Tidak Terbatas” itu yang menjadi asal muasal alam semesta ini, akan tetapi udara dan itu merupakan dasar dari beberapa materi yang ada di alam semesta ini seperti air, api, tanah, tubuh, jiwa. Lalu oleh Phytagoras ketiga pendapat itu dibantah lagi dengan mengatakan bahwa alam semesta ini dibentuk dengan angka Falsafah pemikirannya banyak diilhami oleh rahasia angka-angka. Ia beranggapan bahwa kahikat dari segala sesuatu adalah angka, benda dari benda lain dibatasi oleh angka, kita menentukan segala sesuatu dengan bilangan. Batas, bentuk, dan angka dalam pengertian Pythagoras adalah sesuatu yang sama. Lebih lanjut Pythagoras mengutarakan bahwa suatu penggambaran yang tepat tentang realita haruslah diungkapkan dengan angka dan dalam peristilahan rumus matematis. Dan selanjutnya banyak filosof - filosof Yunani lainnya yang berdebat tentang asal mula sesuatu hingga Socrates beserta muridnya Aritoteles dan Plato mulai merumuskan cara berpikir logika melalui metode logika klasik dan logika matematika dalam merumuskan kebenaran itu sendiri yang dibagi dalam konteks materi dan ide. Dimana pendekatan yang dipakai dalam membahas kebenaran tersebut yaitu melalui dialektika, dimana kebenaran itu dicapai ketika ada sintesis antara tesis dan antitesis, proses dalam mencapai sintesis itulah yang disebut dengan dialektika.

Ibaratkan membicarakan tentang yang manakah yang terlebih dahulu, telur apakah ayam?? tentunya pertanyaan itu akan sulit dijawab hanya dengan analisis yang sederhana dan akan menyebabkan kontradiksi dalam setiap jawabannya. Seperti halnya juga ketika para pemikir modern mulai membicarakan yang mana kah terlebih dahulu materi atau ide. Hal inilah yang mulai memunculkan banyak paradigma - paradigma berpikir tentang kebenaran yang berkiblat pada dua pandangan yaitu Idealisme dan Materialisme. Idealisme yang sesuai dengan asal katanya “idea” yang meyakini bahwa ide lah yang membentuk awal mula segala sesuatu dan kebenaran tidak akan dicapai tanpa diawali oleh ide yang kemudian diperkuat oleh pemahaman rasionalisme, dimana salah satu tokoh rasionalisme Rene Descartes mengatakan “Aku Berpikir Maka Aku Ada”, Dari idelah segala sesuatu itu berasal menurut pandangan ini. Sebaliknya materalisme mengatakan bahwa materi lah yang mendahului segala sesuatu. Segala sesuatu berawal dari materi dan yang hakekat adalah materi. Contohnya seperti ini, bagaimana ide bisa terbentuk kalau tidak ada otak yang “memproduksi” ide?? Tentunya ini membingungkan sekaligus menjadi warna dalam proses pencarian manusia terhadap kebenaran.

Satu hal yang membuat manusia sulit untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Manusia masih terjebak dalam kungkungan fisik yang membatasinya untuk mengenali realitas diluar fisiknya yang terbatas. Manusia pada umumnya terpatok pada pengamatan inderawinya dalam mengenali dan mencari kebenaran. Hal inilah yang selanjutnya disebut Empirisme dalam kajian filsafat. Bahwa dalam sejarahnya, manusia menggunakan pengalaman sebagai dasar kebenaran. Akan tetapi, harus disadari juga bahwa panca indera kita hanya terbatas pada pengenalan terhadap sesuatu yang bersifat material saja. Sederhananya seperti ini, didalam materi yang kita kenal oleh panca indera kita belumlah cukup mampu untuk memberikan gambaran secara mendalam dan mengakar dalam mengenali essensi zat yang kita tangkap oleh panca indera kita tersebut. Contohnya, panca indera kita hanya mengenali manusia dari segi fisik, tapi dalam segi non fisik agak sulit mengenalinya karena dia kasat mata, seperti tentang roh, jiwa, karakter dan lain  sebagainya, semua itu sifatnya non fisik.

Kalaupun ada yang mengatakan bahwa, kita kan punya akal?? bagaimana dengan akal, bukankah dia berbentuk nonfisik dan bisa saja dia memiliki kemampuan yang kita tidak tahu sampai mana batasannya. Namun tahukah bahwa kerja akal juga diawali proses kerja otak yang notabenenya adalah materi juga. Akal merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia, yangmana membuat manusia mampu mengenali segala sesuatu dengan dasar yang logis. Baik buruk, benar dan salah dapat dikenali dengan kinerja otak kita, yang tentunya menghasilkan akal. Tapi, tetap saja, optimalisasi akal juga butuh proses dan tidak akan menjadi dasar satu - satunya untuk mensintesiskan bahwa “ini kebenaran dan itu adalah kesalahan” atau “ini yang buruk itu yang baik”.
Sama halnya ketika pada akhirnya kita nanti berbicara tentang realitas yang lain seperti Tuhan dan alam nonmateri lainnya.  Selama berabad - abad manusia terus berdebat dengan keyakinannya tersebut. Walaupun secara logis, banyak pandangan yang tidak masuk akal. Namun bagi mereka, itu merupakan keyakinan yang inspirasinya adalah hati dan pengalaman spiritual mereka masing - masing.

Pada akhirnya, jawaban atas semua itu sama. Kembalilah pada keyakinan masing - masing. Apa yang menjadi kebenaran bagimu, tanggung jawabi lah sebagai pilihan hidup. Pada dasarnya, manusia diciptakan berbeda - beda dengan karakter, sifat, dan tentunya kebenaran yang berbeda - beda. Itulah warna hidup, agak lucu tentunya kalau kita melihat semua manusia dengan keadaan yang sama. Karena berbeda lah, manusia terus - menerus mencari kebenaran dalam hidupnya…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | | 24 November 2014 | 10:33

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | | 24 November 2014 | 09:41

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 13 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: