Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pacem

Gemar mengamati masalah sosial orang muda, musik rock, dan film.

Vicky dan Manifestasi Ajaran Filsuf Toni Blank

OPINI | 10 September 2013 | 17:50 Dibaca: 1073   Komentar: 6   0

Popularitas Vicky Prasetyo menanjak bukan lantaran Ke-Brad Pitt-annya di mata wanita yang jatuh dipelukannya, tetapi karena kosakataisme dan bahasaisasi darinya yang membuat masyarakat Indonesia dalam waktu singkat tersihir habis dan berbaris mengikutinya.  Mungkin banyak orang tidak mengenal latar belakang dari mana Vicky berguru.  Melihat dari cara bertuturnya, dia adalah Saparatosan, pengikut aliran saparatosanisme.

Vicky Prasetyo, mantan tunangan Zaskia Gotik, bisa jadi berguru pada Toni Blank, tokoh antagonis para intelektual yang dangkal pengetahuannya.  Toni Blank memberikan kuliah rutin dan tersusun sistematis melalui media Youtube. Peminat yang berkunjung untuk mengikuti diskursusnya bisa mencapai 70-an ribu orang. Memang presentasi Toni Blank tidak dapat dibandingkan dengan Ted Talks atau Ted Conference yang ditonton oleh lebih dari 500 an ribu orang.  Bisa dimengerti karena Ted Talks berbahasa Inggris sehingga konsumennya pun lebih luas.  Bukan berarti kualitas Toni Blank buruk.

Toni Blank Shows dikelola dengan tema-tema yang insipiratif seperti tentang Presiden, Wanita Indonesia, Sumpah Pemuda, Adil, Jujur, Tabung Gas dan Internet.  Pertama kali saya mengunjungi Toni Blank di Youtube, kekaguman melanda saya.  Maklumlah Toni berpenampilan sederhana dan sering kali seadanya, tidak menunjukkan intelektualitas.  Tetapi ketika angkat bicara, dengan nada rendah, pelan dan penuh tekanan, siapapun tidak pernah mengira bahwa di balik pribadi itu terpendam dobrakan dekonstruksionisme atas realita Indonesia.  Dia menjungkir balikkan tatanan definisi yang dimiliki dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.

Dalam shownya, Toni Blank sering menggunakan kalimat dari latar belakang scientis, psikologi, ekonomi, politis dan kultura dengan apik dan jitu. Politikus yang demen dengan istilah tinggi, menyitir kutipan tokoh, dan bermain dengan definisi kayangan, ditampar oleh Toni Blank yang tak kalah ahli dalam menata kata dan definisi ini.

Menilik siapa Toni Blank justru akan membuat mata terbelalak karena dia tinggal di sebuah rumah sakit jiwa. Kesakitannya ditangkap oleh beberapa mahasiswa dan direkam sebagai pengajaran bagi para politikus dan anak bangsa.  Toni Blank mengajarkan bahwa identitas diri kelas intelektual bukan ditentukan oleh kemahiran dalam kosakataisme dan bahasaisasi.

Saparatosan, sebutan saya untuk pengagum Toni Blank, menjamur. Artispun berkunjung untuk sejenak mendengarkan kebijaksanaan kritisnya.  Ada pula bule datang dan berkomunikasi dengan enak dan sepertinya nyambung antara Indonesianisasi dengan Inggrisme.

Apakah Vicky salah satu di antara mereka yang berguru pada Toni Blank? Bisa jadi saparatosanisme sekarang mengejawantah dalam diri Vicky yang dianggap oleh kebanyakan orang penganut klirumologi.  Melihat pernyataan Vicky menyikapi serangan dunia maya bisa jadi dia saparatosan. Dia mengatakan kalau alasannya menggunakan aliran bahasa ini berangkat dari prinsip Pancasila yang menempatkan perhormatan terhadap kemajemukan sebagai nilai yang agung.

Saparatos vicky…. selamat memasyarakatkan saparatosisme…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: