Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

I Ketut Mertamupu

Tercatat sebagai mahasiswa Universitas Hindu Indonesia. www.kompasiana.com/mertamupu.co.id Contact Person E-Mail: mertamupu1988@gmail.com selengkapnya

[Bukan] Gambar Porno

REP | 18 August 2013 | 16:14 Dibaca: 1649   Komentar: 10   4

13768167651370753185

Gambar Apakah Itu? (facebook.com)

Pertama melihat gambar tersebut, terlintas dalam pikiran adalah gambar yang dapat mengundang birahi dan memang tidak bisa dipungkiri bisa dikatakan gambar porno. Akan tetapi suatu obyek yang terlihat tergantung pada bagaimana sang pikiran merefleksikan ataupun menafsirkannya.

Mata dapat melihat sesuatu dikarenakan oleh pikiran. Mata tidak akan melihat apapun dengan jelas jika pikiran kosong dan tidak fokus. Pikiran itulah sesungguhnya yang menerima kesan dari panca indra” (Sarasamuccaya 82). Selanjutnya dinyatakan “Bagian-bagian tubuh lawan jenis bisa menimbulkan rasa hormat ataupun nafsu birahi, masing-masing persepsi yang berbeda muncul dari pikiran yan berbeda pula. Maka celakalah mereka yang memandang lawan jenisnya secara sesat dan penuh birahi” (Sarasamuccaya 83). Analoginya seperti ini “Seorang anak dan seorang ayah beda persepsinya jika melihat payudara si ibu. Demikianlah sesungguhnya benda yang sama terlihat berbeda akibat pikiran” (Sarasamuccaya 85).

Suatu obyek yang dilihat apabila dinilai dengan tergesa-gesa akan menimbulkan penafsiran  seperti apa adanya; seperti apa yang terlihat, seperti itu pula dinyatakan. Padahal kata bijak menyatakan “Dibalik yang terlihat, banyak hal tersembunyi”. Untuk mengetahui hal yang tersembunyi diperlukan kemampuan untuk menggali.

Dari gambar yang terlihat, ternyata terkandung nilai yang patut kita renungkan. Gambar tersebut bila dilihat dari arah terbalik, bukanlah gambar porno, melainkan gambar sosok wanita anggun.

Dari hal tersebut terkandung filosofi, bahwasanya sudah seyogianya suatu obyek maupun permasalahan dinilai dari berbagai sudut (pandangan). Jangan hanya dinilai dari satu sisi, bisa membawa celaka.

Kecendrungan masyarakat menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja, bahkan cenderung hanya menilai dari sisi negatif. Sehingga yang terlihat hanyalah kejelakan, bukan suatu keindahan. Sedangkan mereka-mereka yang cerdas, menilai suatu obyek maupun permasalahan dilihat dari berbagai sudut, sehingga yang terlihat bukan hanya kejelekan akan tetapi juga suatu keindahan. Supaya terjadi keseimbangan atas apa yang dihadapi maupun apa yang kita lihat. Untuk dapat menilai suatu dengan bijak, sudah seyogianya jangan terlalu cepat menilai sesuatu.

13768174971325800723

Sebelumnya Penangkal Jitu Anti Penipuan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 7 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 12 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: