Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arief Ms

sebatas orang biasa lee..baru-baru mengenal paham dan dewasa, sementara masih Mahasiswa Filsafat muslim lee.. @riefms selengkapnya

Pengalaman Beragama

OPINI | 04 August 2013 | 02:35 Dibaca: 299   Komentar: 0   0

Ketika ber-adu dengan keyakinan dan harapan, tidak sedikit orang memilih untuk siap bermenung sejenak, guna memikirkan perkara melalui perantara meditasi/dialog diri sebagai bagian dari proses pendakian untuk menjawab pertanyaan “Keyakinan”! . Tidak sedikit pula orang, ketika dihadappkan dengan beragam soal seperti, “mengapa berkeyakinan” dan “kenapa memilih keyakinan”, maka akan beragam pula macam jawaban yang menjadi patokan tiap-tiap mereka.

Kalaulah dari itu semua, kita bertanya pada mereka yang sama sekali ragu, meragukan, bahkan sama sekali tak yakin, apalagi membentengi diri dengan tidak beragama, maka itu merupakan sebuah pilihan yang tepat. Dan pula merupakan sebuah penjelasan yang tepat dari kondisi itu, untuk menjelaskan karena mereka memiliki jawaban ketika dipertemukan dengan pertanyaan demikian, “Mengapa anda ragu dengan agama, dsb, maka spontanitas yang tersusun kadang hadir dengan pernyataan : “karena kami belum pernah menemukan, bertemu, bahkan tersimpan “pengalaman religius” yang membekas. Olehnya, jawaban ini menyarankan perlunya pengalaman di bidang ini supaya orang dapat dikatakan beragama.



Menurut hemat penulis, Istilah “pengalaman” merupakan suatu tindakan dari pengetahuan yang lahir dari akibat, bukan semata-mata timbul karena pemikiran, imajinasi, ataupun khayalan melainkan akibat interaksi dari pergaulan pragtis dengan Dunia. Pergaulan itu tentunya bersifat langsung, intuitif, serta afektif yang menjadikan peran pemikiran, emosional dan naluri lebih berjalan pada dekade selanjutnya. Serta istilah “Dunia” mencakup baik orang maupun benda. Adapun ciri khas dari pengalaman itu sendiri adalah dapat berupa tekanan atau tuntutan.

Olehnya itu, dalam mengalami sesuatu, orang akan pertama-tama merasa “Kena” atau terkena sentuhan, bisa berupa “disentuh” maupun “tersentuh”  oleh suatu hal. Serta kemudian peran indera, afeksi (naluri) serta emosi akan memainkan faktor besar dalam pengalaman. Makanya, dari persoalan yang teradi itulah, mengapa emikian terdapat pula pada spektrum “Agama atau keyakinan”? dengan kata baru, bagaimana halnya dengan “pengalaman” di bidang Agama ?

Selebihnya, Indikasi agama yang termuat pada peradaban manusia tak lain membentuk gejala yang bersifat evolusi, bertahap dan continue, dikarenakan keberadaan manusia tidaklah lepas dari tuntutan zaman dan peradaban. Religiositas itu agaknya dipengaruhi oleh format kebudayaan. Pada kebudayaan kuno, keberadaan agama dianggap sebagai suatu yang biasa, timbul karena spontanitas dan memiliki karakteristik yang super vital. Suasana yang demikianlah yang membuka pintu kearah religionitas mereka. Lain halnya dengan kebudayaan modern saat ini, teristimewa mereka di barat, keberagamaan tidak dipandang lagi sebagai suatu yang ada dengan sendirinya. Religionitas dan khususnya “pengalaman religius” telah berubah menjadi soal.

Sebab, pengalaman beragama telah menjadi soal dimulai dari proses Rasionalisasi, timbul dari reaksi dam buah filsafat pada kebudayaan Yunani kuno. Yang berangkat dari setiap pengalaman, begitu pula pengalaman beragama tersangkut-paut dengan apa yang bersifat  irasional dalam diri manusia. “Irrasional”, merupakan segala yang tak bersinggungan dengan rasio, atau sekurang-kurangnya tidak atau belum (dapat) diolah diatas Rasio, seperti halnya bidang perasaan, khayalan, ataupun nafsu.

Bagi mereka, yang berasal dari kalangan kebudayaan kuno, Misteri ilahi menyatakan diri dalam gejala ekstase dan mimpi serta fenomen-fenomen serupa yang secara jelas menandai irasionalitas. namun, sejak berkembangnya filsafat, khususnya sejak Socrates, yang bermaksud dan mempunyai tujuan yang tak lain menyinari setiap irrasionalitas itu dengan pancaran rasio, guna menjelaskan hal yang sedemikian rupa dan mulailah awal proses Rasionalisasi. Hingga usaha rasionalisasi itu diteruskan dari filsafat kuno Yunani, Filsafat Kristiani, dan dikemudian hari dilanjutkan oleh Filsafat Islam.

Lalu, dengan berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan serta teknik pada zaman modern, prosedur rasionalisasi semakin dipercepat bahkan mengakibatkan ilmu pengetahuan dan teknik modern selalu mengawasi, mengintai bahkan mencurigai setiap yang tidak rasional itu dengan perumpamaan-perumpamaan ilmiah awal (Hipotesa). Serta pada zaman kontemporer, semakin condongnya untuk menganggap pendekatan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya rute pendakian menuju kebenaran.

Akan tetapi, terdesaknya pengalaman beragama karena proses rasionalisasi itu tidak berarti bahwa “pengalaman religius” itu sendiri hilang ataupun lenyap. Seandainya pengalaman itu sudah hilang ataupun lenyap, maka dewasa ini banyak kita yang tak akan memilih agama sebagai seuatu pegangan hidup. Perlunya pengalaman religius, dalam bentuk apapun, tak dapat disangkal.

Dilain pihak, terdengar pula dari mulut para mereka yang beriman sendiri bahwa pengalaman religius tidak dapat mencukupi untuk mempertanggung jawabkan keimanan mereka. apakah setelah mendapatkan “pengalaman religius” maka akan bertambah kuat imannya, ataukah berkat rasionalisasi menjadikan keimanan mereka berubah ?

Disisi lain, Pentingnya dimensi yang irasional itu amat digaris bawahi oleh Friedrich Schleiermacher (th 1768-1834). menurut beliau, Agama pada hakikatnya bukan pikiran, bukan perbuatan, melainkan Dominasi perasaan, yaitu rasa ketergantungan pada Yang-tak-terhingga. Yang mana menurut saya dari pendapat beliau adalah,  akibat dorongan perasaan yang sangat kuat dan ketergantungan  terhadap “Yang-tak-terhingga” itu mewujudkan tindakan-tindakan yang diwajibkan dalam agama, diejawantahkan pada perbuatan hingga masuk ke rongga-rongga pikiran orang yang percaya akan Agama.

Seiring paragraf diatas tersusun akbat reaksi penulis yang dinukilkan pada beragam referensi serta ketertarikan penulis akan, alam pemikiran Friedrich Schleiermacher, dan Dr. Nico Syukur Dister pada buku beliau yang berjudul pengantar Psikologi Agama. (Arf)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 7 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 9 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: