Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Zen Assegaf

"Love is my religion and love is my belief"

Islam Menolak Kehidupan Rahib

OPINI | 04 August 2013 | 17:30    Dibaca: 459   Komentar: 9   0

Islam adalah agama yang berlandaskan pada Tauhid yang disebut dalam quran sebagai kalimat thayyibah. Q.S Ibrahim ayat 24. Dimana dalam ayat itu Allah memberikan perumpaan sebagai pohon yang baik dengan tiga sifat utama.

1. Akarnya berpegang kuat di bumi.
2. Cabangnya menjulang hingga ke langit
3. Produktif dan selalu menghasilkan.

Ketiga sifat itu harus ada bersamaan pada setiap yang beriman. Islam menolak orang yang menyatakan keimanan tapi tidak produktif sebagai mukmin. Ya boleh saja dia disebut muslim, tapi tidak sebagai mukmin. islam sangat menekankan setiap muslim untuk terus beraktifitas yang produktif. “Maka kalau sdh selesai dari suatu kegiatan, maka ambillah kegiatan yang baru lagi” dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ” siapa yang memiliki air dan tanah tetapi lebih memilih untuk miskin dan menganggur, maka Allah menjauhkan orang itu dari Rahmat-Nya”.

Islam menolak kehidupan rahib yang hanya sibuk beribadat (ritual) dan meninggalkan aktifitas kehidupan yang lain. Seharusnya setiap mukmin harus menyadari bahwa Allah mewariskan bumi dan segala isinya ini bagi mereka, maka apabila mereka berkhianat dan maksiat dengan tidak mengelolanya secara baik maka Musuh-musuh Allahlah yang akan mengambil kesempatan itu. Dalam hadis qudsi disebutkan “Apabila hamba yang mengenalKu bermaksiat kepadaKu maka Aku jadikan mereka dikuasai oleh MusuhKu”

Zikir adalah salah satu kewajiban yang datang dari Allah. Tetapi zikir tidak boleh dibatasi hanya dengan mengucap tasbih, tahmid dan tahlil saja. Dalam sebuah hadis dari Imam Jakfar as disebutkan ” bahwa setiap kewajiban yang datang selalu memiliki batasan. Allah telah mewajibkan puasa, maka bagi siapa yang telah menunaikan maka itu adalah batas kewajibannya. Allah telah memerintahkan haji maka bagi siapa yang telah menunaikannya itulah batasan kewajibannya , tapi tidak dgn zikir, Allah tidak pernah memberikan batas atas kewajiban tersebut, Allah perintahkan manusia untuk melaksanakan zikir sebanyak mungkin. Tapi yang saya maksudkan bukan dengan mengucap subhanallah walhamdulillaj walaailaaha illah wallahu akbar, meskipun zikir berasal darinya. Tetapi berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang”

Maka sangat penting bagi muslim untuk keluar menuju kepada kedudukan sebagai mukmin dengan memenuhi tiga persyaratan yang disebut dalam Q.S Ibrahim.

Berhenti memikirkan kemiskinan sebagai kebajikan. Itu adalah keburukan yang umum. (Imam Ali)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Duh, Harga Ijazah Palsu Capai 45 Juta! …

Muhammad Armand | | 27 May 2015 | 10:02

Menelusuri Pesona Elegan Hutan Mangrove di …

Rakhmad Fadli | | 27 May 2015 | 11:18

Sekali Lagi tentang Beras Plastik …

Shalahuddin Ahmad | | 26 May 2015 | 22:21

Menilik Cara Kerja Antivirus & Tips …

Edy Susanto | | 27 May 2015 | 05:53

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:44


TRENDING ARTICLES

Apa Maunya KDI 2015? …

Hanisha Nugraha | 3 jam lalu

Ada Apa antara JK dengan La Nyala Matalitti? …

Abd. Ghofar Al Amin | 4 jam lalu

Mengapa Seorang Gunawan dari Pelosok Medan …

Gunawan | 8 jam lalu

KPK Kalah Praperadilan, Hadi Poernomo Jangan …

Pakde Kartono | 13 jam lalu

Tim Transisi Masih Aktif Bekerja, Kemenpora …

Himam Miladi | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: