Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Gatot Swandito

Yang kutahu, aku tidak tahu apa-apa

Jurus “Sun Tzhu” Ahok Bikin Jawara Tenabang Blingsatan

OPINI | 28 July 2013 | 21:24 Dibaca: 19161   Komentar: 114   38

Pertahanan terbaik adalah menyerang. Inilah “jurus” Sun Tzhu yang banyak diterapkan tim sepak bola modern. Jurus yang oleh Sun Tzhu dinamai Fan ke wei zhu (Membuat tuan rumah dan tamu bertukar tempat) nampaknya diadopsi oleh Ahok dalam komunikasi politiknya. Kata “komunis” pun sempat ia lontarkan kepada warga yang tinggal di sekitar waduk Pluit yang enggan pindah.

Serangan serupa pun dilancarkannya saat membenahi permasahan PKL Pasar Tanah Abang. Kepada media Ahok mengungkapkan adanya oknum DPRD yang “bermain” di Tanah Abang. Kali ini Ahok menyerang dengan jurus Do cao jing she (Menggebah rumput mengagetkan ular). Tak ayal lagi, sehari kemudian keluarlah “ular” yang terusik atas pernyataan Wakil Gubernur DKI itu.

Abrahan Lunggana, Wakil ketua DPRD DKI Jakarta yang juga menguasai bisnis pengamanan, penagihan dan, perparkiran di Tanah Abang merasa terusik dengan serangan Ahok tersebut. Ketua DPW PPP yang dikenal dengan nama Lulung ini kemudian meminta Ahok untuk memeriksakan kesehatan jiwanya.

“Kemarin Ahok bilang ada oknum DPRD di Pasar Tanah Abang. Sekarang saya bilang nih, Wakil Gubernur harus diperiksa kesehatan jiwanya karena ngomong-nya selalu sembarangan,” kata Lulung yang kelompaknya pernah mengalahkan penguasa Tanah Abang sebelumnya, Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing. Ucu sendiri dulu menyingkirkan penguasa Tanah Abang sebelumnya, Rosario Marshal alias Hercules, seorang pemuda asal Timor Timur.

Mendengar permintaan Lulung itu Ahok menangkisnya dengan jurus Jia chi bu dian (Berpura-pura bodoh padahal cerdik). Sambil terkekeh Ahok mengatakan ia sudah berkali-kali memeriksakan kesehatan jiwanya.

“Saya memang agak sakit jiwa, cuma pas diperiksa los, pas gitu loh ukurannya, hehehe,” kata pria kelahiran Manggar,Belitung Timur itu.

Dengan gaya komunikasi low context-nya Ahok seolah menempatkan dirinya sebagai sasaran kemarahan pemangku kepentingan. Sembari merendahkan dirinya, jurus lain pun disarangkan Ahok, Yu qin gu zong (Menangkap musuh dengan melepaskannya dari kail). Ahok mengorbankan dirinya menjadi sasaran caci maki dan kemaran, namun sesungguhnya ia telah memancing lebih banyak “ular” keluar dari persembunyiannya.

“Jadi, maunya apa? Maunya memang jualan di jalan. Maunya apa? Preman-preman mau dapat uang parkir liar. Persoalan itu kalau kita tertibkan, enggak ada lagi (aliran uang) ke parkir liar,” kata Ahok Jumat kemarin (26/7/2013).

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta tidak asal mengusir PKL. Ia memastikan bahwa Pemprov DKI menyediakan tempat yang layak untuk berjualan di Blok G Tanah Abang. Jembatan yang diinginkan PKL pun akan dibuat. Tak hanya itu, PKL dibebaskan dari cicilan dana bangunan selama enam bulan pertama.

“Jadi kan keterlaluan (kalau tetap nolak). (Pedagang lama) bisa iri lho, mereka bayar sewa 20 tahun. Ini kalian masuk enam bulan enggak bayar,” lanjutnya.

Pernyatan itulah yang kemudian memancing kemarahan PKL Tanah Abang. Mereka kemudian mendatangi Balai Kota Jakarta dan menantang Ahok untuk datang langsung ke Tanah Abang.

“Kami minta klarifikasi omongan Ahok (sapaan Basuki). Kami tidak mau disebut sebagai mafia. Kami tidak mau disebut preman. Ayo, Ahok, kalau berani datangi kita di Tanah Abang,” seru Iwan Landung, koordinator demonstrasi.

Kemarahan serupa pun dilontarkan oleh Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Hoiza Siregar. Hoza meminta Ahok tidak perlu bersikap terlalu keras terhadap PKL yang enggan dipindah ke Blok G, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Kalau mau keras-kerasan, jangan mentang-mentang ada kuasa. Ahok itu jangan mentang-mentang dipilih, semata-mata karena popularitas Jokowi,” kata Hoiza kepada Kompas.com, Minggu (28/7/2013).

Ada ajaran Sun Tzhu yang disebut Fu di chou xin (Mencuri kayu bakar dari bawah periuk). Sun Tzhu mengajarkan untuk untuk membasmi rumput liar, cabut akarnya ; membuat periuk berhenti mendidih, singkirkan bahan bakarnya. Dengan demikian, untuk menyelesaikan masalah PKL Tanah Abang Pemprov DKI harus menghilangkan praktek-praktek liar di sekitar pasar sandang terbesar di Asia Tenggara tersebut. Dan pihak yang melanggar peraturan harus mendapat ganjarannya. Sun Tzhu menjelaskan dengan kiasan menunjuk Murbei dan memaki Belalang (Zhi sang ma huai).

Jurus keras komunikasi Ahok ini mendapat sorotan dari Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia Effendi Gazali. Menurut Effendi, Ahok semestinya memberikan jeda dalam memberikan pernyataan-pernyataan keras karena hal itu dapat mengundang reaksi keras.

“Cara berkomunikasi Basuki yang low context itu tidak bisa dipakai terus-terusan, seperti menabuh genderang perang. Harus ada jedanya, nanti di mana perlu keras lagi,” Effendi.

Nah, apakah Ahok akan terus mengeluarkan jurus-jurus mautnya, atau akan menggunakan aji Lumpuh Lampah seperti yang dikuasai Raja Madangkara, Brama Kumbara dalam sandiwara radio Saur Sepuh?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 7 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 11 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: