Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sudhana Kalama

Seorang pemuda yang sedang berjuang untuk kehidupan spiritual yang lebih baik.

Perbandingan Surga & Neraka dalam Islam & Buddha - Bag. 1

OPINI | 23 July 2013 | 12:26 Dibaca: 3305   Komentar: 13   1

Penulis pernah ditanya apakah agama Buddha mengenal surga dan neraka? Saat itu ku jawab, “Lha kata surga dan neraka aja berasal dari agama Buddha dan Hindu, terutama agama Buddha yang lebih banyak menggunakan kata ini dalam kitab sucinya Tipitaka Pali maupun Tripitaka Sansekerta”. Kok bisa jawab teman saya itu. Karena memang saya lihat dia betul-betul pingin tau..ya aku jelaskan panjang lebar saat itu.

Kata “surga” dan “neraka”  yang digunakan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Pali & Sanskerta.  Kata surga berasal dari kata “sagga” (Pali) / “svarga” (Sanskerta) yang berarti “alam para dewa”, sedangkan kata neraka berasal dari kata “naraka/niraya” (pali) / “neraka/niraya” (Sanskerta) yang berarti “tanpa kebahagiaan”.

Dalam kosmologi agama Buddha dalam setiap 1 sistem alam semesta terdapat 31 alam kehidupan yang secara garis besar alam kehidupan dibagi menjadi 3 yaitu : A) Karmadhatu/Karmaloka;   B) Rupadhatu/Rupaloka;   dan   C) Arupadhatu/Arupaloka.

A)  Kammadhatu

Merupakan alam yang makhluknya masih diliputi oleh napsu duniawi, Kammadhatu terbagi dalam 2 alam dalam garis besarnya yaitu : 1). Alam Dugati (alam-alam menyedihkan) dan 2). Alam Sugati (alam-alam menyenangkan).

1).  Alam Dugati

(”du” = jahat, buruk, sengsara ;  “gati” = pergi, menuju ke) merupakan alam-alam menyedihkan, sering disebut juga dengan alam  Apayabhumi (”apaya” = tanpa kebajikan, kemerosotan ; “bhumi” = tempat berpijak, alam yang memiliki kehidupan) terdapat 4 alam dugati, yaitu :

1.1.  Naraka / Niraya (”naraka” = menyedihkan  / “nir” = tiada ; “aya” = kebajikan)

Yaitu alam yeng menyedihkan, penuh dengan kesengsaraan, tiada kebahagiaan sesaat pun disana. Mereka yang tidak memiliki kebajikan akan terlahir di alam ini. Neraka Terbagi dalam 2 alam, yakni Hina-naraka dan Maha-naraka yang masing-masing terdiri dari 8 tingkat, yaitu :

-) Hina-naraka (neraka kecil)

1)  Angarakasu-naraka (neraka yang dipenuhi oleh bara api)

2) Loharasa-naraka (neraka yang dipenuhi oleh besi mencair)

3) Kukkula-naraka (neraka yang dipenuhi oleh abu bara)

4) Aggisamohaka-naraka (neraka yang dipenuhi oleh air panas)

5) Lohakhumbi-naraka (neraka berupa panci tembaga)

6) Gutha-naraka (neraka yang dipenuhi oleh tahi membusuk)

7) Simpalivana-naraka (neraka berupa hutan pohon berduri)

8) Vettarani-naraka (neraka berupa air garam berisi duri rotan)

-) Maha-naraka (neraka besar), terdiri dari

1) Sanjiva-naraka (Makhluknya bertubi-tubi dibantai dengan pelbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat karma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Makhluk ini memiliki usia panjang 500 tahun naraka = 1.620 milyar tahun manusia)

2) Kalasutta-naraka (Makhluknya yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh manusia, bagi para bhiksu/calon bhiksu yang suka melanggar vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia 1000 tahun naraka = 12.960 milyar tahun manusia)

3) Sanghata-naraka (makhluknya dilindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia 2000 tahun naraka = 103.680 milyar tahun manusia)

4) Roruva-naraka (makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia 4000 tahun naraka = 829.440 milyar tahun manusia)

5) Maharoruva-naraka (Makhluknya diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orang tuanya sendiri atau barang milik suatu tempat suci kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia 8000 tahun naraka = 6.635.520 milyar tahun manusia)

6) Tapana-naraka (makhluknya dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, tempat ibadah, asrama dan sebagainya yang menyebabkan kematian banyak orang  kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia 16000 tahun naraka = 53.084.160 milyar tahun manusia)

7) Mahatapana-naraka (Makhluknya digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa tidak ada gunanya berbuat baik, yang memperlakukan buruk kedua orang tuanya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia tak terhitung)

8) Avici-naraka (Makhluknya direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau orang suci, atau memecah-belah komunitas para bhiksu niscaya akan terlahirkan di alam ini. Panjang usia tak terhitung)

1.2. Tiracchanayoni (Alam Binatang) alam binatang tidak memiliki alam sendiri mereka bersama-sama tinggal dengan alam manusia.

1.3.  Alam Peta

Makhluk  yang memiliki bentuk tubuh yang cacat yang besarnya bermacam-macam, pada umumnya tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka tidak memiliki alam sendiri, tetapi tinggal di hutan-hutan, gunung, tebing, sungai, laut, lingkungan yang kotor, didalam rumah-rumah kosong, dan lain-lain. Tidak seperti makhluk neraka yang tersiksa setiap saat, makhluk-makhluk peta biasanya menderita karena rasa lapar, haus, kekurangan, tidak tercapai keinginannya dll.

Beberapa makhluk peta ada yang memiliki kemampuan merubah dirinya menjadi seorang manusia, pertapa, dewa/dewi, binatang, kadang menampakkan diri secara samar-samar. Banyak sekali ulasan mengenai makhluk peta ini dalam kitab suci Tipitaka/Tripitaka, misalkan dalam kitab Petavathu yang membahas makhluk-makhluk peta ini secara terperinci, dijelaskan terdapat berbagai macam makhluk peta, antara lain :

1. Peta yang hanya bertulang tanpa daging

2. Peta yang hanya berdaging tanpa tulang

3. Peta yang berdaging benjol

4. Peta yang tak berkulit

5. Peta yang berbulu seperti pisau

6. Peta yang berbulu seperti tombak

7. Peta yang berbulu seperti anak panah

8. Peta yang berbulu seperti jarum

9. Peta yang berbulu seperti jarum jenis kedua

10. Peta yang berpelir besar

11. Peta yang terbenam dalam tahi

12. Peta yang makan tahi

13. Peta yang berjenis betina tanpa kulit

14. Peta yang berbau busuk

15. Peta yang bertubuh bara api

16. Peta yang tak berkepala

17. Peta yang berperawakan seperti bhiksu

18. Peta yang berperawakan seperti bhiksuni

19. Peta yang berperawakan seperti calon bhiksuni

20. Peta yang berperawakan seperti samanera

21. Peta yang berperawakan seperti samaneri

22. Peta yang makan ludah, dahak dan muntahan

23. Peta yang makan mayat manusia atau binatang

24. Peta yang berlidah api

25. Peta yang bermulut sekecil lubang jarum

26. Peta yang terdorong keinginan tiada habis

27. Peta yang bertubuh hitam pekat

28. Peta yang berkuku panjang dan runcing

29. Peta yang bertubuh sangat besar

30. Peta yang bertubuh seperti ular piton

31. Peta yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari

32. Peta yang memiliki kesaktian

1.3.  Alam Asura (”a” = tiada ;  “sura” = cemerlang/germelapan; dlm bhs Sanskerta juga diartikan minuman yg sangat memabukan)

Makhluk Asura kadang disebut sebagai “pubbadeva” karena sebelumnya pernah tinggal di alam dewa (surga) hingga terjadi peperangan antara Asura dan para pengikutnya melawan Dewa Sakka (pemimpin alam dewa/surga) kekalahan terjadi pada pihak Asura yang menyebabkan kaum Asura terusir dari surga. Makhluk ini suka menebarkan peperangan kepada para dewa (makhluk surgawi). Terdapat cerita yang hampir mirip dengan kisah LUCIFER dalam agama Kristen dimana Lucifer beserta pengikutnya terusir dari surga setelah kalah perang melawan Tuhan dan malaikatnya.

Secara garis besar terdapat 3 jenis makhluk Asura, yaitu : 1) Asura berupa dewa (deva-asura); 2) Asura berupa peta (peti-asura); 3) Asura berupa penghuni neraka (niraya-asura). Makhluk Asura sering digambarkan sebagai raksasa yang gemar mengganggu manusia dibandingkan dengan makhluk peta. (cerita-cerita makhluk Asura ini banyak juga dipahatkan pada relief di dinding candi Borobudur - tunggu tulisan saya tentang cerita-cerita makhluk Asura yang ternyata banyak menggugah kesadaran kita akan kehidupan ini).

2).  Alam Sugati (”su” = senang, bahagia — alam menyenangkan)

Terdapat 7 alam sugati, yaitu satu alam manusia dan 6 alam dewa (surga).

2.1  Alam MANUSSA — Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir dialam manusia karena memegang teguh moralitas, yaitu melaksanakan PANCASILA yang dalam falsafah Jawa disebut Ma-Lima (baca: mo-limo): 1) Tidak Membunuh; 2) Tidak Mencuri; 3) Tidak Madon (sek yang menyimpang); 4) Tidak Memfitnah (berbohong); dan 5) Tidak Madat/Minum (konsumsi narkoba & mabuk-mabukan).

2.2  Alam Sagga/Svarga/Alam Para Deva-Devi (Surga)

Mereka yang terlahir di alam surga ini disebut juga “uppatideva” yaitu makhluk surgawi yang menikmati kenikmatan inderawi. Disebut alam para Dewa-Dewi karena mereka yang terlahir di surga disebut Dewa dan Dewi. Terdapat 6 alam surga, yaitu :

1) Surga Catumaharajika

Surga paling rendah, Dalam Kitab Lokiyapakarattha disebutkan bawah surga ini berada dalam kekuasaan empat raja-dewa yaitu : Indra, Yama, Varuttha dan Kuvera. Mereka yang terlahir di surga ini akan menjadi pengikut dari salah satu raja-dewa tersebut. Empat raja langit ini serta beberapa dewa lainnya mempunyai istana (vimana) khusus bagi diri mereka masing-masing. Bagi yang tak mempunyai istana secara khusus, maka sungai, danau, lautan, gunung dan pohon yang ditinggali itulah istana bagi mereka. Beberapa jenis dewa-dewi catumaharajika ini antara lain : 1) Gandhabbo/Gandhabbi: umumnya tinggal dipohon-pohon yang berbau harum, oleh orang-orang Jawa disebut “GANDARUWA”/”GENDERUWA”. Meskipun pohon tempat tinggalnya ditebang, ia masih tetap mengikuti ke mana pohon itu dipindahkan tidak seperti dewa-dewi lainnya, yang akan mengungsi ke pohon lain yang masih hidup; 2) Kumbhanno/Kumbhanni: dewa-dewi penjaga harta pusaka, hutan, dan sebagainya; 3) Nago/Nagi: dewa-dewi berbentuk naga yang memiliki kesaktian, yang mampu menyalin rupa dalam wujud makhluk lain seperti manusia, binatang dan sebagainya; 4) Yakkho/Yakkhini: dewa-dewi berbentuk raksasa yang gemar menganiaya para penghuni neraka. Panjang usia makhluk yang hidup di surga catumaharajika ini 50 tahun svarga = 9 juta tahun manusia.

2)  Surga Tavatimsa

Merupakan surga tingkat kedua. Nama Tavatimsa diberikan terkait dengan sejarah 33 relawan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang dipimpin oleh Magha (nama lain dari Dewa Sakka) yang berhasil mengusir para Asura dari surga ini, karena para Asura ini sering membuat onar di surga dan suka mengganggu para dewa-dewi lainnya. Surga Tavatimsa ini berada di angkasa di atas puncak gunung himalaya.

Pada masa Vassa ke-7 Buddha Gotama mengajarkan Abhidhamma di surga Tavatimsa ini kepada semua dewa dari 10.000 alam semesta (alam semesta tidak hanya alam semesta ini saja, masih terdapat bertriliun-triliun alam semesta lainya dimana disana juga ada alam kehidupannya masing-masing - Ananda Sutta)(tunggu tulisan saya mengenai semesta-semesta lainnya menurut ajaran Buddha). Panjang usia makhuk yang hidup di surga Tavatimsa ini 1000 tahun surgawi = 36 juta tahun manusia.

3) Surga Yama

Merupakan surga tingkat ketiga. Surga ini menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam surga ini ialah Deva Suyama. Alam ini berada di angkasa namun tidak berhubungan dengan planet bhumi. Tubuh para dewa-dewi di alam surga Yama ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tavatimsa. Panjang usia makhluknya 2000 tahun surgawi = 200 juta tahun manusia.

4)  Surga Tusita

Merupakan surga tingkat keempat. Tusita berarti penuh kesenangan/kenikmatan. Semua Bodhisattva sebelum turun ke bhumi untuk menjadi Buddha terlahir di surga Tusita ini. Saat ini yang bertahta di surga Tusita adalah Bodhisattva Maitreya, hingga pada saatnya Beliau akan turun ke bhumi untuk menjadi Buddha ketika ajaran Buddha Gotama telah punah (tidak dikenal lagi oleh manusia dan dewa). Ibunda Buddha Gotama yakni Ratu Maya terlahir di surga Tusita. Panjang usia makhluknya 4000 tahun surgawi = 576 juta tahun manusia.

5)  Surga Nimmanarati

Merupakan surga tingkat kelima. Nimmanarati secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang Senang dalam Istana yang Diciptakan”. Para dewa di alam ini hidup dengan penuh kesenangan-kesenangan didalam istana yang mereka ciptakan sendiri. Bagaikan para bangsawan dan para saudagar di alam manusia, mereka hidup “mewah”, berkecukupan, berkelimpahan, mempunyai pasangannya masing-masing, para pembantu, pelayan dan pengikut. Panjang usia makhluknya 8000 tahun surgawi = 2304 juta tahun manusia.

6)  Surga Paranimmitavatti

Merupakan surga tingkat ke-enam. Makhluk surga ini tinggal dan hidup dengan memanfaatkan ciptaan-ciptaan dari deva-devi lainnya yang bermanfaat untuk tujuan-tujuan mereka sendiri. Panjang usianya 16000 tahun surgawi = 9216 juta tahun manusia.

Jika kita telaah dan kita kaji penjelasan alam neraka dan alam surga menurut ajaran agama samawi terutama agama Islam, surga disebut dalam bahasa arab dengan istilah “Al Jannah” yang berarti kebun/taman dan terdapat 7 tingkatan surga, dimana surga merupakan tempat para manusia yang beramal-soleh, bajik, kelak akan terlahir, yang digambarkan seorang laki-laki akan mendapatkan hak bidadari-bidadari cantik sebagai istrinya, dan adanya aliran sungai yang dialiri air susu, taman dan kebun yang indah bahkan terdapat minuman anggur yang lezatnya tiada tara yang disebut sura (lihat penjelasan makhluk Asura). Sedangkan neraka tempat untuk menyiksa orang-orang yang jahat disebut “naar” yang berarti api yang menyala dan terdapat 7 tingkatan “naar”.

Hampir mirip gambaran surga dan neraka dalam agama Buddha dan Islam, bedanya dalam agama Buddha makhluk-makluk yang terlahir di alam neraka, alam binatang, alam peta, alam asura, alam manusia, alam surga, 16 alam brahma rupaloka maupun 4 alam brahma arupaloka (alam Rupa-loka & alam Arupa-loka akan saya tuliskan pada bagian ke-2) tunduk pada hukum kematian yang berarti mereka tidak hidup kekal selamanya di alam-alam tersebut.  Jika karma yang mengakibatkan untuk terlahir di salah satu alam tersebut habis atau karena batas usia untuk hidup di alam tersebut habis maka kita akan terlahir kembali ke alam sesuai dengan tumpukan buah karma yang pernah kita lakukan dalam pengembaraan tumimbal-lahir hidup ini.

Selain itu untuk terlahir ke alam surga cukup dengan mengembangkan moralitas yang baik, dan ini tidak ada hubungannya dengan percaya sama Tuhan, Buddha, atau Dewa. Meskipun mengaku beragama Buddha dan sering ke vihara tetapi memiliki moralitas yang buruk, alih-alih masuk surga justru mereka akan terlahir ke alam “dugati/apayabhumi” yaitu alam-alam menyedihkan. Sebaliknya biarpun tidak mengakui Buddha bahkan seorang ateis tetapi memiliki moralitas yang tinggi bahkan mampu mengembangkan meditasi mencapai jhana, dia akan terlahir ke alam brahma, alam yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan surga. Sekilas saja untuk terlahir ke alam brahma moralitas saja tidak cukup mereka yang ingin terlahir ke alam brahma harus mengembangkan meditasi hingga mencapai jhana, makhluk-makhluk brahma tidak berwujud seperti manusia tetapi mereka berwujud bagaikan sebuah titik cahaya yang sangat cemerlang sekali dan tidak ada kesenangan inderawi di alam brahma.

Enam alam Deva (surga) ini adalah tempat tinggal sementara yang penuh kebahagiaan dimana para makhluk tampaknya hidup menikmati kesenangan indrianya yang sesungguhnya cepat berlalu. Jika ada manusia yang terlahir di alam dewa ini dalam pangkuan seorang dewa atau dewi tertentu, maka dia akan menjadi anak dari dewa atau dewi tersebut. Para dewa atau dewi lahir secara spontan, dengan usia berkisar antara 16 tahun, dan selama mereka hidup di alam surgawi tersebut memiliki rupa yang tampan atau cantik sekali. Jika ada manusia yang terlahir di sebuah istana dewa atau dewi tertentu, bukan di pangkuan sesosok dewa atau dewi yang berkuasa tersebut, maka ia akan menjadi pelayan Sang Dewa atau Dewi tersebut.

Dalam agama Buddha setiap 1 sistem alam semesta terdapat 31 alam kehidupan (4 alam dugati, 7 alam sugati, 16 alam brahma rupaloka dan 4 alam brahma arupaloka) namun kesemua alam itu bukanlah tujuan utama umat Buddha. Tujuan utama umat Buddha adalah Nibbana/Nirvana diluar dari 31 alam tersebut, lantas apakah nibbana/nirvana sebuah alam juga. Nibbana/nirvana bukanlah sebuah alam tak ada bahasa apapun yang mempu menggambarkan nibbana, karena itu orang jawa tidak berharap masuk surga tetapi “manunggaling kawula gusti”, “kahanan sejatining iku seje surgo”.

Bersambung ke Perbandingan Surga & Neraka dalam Islam & Buddha - Bag. 2

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 11 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 19 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: