Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Alit Jamaludin

biasa and santai sajalah.....

Puasa; Membentuk Kesalehan Pribadi dan Sosial

OPINI | 15 July 2013 | 10:26 Dibaca: 310   Komentar: 0   1

Dalam kalender kehidupan umat Islam, ibadah atau ritualitas puasa merupakan ibadah/ritual yang paling lama memakan waktu, dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Selama menjalankan ibadah/ritual puasa, manusia Muslim memperoleh beberapa pengalaman moral yang langsung terkait dengan mengasah kepekaan dan kepedulian sosial serta memupuk rasa solidaritas sosial-kemanusiaan. Sedemikian dalamnya, sehingga Allah SWT menjanjikan ampunan dosa bagi yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan memperhitungkan moralitas dari ritual puasa. (Ghufira ma taqaddama min dhanbihi wa ma ta’akhkhara).
Hikmah terbesar yang dapat dipetik dari ibadah puasa adalah terbentuknya kemampuan seseorang baik dalam kapasitasnya sebagai individu, kepala keluarga, maupun sebagai pimpinan organisasi sosial-keagamaan, organisasi sosial-politik dan lain-lain untuk dapat mengendalikan “kepentingan” individu dan kelompok, untuk mengontrol dan mengerem laju tarikan hawa nafsu yang membakar emosi komunalitas di luar batas-batas kewajaran dan destruktif. Dalam 29 hari, umat Islam dilatih secara sungguh-sungguh, untuk dapat mengontrol diri sendiri dan mengendalikan nafsu dengan cara mencegah makan dan minum dari saat imsak sampai terbenamnya matahari. Sayang, kebanyakan orang hanya memahaminya sampai pada batas aturan fikih yang mengatur sah atau tidaknya ibadah puasa. Tidak lebih dari itu. Dan itulah yang dikritik oleh Nabi Muhammad SAW.
Agama Islam sesungguhnya mempunyai cara pandang atau falsafah yang unik di sini. Lagi-lagi, sayangnya cara pandang ini sering dilupakan sehingga tidak bermakna lagi. Tidak selamanya, kebutuhan makan-minum yang halal harus dipenuhi begitu saja, lewat tradisi yang biasa berjalan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut pandangan Islam, rutinitas makan dan minum lebih-lebih yang mengandung kalori tinggi, sekali waktu perlu dicegah dan dihindari supaya orang sadar benar tentang “hakekat” hidup yang sesungguhnya. Islam selalu mengajarkan bahwa orang tidak perlu harus selalu “terjebak”, “terbelenggu”, “diperbudak” oleh rutinitas kegiatan makan dan minum yang terjadwal. Manusia sekarang, tanpa disadari sering terjebak pada budaya konsumtif. Lewat ritual/puasa, Islam mengajarkan bahwa orang tidak harus “terbelenggu” dan “terjebak” oleh rutinitas hukum pasar dan rutinitas hukum ekonomi. Sekali waktu, orang harus dapat mengambil jarak, distantiasi, menahan diri, bersikap kritis, dan keluar dari “kebiasaan rutin” dari tradisi budaya konsumerisme-hedonisme yang selalu ditawarkan oleh pasar.
Orang yang menjalankan ibadah puasa dilatih dan dibiasakan untuk bersikap “kritis” dan ”jeli” dalam melihat semua fenomena kehidupan yang sedang berjalan dan sedang terjadi dalam masyarakat luas. Seseorang dilatih kritis dan introspektif terhadap diri sendiri, kritis terhadap orang lain, teman, seagama, penyelenggara negara, lingkungan dan budaya sekitar pada umumnya.
Generasi muda dan generasi tua bangsa Indonesia sekarang ini sedang dirundung oleh berbagai kerusakan moral. Penyalahgunaan Narkoba (Narkotika, sabu-sabu, minuman oplosan, dan obat-obat terlarang) sedang menjamur diberbagai kota besar, sedang generasi tuanya dihinggapi penyakit KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang sangat kronis. Kedua penomena sosial tersebut, tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa “ketahanan mental”, ”etos sosial” dan kekuatan moral bangsa Indonesia, memang sangat rapuh, lemah dan tak berdaya. Dalam pergaulan sehari-hari, manusia Muslim tidak lagi mempunyai daya tangkal dan nalar kritis, terhadap lingkungan. Pendidikan dan ajaran-ajaran agama yang terlalu dipahami secara formal-tekstual-lahiriyah, tetapi kurang dikaitkan dan didalami dengan “jiwa”, “makna”, “nilai” dan “spirit” moral-sosial terdalam dari ajaran-ajaran agama Islam, rupanya berakibat pada tatanan kehidupan sosial yang rapuh.
Sikap “kritis” dan “mengambil jarak”, distantiasi dari belenggu dan jebakan rutinitas makan-minum dalam kehidupan sehari-hari begitu mendalam ditanamkan oleh ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dari sini, seluruh warga Muslim bersama masyarakat dan seluruh aparat pemerintah diharapkan dapat mengkristalisasikan nilai dan mengambil sikap bersama untuk menanggulangi dan membasmi penyakit mental dan moral yang sedang melilit bangsa yang mengakibatkan krisis multidimensi di tanah air.
Falsafah peribadatan Islam, khususnya yang terkait dengan ibadah puasa, menegaskan perlunya dilakukan “turun mesin” (overhauling) kejiwaan, selama 29 hari dalam satu tahun. “Turun mesin” adalah merupakan proses meneliti, memeriksa onderdil dan hal-hal yang rusak dan aus, mengencangkan skrup yang kendor, mengganti alat-alat yang rusak, mengoreksi dan memperbaiki secara total. Pada saat turun mesin, tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Semua harus transparan, rela diperiksa, dikoreksi, dan diperbaiki. Semua peralatan dibongkar, dicek dan diperiksa satu persatu dan kemudian dilakukan perbaikan alat-alat yang rusak, penggantian oli, pengecekan kelayakan rem, pemeriksaan sistem lighting dan begitu seterusnya. Koreksi total ini dibutuhkan untuk menjamin kelancaran dan keselamatan kendaraan itu sendiri dalam menjalankan tugas untuk waktu-waktu berikutnya.
Ibadah puasa ibarat proses “turun mesin” kejiwaan manusia Muslim, selama satu tahun sekali. Kesediaan untuk melakukan koreksi, introspeksi, kritik, memupuk semangat perbaikan, selalu tercermin dalam menjalankan ibadah puasa. Pengendalian hawa nafsu, pengendalian diri dan jiwa berkorban pada umumnya seperti diungkap diatas, sebenarnya, tidak hanya terfokus pada kehidupan individu. Dataran individu ini pada saatnya, perlu dikaitkan dan diangkat ke level kehidupan sosial dan kepentingan publik. Dimensi ibadah sosial puasa meminta lembaga-lembaga sosial-kemasyarakatan, lembaga-lembaga sosial-keagamaan dan lembaga-lembaga negara untuk tetap selalu menghidupkan semangat social introspection, social critics, social auditing dan social control. Semuanya mengarah kepada penguatan kehidupan kesalehan publik yang lebih nyata dan meluas.
Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah selalu menekankan aspek kepedulian sosial. Makna tazkiyatu al-nafs (penyucian diri), sekarang ini tidak lagi bisa dipahami seperti orang-orang terdahulu memahaminya, yakni dengan cara menarik diri dari pergumulan dan pergulatan sosial-kemasyarakatan. Makna “tazkiyatu al nafs” era kontemporer, sangat terkait dengan keberadaan orang lain, lingkungan hidup, lingkungan sosial sekitar. Zakat, sebagai contoh, selalu terkait dengan keberadaan orang lain. Sesungguhnya, penyucian diri pribadi, ritus-ritus individual, yang tidak punya dampak dan makna sosial, sama sekali-kurang begitu bermakna dalam struktur bangunan pengalaman keagamaan Islam yang otentik.
Dengan lain ungkapan bahwa kesalehan pribadi sangat terkait erat dengan kesalehan sosial. Krisis lingkungan hidup di tanah air adalah cermin dari krisis kepekaan dan kepedulian sosial. Ada korelasi positif antara krisis sosial dan krisis ekonomi. Dampak krisis ekonomi terhadap kehidupan rakyat kecil cukup signifikan, khususnya yang terkait dengan “pendidikan” anak-anak mereka. Gerakan orang tua asuh, rumah singgah, kesetiakawanan sosial, solidaritas sosial perlu terus dipupuk, didorong dan didukung oleh semua pihak. Ada kecenderungan tidak begitu nyaman di tanah air di era reformasi, yaitu menjelmanya gerakan sosial-keagamaan menjadi gerakan sosial-politik. Bahkan ada beberapa ormas agama yang melakukan ”kekerasan” dalam masyarakat, dengan menggunakan dalil-dalil agama. Perlu kesadaran baru dan upaya-upaya yang lebih serius yang dapat menggiring gerakan sosial-keagamaan ke porosnya semula, yaitu gerakan sosial-kemasyarakatan agama yang lebih peduli (care society) terhadap isu-isu lingkungan hidup, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya.
Sejauh manakah ibadah puasa yang dilakukan selama 29 hari berdampak positif dalam membentuk kesalehan pribadi dan memperkokoh kesalehan sosial? Sejauh mana nuansa pemikiran kritis terhadap lingkungan dapat ditumbuh-kembangkan untuk mengurangi gap yang terlalu jauh dalam antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial? Jika memang belum ada atau masih sedikit dampaknya, barangkali memang benar sinyalemen Nabi bahwa banyak orang berpuasa, tetapi mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, lantaran intisari dan hikmah puasa belum mampu menyentuh kesadaran paling dalam umat dan belum mampu pula membentuk sosok pribadi manusia beragama/ beriman yang matang, utuh, tangguh, yang dapat mempertautkan kesalehan individu dan kesalehan sosial dalam kehidupan luas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 10 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: