Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ceramah Sholat Tarawih Nan Mengesankan

OPINI | 12 July 2013 | 21:42 Dibaca: 1297   Komentar: 2   1

Malam ini adalah sholat tarawih yang ke empat bagi umat Muslim yang mulai berpuasa Rabu, 10 Juli kemaren. Di kampung kami, Kp.Sidodadi-Kijang pun begitu. Prosesi Sholat Tarawih seperti biasanya dimulai sehabis sholat Isya. Jamaah lumayan ramai di sepuluh malam pertama ini. Entah nanti di sepuluh malam pertengahan dan terakhir, biasanya sih ada kemajuan. Maksudnya shaf nya yang maju.

Di malam ke empat ini, setelah sholat Isya berjamaah diadakan terlebih dahulu ceramah agama oleh berbagai ustad yang sudah terjadwal.  Malam ini yang tampil adalah seorang ustadzah yang cantik, mahasiswi fakultas matematika yang sedang liburan. Tema yang diambilpun bukan yang berat-berat seperti ustad kemaren yang berapi-api menyalahkan sholat sunat taraweh yang dikerjakan hanya delapan rakat ditambah witir tiga rakaat, yang benar katanya adalah yang dua puluh rakaat ditambah witir tiga rakaat. Padahal dikampung kami sudah biasa mengerjakan yang delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat, alhasil sholat tarawihpun tetap dilaksakan delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Sang Ustad belakangan diketahui selesai sholat sunat tarawh delapan rakaat duluan keluar. Entah malu atau mungkin merasa tidak dihargai.

Kembali, ke ceramag ustadzah cantik tadi. Tema yang diambil adalah Pesan Allah SWT dibalik ilmu hitung. Ustadzah ini mengingatkan jamaah tentang hukum ilmu hitung perkalian. Bila positif kita kalikan dengan positif maka hasilnya adalah positif. Bila negatif kita kalikan dengan positif atau sebaliknya positif kita kalikan dengan negatif maka hasilnya tetap negatif. Lalu bila kita kalikan negatif dengan negatif maka hasilnya adalah positif.

Beliau menjelaskan hukum itu bukan sembarang hukum ada pesan Tuhan dibalik itu. Kita analogikan Positif itu adalah benar, dan negatif itu adalah salah. Alhasil jika kita mengatakan yang benar itu benar maka hasilnya adalah benar. Namun jika kita mengatakan salah sesuatu yang benar, atau mengatakan benar sesuatu yang salah maka itu adalah tindakan yang salah. Sedangkan jika kita mengatakan salah sesuatu yang salah maka itu adalah tindakan yang benar.

Penulis mengangguk-angguk sendiri.  Ustadzah ini benar, penulis tidak pernah berpikir sampai kesana. Memang penulis banyak membaca tentang keajaiban hukum matematika, tapi yang ini baru kali ini penulis ketahui. Luar biasa! Andai hukum perkalian ini diterapkan dalam kehidupan maka tidak akan ada tipu-tipu.

Sepakat dengan pesan penutup dari ustadzah tersebut bahwa seberapa hebat kita membenarkan sesuatu yang jelas salah, atau menyalahkan sesuatu yang jelas benar maka kesalahan itu kelak pasti akan dinampakkan kepada kita. Karena itu sudah menjadi hukum alam. Seberapa pandai kita menyimpan kebusukan, berpura-pura baik, alim, suatu saat pun akan dinampakkan juga perangai atau laku kita yang sebenarnya. Maka perbanyaklah istigfar dan segeralah bertobat. Agar kita tidak menaggung malu oleh kebohongan yang sengaja kita tutupi. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa Bahaya Makan Beras Plastik bagi Tubuh? …

Wahyu Triasmara | | 22 May 2015 | 18:51

Etika Presiden Jokowi ketika Naik-turun …

Ashwin Pulungan | | 22 May 2015 | 16:19

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

10 Jam Wisata Kuliner Kecil di Kota Bandung …

Khristian Dominico | | 22 May 2015 | 21:02

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13


TRENDING ARTICLES

Babak Baru Kisruh PSSI vs Menpora: La Nyalla …

Agus Oloan | 6 jam lalu

Inilah Ujian Akhir Pemerintahan Jokowi …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Tenggelamkan Kapal Tiongkok? Siapa Takut! …

Wasiat Kumbakarna | 12 jam lalu

Pak Jokowi Buat Apa Bangun Rel Kereta di …

Gunawan | 13 jam lalu

Gila! Iklan Obat Aborsi Disertai Testimoni …

Riana Dewie | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: