Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ceramah Sholat Tarawih Nan Mengesankan

OPINI | 12 July 2013 | 21:42 Dibaca: 1295   Komentar: 2   1

Malam ini adalah sholat tarawih yang ke empat bagi umat Muslim yang mulai berpuasa Rabu, 10 Juli kemaren. Di kampung kami, Kp.Sidodadi-Kijang pun begitu. Prosesi Sholat Tarawih seperti biasanya dimulai sehabis sholat Isya. Jamaah lumayan ramai di sepuluh malam pertama ini. Entah nanti di sepuluh malam pertengahan dan terakhir, biasanya sih ada kemajuan. Maksudnya shaf nya yang maju.

Di malam ke empat ini, setelah sholat Isya berjamaah diadakan terlebih dahulu ceramah agama oleh berbagai ustad yang sudah terjadwal.  Malam ini yang tampil adalah seorang ustadzah yang cantik, mahasiswi fakultas matematika yang sedang liburan. Tema yang diambilpun bukan yang berat-berat seperti ustad kemaren yang berapi-api menyalahkan sholat sunat taraweh yang dikerjakan hanya delapan rakat ditambah witir tiga rakaat, yang benar katanya adalah yang dua puluh rakaat ditambah witir tiga rakaat. Padahal dikampung kami sudah biasa mengerjakan yang delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat, alhasil sholat tarawihpun tetap dilaksakan delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Sang Ustad belakangan diketahui selesai sholat sunat tarawh delapan rakaat duluan keluar. Entah malu atau mungkin merasa tidak dihargai.

Kembali, ke ceramag ustadzah cantik tadi. Tema yang diambil adalah Pesan Allah SWT dibalik ilmu hitung. Ustadzah ini mengingatkan jamaah tentang hukum ilmu hitung perkalian. Bila positif kita kalikan dengan positif maka hasilnya adalah positif. Bila negatif kita kalikan dengan positif atau sebaliknya positif kita kalikan dengan negatif maka hasilnya tetap negatif. Lalu bila kita kalikan negatif dengan negatif maka hasilnya adalah positif.

Beliau menjelaskan hukum itu bukan sembarang hukum ada pesan Tuhan dibalik itu. Kita analogikan Positif itu adalah benar, dan negatif itu adalah salah. Alhasil jika kita mengatakan yang benar itu benar maka hasilnya adalah benar. Namun jika kita mengatakan salah sesuatu yang benar, atau mengatakan benar sesuatu yang salah maka itu adalah tindakan yang salah. Sedangkan jika kita mengatakan salah sesuatu yang salah maka itu adalah tindakan yang benar.

Penulis mengangguk-angguk sendiri.  Ustadzah ini benar, penulis tidak pernah berpikir sampai kesana. Memang penulis banyak membaca tentang keajaiban hukum matematika, tapi yang ini baru kali ini penulis ketahui. Luar biasa! Andai hukum perkalian ini diterapkan dalam kehidupan maka tidak akan ada tipu-tipu.

Sepakat dengan pesan penutup dari ustadzah tersebut bahwa seberapa hebat kita membenarkan sesuatu yang jelas salah, atau menyalahkan sesuatu yang jelas benar maka kesalahan itu kelak pasti akan dinampakkan kepada kita. Karena itu sudah menjadi hukum alam. Seberapa pandai kita menyimpan kebusukan, berpura-pura baik, alim, suatu saat pun akan dinampakkan juga perangai atau laku kita yang sebenarnya. Maka perbanyaklah istigfar dan segeralah bertobat. Agar kita tidak menaggung malu oleh kebohongan yang sengaja kita tutupi. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 10 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: