Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Agung Webe

Agung Webe telah menulis 15 buku motivasi dan pengembangan diri. Melalui Training & Seminar pemberdayaan selengkapnya

Panggilan Cinta

OPINI | 09 July 2013 | 12:10 Dibaca: 284   Komentar: 0   1

Hayya atau nama facebooknya adalah: ‘Bendot Van Kopen’ adalah sahabat saya yang mempunyai tulisan yang luar biasa! Saya menaruhnya kembali tulisannya disini agar lebih banyak orang dapat menikmati karya-karya tulisnya yang luar biasa ini!

Silahkan menikmati tulisannya yang sarat akan makna hidup ini:

———————————————————————————-

PANGGILAN CINTA

Hawa yang semilir di ruang pendopo itu memang terasa sejuk dan menentramkan. Sehingga sebeberapa lama pun orang akan tetap nyaman bertahan berada diruangan itu. Seperti hal nya jelang sore itu, beberapa tamu tengah berbincang bincang dengan sang pemilik rumah. Dan aku termasuk diantara dua belas tamu yang berkunjung saat itu. Keberadaan ku disana bersama kedua belas orang disana tidak lah satu kepentingan dan beda alasan. Keberadaan mereka atas undangan sang tuan rumah. Sementara aku disana dalam rangka berkunjung dan sebagai utusan simbah untuk menyampaikan sesuatu pada salah satu anggota keluarga.


Bapak bapak sekalian hari ini atas nama keluarga dan atas nama anak saya Sekar..saya sampaikan beribu terima kasih atas semua niatan baik dan upaya yang telah bapak bapak lakukan untuk kesembuhan anak kami…dan sesuai dengan apa yang bapak bapak sampaikan bahwa anak saya kondisi nya secara fisik atas upaya pengobatan bapak bapak sekalian..sudah semakin membaik…sangat terima kasih atas ketekunan dan waktu yang bapak sediakan untuk perawatan anak saya….” Begitu kalimat yang disampaikan sang pemilik rumah yang aku dengar…


Aku tak sepenuh nya mendengarkan apa yang disampaikan sang pemilik rumah karena saat itu sebenarnya pikiran ku sedang fokus untuk melakukan penyelarasan energy kepada salah satu anggota keluarga itu…dan aku lakukan itu secara diam diam..tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah.
Begitulah memang yang aku lakukan selama ini., pengobatan diam diam. Sebuah upaya pengobatan dan penyembuhan yang aku lakukan diam diam.. dalam diam.
Tanpa sepengetahuan dari keluarga besar itu yang anak nya sedang tergolek ,bahkan kadang juga tanpa sepengetahuan dari si penderita itu sendiri. Ini sesuai dengan rerasan dan juga pesan amanah yang disampaikan simbah beberapa tahun silam.

Le…apa yang kamu pelajari selama ini sudah waktunya kamu amalkan di kehidupan nyata, kamu boleh memilih jalan mu sendiri… dengan pengetahuan aneka pengobatan yang kamu pelajari selama ini kamu bisa saja menyatakan diri sebagai Sang Penghusada… dan membuka warung untuk melayani orang orang yang memerlukan bantuan pengobatan yang mengharapkan kesembuhan..dan itu menjadi sumber kehidupan mu….NAMUN…boleh juga kamu memutuskan untuk menjadi manusia mulia yang menggunakan pengetahuan pengobatan mu untuk berbhakti pada semesta dan berbagi pada sesama, dengan cara melakukan apa yang menurut mu tepat atas pengetahuan pengobatan mu tanpa menunjukan apa yang kamu perbuat secara terang terangan…dan itu lah sebaik baik nya..LELAKU..”

Dan saat itu aku entah kenapa condong untuk memilih jalan yang kedua. Melakukan aktifitas pengobatan dan penyembuhan sebagai bagian dari lelaku. Itu lah yang kulakukan kini pada wanita ayu yg tengah tergolek itu. Upaya penyembuhan diam diam sebagai wujud rasa kasih_ku. Sepi ing pamrih.. sebagai bagian.. dari lelaku sang lelaki. dengan jalan diam.. sebagai lelakuKu.
“….. dan untuk kamu Raka….saya pun sangat berterima kasih atas waktu mu membawakan jejamuan yang di racik oleh Simbah mu itu….sampaikan salam hormat dan rasa terima kasih kami kepada beliau..yang mengutus mu menghantarkan jejamuan..sampaikan kepada beliau jika saat nya tepat saya akan berkunjung dan bersilahturahmi dengan beliau…DAN…saya rasa hari ini CUKUP bagi mu untuk pengabdian mu pada Simbah menghantarkan semua jejamuan ini…Kami skeluarga sepakat untuk memberi waktu istirahat bagi Sekar dalam masa pemulihan nya ini…agar saat Sekar harus dipersandingkan dengan calon suami nya nanti benar benar tampil prima…Kami menyadari kehadiran dan keberadaan mu menemani Sekar menjadikan nya terhibur dan bahagia..bahkan melupakan rasa sakit nya…namun kurasa itu cukup sampai disini saja Raka…kami tak menginginkan ada hal lain terjadi pada anak ku..Sekar…sebagai lelaki yang lama didik simbah tentu kamu paham itu khan..Raka… ??”


Oh… tebasan pedang di leherpun tak akan mengagetkan ku seperti ini. Sambaran petir pun tak sedahsyat gelegar kalimat yang kudengar sore ini.
Kalimat halus yg disampaikan sang pemilik rumah pada_ku..pada lelaki yang di panggil nama nya Raka. Yaa… hari itu secara halus aku tak lagi boleh menemui putri nya yang tergolek itu. Hari itu aku tak lagi boleh bertemu dan menyapa putri kinasih nya itu. Aku tak lagi boleh jumpa dan menyapa Sekar. Wanita ayu lembut berwajah teduh. Kekasih hati_ku. Sang putri kinasih. Pengisi mimpi menjelang
pagi_ku ….

“…baik lah Romo…jika demikian kehendak romo..mohon ijin saya undur diri dari pasowanan ini..akan saya sampaikan salam dari Romo pada simbah..ada pun tentang bawaan ini yang berupa udang simbah berpesan agar segera di rebus dan diolah dengan sapta tirta dari tujuh sumber…sebelum cahaya senja sepenuh nya sirna…demikian pesan simbah..romo..”


“Baik lah..Raka terima kasih atas upaya ini..segera kami laksanakan amanat Simbah _mu itu..sekali lagi terima kasih atas rasa welas asih nya pada anak_ku Sekar…Kami tentu tak akan hendak melupakan semua upaya dan kepedulian nya….”


“Sebelum saya undur diri mohon ijin boleh kah kiranya..saya sejenak untuk menyapa Adi mas Sekar ..Romo.. ada sesuatu yang harus saya tunaikan…”

“Tidak Raka… kali ini Romo tak mengijinkanmu… Sekar benar benar butuh istirahat… maaf Raka..”

“baik lah.. saya pamit kembali kerumah Simbah jika memang demikian kehendak Romo…”
“Silah kan Raka… ada baik nya sebelum gelap menyergap mu..segera lah kembali… doa restu ku smoga segera simbah temukan wanita pilihan yang tepat untuk mendampingimu.. Raka…!!”
……

Selepas ashar mustinya langit masih terlihat terang dan pucuk dedaunan masih terlihat warna hijau nya. Namun tidak demikian hal nya dengan Raka. Ia merasakan sore itu langit lebih terlihat gelap dari biasanya.Ia bahkan kesulitan membedakan mana arah barat mana arah utara, meski sang bagaskara menggantung di langit barat.
Sesungguhnyalah Ia lupa akan jalan pulang.
Pukulan keras yang melukai kedalaman bathin nya membuat nya linglung. Untuk sementara Ia kehilangan daya nalar, kehilangan daya ingat, bahkan ia kehilangan daya bathin nya. Daya bathin yang menjadikan nya bukan lelaki biasa. Ia lelaki linuwih, lelaki yang terbiasa olah bathin. Namun tetap saja luka oleh ulah polah daya asmara. Yaa.. lelaki itu terluka kelelakian nya demi mendengar apa yang disampaikan sang pemilik rumah yang di panggil nya dengan sebutan hormat Romo itu. Romo yang merupakan orang tua wanita ayu bewajah teduh yang di gandrungi nya itu,baru saja memintanya untuk meninggalkan rumah dimana kekasih nya itu tinggal.
Bahkan sekedar menyapa pun tak di ijinkan nya. Hal yang membuatnya semakin nggregel hati nya adalah karena Ia tak diberi kesempatan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya tinggal selangkah lagi untuk membebaskan kekasih nya itu dari sakit nya.Satu tindakan lagi untuk menyempurnakan kesembuhan bagi kekasih nya itu. Satu tindakan kecil namun membebaskan kekasihnya dari kemacetan daya hurip dari aliran energy yang selama ini macet.. terhambat.. dan menjadikan tubuh nya lemah tak teraliri tenaga.. Dan itu harus dilakukan secara langsung, tidak dengan cara yang biasa Ia lakukan yaitu dengan mengalirkan getaran energy dari jarak jauh. Ia harus menekan dan membuka titik titik energy tubuh nya yg macet.


Titik titik energy yang terlihat jelas saat Ia manembah dan menghening di sanggar pamujan sore hari sebelum nya. Sebuah pencerahan yang Ia peroleh saat lelaku pasrah. Namun Ia tak berkesempatan melakukan nya…. Seperti yang biasa Ia akukan secara diam diam pada kekasih nya itu, pun juga pada kebanyakan orang yang di bantu nya. Ini yang mendorong munculnya gegetun, rasa sesal karena Ia tak tuntas menolong kekasih nya.

Namun apa daya sebagai lelaki Ia memahami gaya bahasa lelaki, dan Ia pun menaruh rasa hormat atas semua perilaku kehidupan,baginya apa yang diputuskan Romo itu tak sepenuhnya atas kemauan diri nya, Ia memaknai apa pun yang terjadi juga apa yg dilakukan kanjeng romo adalah skenerario semesta kehidupan yang mesti terpentaskan. Maka Ia perankan apa yang mesti dilakukan dengan sebaik baik nya. Meski dengan rasa luka di kedalaman diri nya. Dan Ia pun menyadari rasa luka itu pun harus Ia terima dan hayati sepenuh nya untuk menyempurnakan gelaran sandiwara kehidupan ini.


Seperti hal nya deburan ombak yang menghantam kokoh karang. Selintas menyakitkan bagi sang karang.
Namun menjadikan nya terlihat indah bagi para penikmat keindahan gelombang samodra. Begitu lah kehidupan selalu menggenggam dualitas sebagai realitas. Dan orang bijak menyebut nya.. Sunatullah.

Raka terus langkahkan kaki telusuri jalan setapak menuju pulang, namun tak melalui jalan seharusnya. Ia sekedar ayun kan langkah..dengan rasa menyerah dan kalah..daya kelelakian nya musnah.. Ia sedang berserah merasakan kalah.. bukan lelaku pasrah.. maka arah pun
salah.


Jelang malam Raka terus saja mendaki bebukitan itu. Ia gigih mendaki ketinggian, Ia ingin merasakan ketinggian.
Sebuah posisi dan kondisi dimana Ia bisa dongakkan wajah dan memandang segala hal yang ada di hadapan nya terlihat kecil dan dimaknai sesuatu yang rendah.. Sebagaimana selama ini Ia di perlakukan. Malam itu Raka tergoda rasa pongah. Sebuah rasa keakuan yang selama ini susah payah di tepis dan dikupas nya habis habisan siang malam agar enyah tak menguasai diri nya. Namun luka rasa karena ulah polah daya asmara menjebak nya. Rasa ditolak memancing naluri hewaniyah nya.. Rasa terpinggirkan memicu daya liar kelelakian nya. Hari ini Raka ingin merasakan menjadi lelaki berkuasa,Ia ingin menjadi lelaki yang tak lagi dinilai rendah oleh orang yang merasa berdiri di ketinggian.
Hari ini Ia ingin buktikan bahwa sebagai lelaki Ia pun berhak dan bisa menyentuh langit ketinggian.
Sehingga orang orang akan melihat nya sebagai matahari yang benderang.
Matahari yang dengan terang nya mampu menghisap habis gelegak ombak samodra raya.. hingga redam tak bergumam jika perlu Ia akan keringkan samodra agar seluruh putri duyung memohon.. menghiba sentuhan belas kasih nya. Ia ingin tegaskan bahwa sebagai matahari Ia berhak pancarkan cahaya nya kemana pun Ia suka. Sebagaimana sebagai lelaki Ia berhak pancarkan rasa kasih nya pada wanita yg Ia puja.

Oooh…..matahari..matahari_ku…
Engkau bahkan hanguskan kedalaman diri mu sendiri.. dengan gelegak api amarahmu..
Mengapa engkau pancarkan terik yang menyengat.. Padahal engkau menyimpan cahaya jingga.. Yang menggoda aroma para pecinta.. di kala senja..

Di titik ketinggian, Raka berdiri mendongak langit. Semilir angin malam menggeraikan rambut panjang nya. DI kejauhan serigala serigala hutan enggan lolongkan suara.
Mahluk liar itu seakan segan ..takut menatap bayangan sang lelaki yang berdiri di ketinggian.
Seakan sang raja dari segala raja hutan tengah tunjukan kemurkaan nya.
Lelaki yang bernama Raka itu yang berdiri tepat di bibir jurang di ketinggian sebuah gunung.

“HAYYA…..kemarilah…mendekat lah…disini tempat_mu…” lirih terdengar swara membisik

Ia awal nya tak hirau akan swara swara dari luar diri nya,karena sebelumnya hanya swara bathin nya lah yang terdengar keras memerintahkan segala hal pada diri Raka.
Namun…
Saat Ia lelah akan segala swara swara liar dari dalam diri nya.,saat keheningan di puncak ketinggian menyentuh nya.. Ia perlahan mulai mendengar kan swara swara bisikan yang lebih halus.Lebih lembut. Bahkan perlahan dan lembut Ia mulai bisa mengendapkan segala rasa yang bergolak. Ia perlahan mulai merasakan kesunyian. Merasakan keheningan dan kebeningan. Dan saat itu swara lirih kembali berbisik..

HAYYA…kemari lah..nak..mendekat lah..disini ini KINI.. tempat mula_mu…” kembali swara itu memanggil jelas pada Raka..yang berdiri diam ditepian ketinggian..

*oh..siapa kah engkau..?

+aku..Ibu _mu..nak..kemarilah bersama Ibu..

*oh..bukan kah Ibu tak berada di gunung…?

+Benar..nak.. Ibu yang melahirkanmu ada di tepian pantai…namun aku pun Ibumu..nak.. Aku adalah Ibu Semesta_mu ..tidak kah kamu ingat akan rahim semesta yang melahirkanmu..?

*oh…dimana Ibu..sekarang..

+Aku tak berada di mana mana.. nak..namun aku bisa berada dimana pikiran mengarahkanmu… atau bahkan engkau bisa rasakan kehadiran ku saat engkau lepas dari jerat kemelekatanmu atas sesuatu..

*apa kah Ibu…tak nyata..? apa kah ibu sekedar persepsi..?

+ha ha ha…penting kah itu..bagi _mu nak..?

*apa..beda nya..?

+tentu saja berbeda anakku… saat kamu tenggelam dalam pikiranmu engkau asyik memainkan permainan anak ku.. dan kamu tahu..dalam pemainan ada kalah.. ada pula menang… dan itu lah yang terjadi pada mu beberapa saat lalu anak ku..saat pikiran mu mengajak mu bermain main tentang rasa.. dan.. ternyata kamu kalah dengan permainan pikiran mu sendiri..dan kamu tahu..kamu menjadi gundah, gelisah bahkan kehilangan arah…hanya karena angen angen liar yang kamu munculkan..”

*oh..apa kah saya salah…? Salah untuk mencintai wanita, misal nya…?

+tak sepenuh nya kamu bersalah… bagaimana pun juga sebuah permainan ada lah sebuah kesepakatan..

*lalu apa yang membuat ku terlihat keliru…?

+Kamu menjadi keliru.. saat keinginan untuk mengalah kan itu begitu kuat menjebak mu..
kamu sudah tak lagi menjalankan permainan
.. namun kamu tengah menjalankan pertempuran..
itu yang keliru.. anak ku…keinginan mengalahkan jelas mengotori keseimbangan semesta.. sementara saat kamu menghayati permainan kamu tengah menselaraskan keseimbangan semesta…
tak ada yang harus terluka disana..anakku…tidak bagi mu..tidak juga bagi mahluk yang lain…!!

*Apa kah permainan ini harus dimainkan..?

+ha ha ha..terus lah bermain main..anak ku..

*Sampai .. kapan..?

+sampai kamu menyadari.. permainan ini adalah kepura puraan yang harus terlihat sungguh sungguh..

*untuk apa..?

+untuk menyadari ada nya kehidupan yang sejati..

*kapan dan dimana ..itu..?

+kemari lah.. Hayya..

*aku..?

+yaa..kamu…
….
Dan entah kenapa Raka lalu langkahkan kaki, setindak.. lalu Tubuh itu meluncur dengan deras bagai tersedot pusaran arus yang begitu deras. Hingga terhempas di satu tempat yang luas membentang.
Ia pingsan tak sadarkan diri disana.


>>>>
HAYYA…..bangun lah…” sebuah suara lembut memanggil Sebuah panggilan yang entah kenapa menumbuhkan rasa damai…menumbuhkan rasa di cintai..menumbuhkan rasa tentram…seakan segala hal adalah baik baik sahaja..semua hal sangat membahagiakan…semua hal terlihat mudah terselesaikan tak ada ketakutan.. Tak ada rasa benci..hilang rasa gundah..musnah segala resah…adem.. ayem..ada _nya..

Perlahan Ia bangkit dan berdiri. Ia berdiri mengamati sekeliling. Tak ada pohon…tak ada jurang.. tak ada tebing…bahkan tak ada gelap malam. Yang terlihat hanyalah hamparan warna cahaya putih keperakan.

Di depan nya seseorang mendorong pintu gerbang yang sangat tinggi. Ia tak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang membukakan gerbang untuk nya. Sosok nya lebih mirip belalang yang berdiri sedikit membungkuk dengan dua sayap dipunggung. Ia membuka pintu dengan sikap ketertundukan …

Saat melangkah kan kaki memasuki gerbang.. antara samar dan remang remang ada sosok yang ramah menyambut.. Entah beliau berbicara dengan bahasa apa.. bahkan aku merasakan yaa.. sekedar merasakan bukan melihat bahwa beliau berbicara pun seolah tanpa menggerakan bibir nya. Bahkan aku yakin tak ada suara yang keluar. Namun aneh nya aku memahami bahwa saat itu tengah berkomunikasi. Yaa berkomunikasi tanpa suara. Bahkan tanpa kata kata. Dalam diam kami saling bicara Dan..menyapa. Hayya….. Nikmati lah apa yang sudah lama kamu lupakan anak_ku… Disini kamu boleh mengenali kembali rasa damai dalam lautan cinta..
Bahkan kamu boleh membawa nya ke tempat dimana kini kamu bermain main…
Bebagilah tentang rasa damai dan cinta ini pada sesama dan lingkunganmu.. ajak lah mereka merasakan kembali arti makna sebuah rasa cinta kasih..welas asih…bahkan pada semesta..
Ajak lah mereka kembali mengenali anugrah rasa penuh cinta di mana mereka pernah singgah dan berasal…ajak lah mereka kembali menyadari… bahwa kehidupan adalah CINTA itu sendiri..


maka berjuang dan teus lah belatih menyadari keberadaan diri yang penuh cinta ini.. perlahan melepaskan diri dari kemelekatan pikiran dan angan angan..yang sering kali menipumu..
Agar kelak mereka semua mudah untuk kembali temukan jalan pulang…


Hayya…
Jika sudah kamu kenali dan kamu nikmati kesadaran cinta ini.. segeralah kembali..nak.. Kembali lah pada Raka yang menjadi rumah jiwamu..
Saat kamu rindu akan asa cinta dan damai… kamu boleh panggil kembali diri Hayya_mu… Kini saat nya kamu kembali bemain main dengan sebaik baik permainan anakku.. Bermain lah sesuai aturan yang telah disepakati bersama semesta.
Sekarang kembalilah Hayya menuju keberadaan mu saat ini.. Pulang lah…. Temui lah Rakamu

Aku lalu menoleh kebelakang..dan bersamaan pintu gerbang yang membuka, kembali pusaran arus deras menghisap dan menghempaskan ku keluar dari area bercahaya putih keperakan. Dan Aku kembali pingsan di rerumputan basah.. embun malam.. Ada hawa dingin yang menggenggam. Disebuah hamparan diam. Selepas malam.


“Kamu sudah bangun..Le..? segera lah minum air hangat yang di gelas itu Le…dan jangan paksakan tubuh mu untuk bergerak..” kata Simbah saat melihat ku membuka kelopak mata.
Ada rasa remuk diseluruh sendi sendi tulang ku siang itu.

“setelah tubuh mu nyaman nanti Simbah ingin mendengar cerita_mu Le..bagaimana sampai bisa kamu tergeletak di kedalaman jurang itu hingga Nyai Palasari menemukan_mu…” Tanya simbah..

Aku terdiam. Sejenak ingatan ku melayang ke jelang malam. Detik demi detik kuingat dengan jelas semua perjalanan itu, seusai tinggalkan pendopo rumah Sekar kekasih ku, aku menuju arah yang bukan jalan kembali kerumah. Namun berjalan mendaki buki, dan.. dan.. aah.. entah lah… Rasa remuk tubuh ku mengusik dan menghalangi ku untuk lagi mengenang akan sebuah kenangan. ….. Tiba tiba simbah yang Agung. itu lirih bertanya setengah berbisik… di telingaku..

“apa kah..kamu masih ingat siapa namamu…Le..?.. siapa namamu..Le..?” Tanya simbah.


Nama saya Hayya …mbah…
Oh..syukur lah…

Tiba tiba di setiap sendi sendi tulang ku yang terasa re muk..terasa ada sesuatu yang lembut mengalir.. Sesuatu yang terasa dingin.. atau adem tepat nya.. bahkan terasa damai aliran rasa nya. Aliran yang aku maknai sebagai rasa cinta kasih yang mengalir. Rasa cinta kasih yang begitu lembut menyelimutiku. Jadi kan rasa ini larut dalam rasa damai. Penuh cinta Penuh kasih Welas asih segala duka lara pun.. sirna..


di sana kutemukan senyum damai bahagia tanpa jeda…. Semilir angin sore itu begitu melenakan.
Swara swara burung kembali terdengar riuh menuju sarang. Gemerricik air mengalir kembali mengisyaratkan tentang aliran keabadian. Yang tentu sangat lah indah jika terus selalu terjaga keBENINGan_nya.. Juga ke HENINGan_nya.


Dari sebuah surau sayup sayup terdengar swara kumandang adzan magreb.
Terlantun bagai irama semesta yang bersahutan menyerukan panggilan.. manembah.. dumateng kang Moho Agung..
Hayya ..”alash sholaah.. Hayya ..”alal fallah.. dan damai ini terus mengalir.. menenggelam kan aku…

Jelang senja jingga.. saat mengetuk pintu ramadhan 08072013 di kedalaman Sanggar Pamoejan… peluk jinggaku untuk mu sekar.. sekali lagi kusampaikan pengakuan betapa sulit mengingkari kenyataan bahwa betapa panjenengan adalah.. pibadi yang begitu ..istimewa.. pesona nya.. ..

ini soal rasa kita, yayi…

oleh: Hayya – sang penulis cinta

Hayya atau nama facebooknya adalah: ‘Bendot Van Kopen’ adalah sahabat saya yang mempunyai tulisan yang luar biasa! Saya menaruhnya kembali tulisannya disini agar lebih banyak orang dapat menikmati karya-karya tulisnya yang luar biasa ini!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Yang Bodoh Sekali Itu Tedjo Edhy ataukah …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Ini Kata Mahasiswa Vietnam tentang …

Hizkia Huwae | 11 jam lalu

Ngoplak Bareng Pak Jonan, Pak Ahok, Pak …

Priadarsini (dessy) | 12 jam lalu

Polisi Serbu Mushollah Kapolri Diminta Minta …

Wisnu Aj | 14 jam lalu

Demi Kekuasaan, Aburizal Mengundang Prabowo …

Daniel H.t. | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: