Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ephen Mangga

non scholae sed vitae discimus : bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup kita belajar

Hakikat “Kata” dalam Perspektif Filsafat

OPINI | 08 July 2013 | 11:52 Dibaca: 590   Komentar: 0   0

Seseorang yang sedang berbicara adalah dia yang sedang berkata-kata; seseorang yang sedang menulis adalah dia yang sedang mengukir kata. Dalam hal ini, kata berperan penting dan menjadi sebuah keniscayaan bagi tersampaikannya sebuah pesan verbal (tuturan) dan nonverbal (tulisan). Dengan kata lain, sebuah tuturan dan sebuah tulisan hanya bisa dipahami dalam dan melalui kata yang diekspresikannya. Hal ini menggarisbawahi ungkapan dalam bahasa Latin yang berbunyi sunt verba et voces, praetereaque nihil ‘ada kata-kata dan ungkapan-ungkapan, selain itu tidak ada apa-apa’. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa kata menempati posisi penting dalam sebuah tuturan dan tulisan manusia.

Kata berasal dari bahasa Yunani yang disebut logos, yang berarti sabda atau buah pikiran yang diungkapkan dalam perkataan; juga berarti pertimbangan nalar atau arti (Douglas, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Logos). Dalam bahasa Ibrani davar adalah sebutan untuk logos yang berarti ‘kata’, yang juga berarti hal yang ada di belakang yang adalah firman kreatif Allah dan sejajar dengan sofia (hikmat), yaitu pengantara Allah dalam hubungan dengan ciptaan-Nya (Heuken, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Logos).

Dalam perspektif filsafat kata dianalisis berdasarkan aspek ontologis, epistemolois, dan aksiologis.

Ontologi disebut juga dengan metafisika. Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos yang berarti ‘ada’ atau ‘yang ada’ (being) dan logos yang berarti ‘ilmu’, ‘studi’’, ‘teori’. Jadi, ontologi adalah ilmu atau studi atau teori tentang yang ada. Dalam ontologi dibahas tentang apa yang bisa dikatakan tentang berada; tentang kategori-kategori ada; dan tentang variasi berada dari suatu realita. Dengan konsep ontologi, bisa dibedakan antara yang umum (universals) dan yang khusus (particulars); antara yang sustansial (substance) dan yang aksidental (accident); antara yang abstrak (abstract) dan yang konkrit (concrete); antara yang dasariah (essence) dan yang adanya (existence); dan antara yang bersifat menentukan (determinism) dan yang bersifat tidak menentukan (indeterminism).

Dengan demikian, secara ontologis, kata merupakan suatu realita atau suatu yang ada, yang bersifat universal sekaligus khusus dalam bahasa manusia. Kata bersifat universal, karena setiap bahasa di dunia pasti memilikinya. Dan bersifat khusus, karena tiap bahasa memiliki wujud dan corak kata yang unik, khas, dan karakteristik. Misalnya, tiap bahasa tentu memiliki kata untuk “air”, tapi tiap bahasa berbeda dalam mewujudkannya dalam tuturan dan/atau tulisan. Dalam bahasa Jepang, kata air adalah “mizu”, tetapi karakter kanji untuk kata air itu sendiri dalam dirinya terdapat dua cara baca, yaitu “ka” (cara baca yang disebut “kunyomi”) dan “mizu” (cara baca yang disebut “onyomi”) (sesuai dengan yang penulis ketahui waktu belajar bahasa Jepang).

Secara ontologis, kata juga merupakan sesuatu yang substansial, yang dasariah, yang harus ada dalam tuturan dan tulisan. Tanpa kata, tuturan dan tulisan tidak akan menjadi sesuatu yang ada; tanpa kata sebuah kalimat tidak akan mewujud dalam bentuk ucapan dan tulisan. Dan secara ontologis, kata pun merupakan sesuatu yang konkrit dan bukan abstrak. Karena konkrit, kata itu pada gilirannya bersifat menentukan apa yang disebut makna dari bahasa yang diucapkan atau ditulis.

Dari aspek epistemologi, kata bisa dianalsis berdasarkan sumber kata, watak dari kata, dan validitas atau kebenaran kata. Sumber kata adalah manusia itu sendiri; bahwa manusialah yang menciptkan kata dan manusia pulalah yang menggunakan kata yang diciptakannya. Dan keinginan atau dorongan untuk berkomunikasi atau menyatakan pikiran dan perasaannya, manusia lalu menggunakan kata yang mewujud dalam kalimat. Akan tetapi, menilik arti logos sebagai sabda yang terberi dan berasal dari Tuhan, maka sumber hakiki bahasa adalah tidak lain tidak bukan Tuhan sendiri. Kata itu lalu menjadi konkrit dalam dan melalui manusia. Dengan kata lain, kata dalam dirinya mengandung unsur keilahian. Dan karena epistemologi berkaitan dengan keyakinan (fidelity), maka kata pun dalam dirinya mengandung unsur keyakinan.

Berkaitan dengan aspek keilahian tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa watak dari kata adalah keyakinan; bahwa kata itu harus bisa meyakinkan untuk diyakini sebagai sesuatu yang benar dalam dirinya. Jadi kata dalam dirinya tidak boleh membingungkan, apalagi mengandung unsur kebohongan. Dengan demikian, ketika kata itu membingungkan, apalagi mengandung unsur kebohongan, maka bahasa pun menjadi kehilangan daya untuk diyakini, untuk dipercayai.

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang berarti ‘nilai’, dan logos, yang berarti ‘ilmu’. Jadi, aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Dapat pula dikatakan bahwa aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Dengan kata lain, aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang nilai-nilai.

Dalam aksiolgi dibahas tentang nilai atau kegunaan dari sudut pandang etika (moral) dan estetika. Etika atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana manusia seharusnya bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Dan estetika merupakan cabang filsafat yang membahas tentang keindahan dan implikasinya pada kehidupan.

Berdasarkan gagasan tersebut di atas, dapatlah dikatakan bahwa sebuah kata bernilai dan berguna kalau dalam dirinya mengandung unsur etis (moral) dan estetis. Dengan demikian, jika sebuah pernyataan mengandung kata-kata yang tidak etis, maka pernyataan tersebut dikatakan sebagai kata-kata yang tidak bernilai dan tidak berguna. Dalam praksis kehidupan terdapat bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan verbal. Dan terkadang kata-kata lebih menyakitkan ketimbang sebuah tamparan. Hal ini terjadi karena kata-kata yang terucap dan terdengar bersinggungan langsung dengan hati nurai, tempat terpatrinya nilai-nilai moral (seperti kebenaran, kejujuran, kemurnian, ketulusan, keikhlasan, kebaikan, dan sebagainya) dan nilai estetis (seperti keindahan, kelembutan, kemanisan, dan sebagainya). Dalam hal ini, mungkin benar pepatah Latin yang berbunyi unum bonum verbum tres hiemale menses calefacere potest ‘sepatah kata yang manis dapat membuat hangat tiga bulan musim dingin’.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 11 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: