Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pong Sahidy

pong sahidy. orang jombang: ada ijo ada abang.

Tafsir ‘Sesat’ Pembagian 10 Hari Bulan Ramadhan

OPINI | 07 July 2013 | 14:45 Dibaca: 2775   Komentar: 4   1

Sudah menjadi pengetahuan hampir setiap muslim bahwa sepuluh hari pertama bulan ramadhan adalah rahmah (cinta), sepuluh hari kedua adalah maghfirah (ampunan), dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka.

Dan tiba-tiba Saridin kembali mengagetkan malam-malamku. Ia datang entah jam berapa. Yang aku tahu ia datang sudah larut malam.

“Hanya seperti itu pemahaman dan penghayatanmu soal pembagian sepuluh hari di bulan ramadhan?” tanya Saridin.

“Memang hanya seperti itu. Ustadz dan para penceramah juga hanya sejauh itu penjelasannya, ” jawabku.

“Apa tidak ada cakrawala pemahaman baru?” tanya Saridin sengit.

“Saya tidak tahu. Memang mau dihayati seperti apa lagi. Bukankah tiap tahun para ustadz dan penceramah menjelaskan tema pembagian sepuluh hari ramadhan selalu seperti itu dan akan selalu seperti itu? Kalau engkau punya penghayatan yang berbeda, hati-hati, Din!”

Saridin terkekeh-kekeh. Ia lantas berkhutbah di depanku.

“Sepuluh hari pertama dikatakan sebagai rahmah. Apa itu rahmah? Rahmah itu cinta. Artinya sepuluh hari pertama engkau digembleng oleh Allah agar mencintai mahkluk-Nya. Mencintai itu memberdayakan, bukan membunuh. Mencintai itu rela memberikan apa yang engkau punya: waktu, tenaga, pikiran, harta untuk orang yang engkau cintai. Siapakah mereka itu? Siapa saja, hamba-hamba Allah, yang taraf garis kehidupannya ada di bawahmu. Cintailah mereka dengan memberikan makanan bagi mereka yang lapar; berbagi cahaya bagi mereka yang terkurung dalam gelap; melindungi mereka yang didholimi. Wilayah medan juangmu adalah kepada siapa saja yang secara faktual hadir dalam hidupmu agar engkau sentuh dengan tangan cintamu.”

“Jadi pembagian sepuluh hari selama bulan ramadhan bukan dipahami sebatas konteks ritual-religius, tetapi juga nyambung dalam konteks kehidupan sosial. Itukah yang engkau maksud?” Aku bertanya pada Saridin.

“Kalau tidak nyambung dalam konteks kehidupan sosial mengapa Allah nyuruh-nyuruh kamu puasa?” tanya Saridin tegas.

“Apakah setiap ibadah harus ditemukan manfaat sosialnya?”

“Bukan hanya ditemukan, engkau bahkan harus menjadikan manfaat sosial sebagai buah dari ibadahmu. Sehingga tidak ada lagi dikotomi saleh religius dan saleh sosial. Keduanya lebur dalam satu sikap yang otomatis keluar dari perilaku seorang muslim. Seluruh rukun Islam - termasuk puasa Ramadhan - adalah semacam metodologi bagi setiap muslim untuk mengolah dirinya agar optimal dalam menjalani peran dan fungsinya sebagai khalifah. Khalifah itu wakil Allah di bumi agar melayani hamba-hamba-Nya.”

“Apakah sepuluh hari kedua bulan ramadhan juga memiliki fungsi sosial?”

“Tentu saja. Setelah engkau mencintai hamba-hamba Allah yang garis hidupnya ada di bawahmu, engkau akan selalu membuka pintu maaf bagi mereka, sebagaimana¬† Allah membuka pintu ampunan-Nya untukmu di sepuluh hari kedua. Engkau menjadi seorang pemaaf yang tangguh. Engkau lapang dada atas setiap bentuk kedhaliman yang menimpamu, atas setiap fitnah yang menerpamu, atas setiap apa saja yang memojokkanmu dalam kesulitan hidup yang diupayakan oleh sesama manusia. Suasana batinmu seluas semesta dan mewadahi aneka warna dan beragam-ragam karakter manusia. Engkau menyemesta. Cinta (rahmah) dan ampunan (maghfirah) menjadi nafas hidupmu, seperti tauladan Rasulullah yang menyuapi pengemis buta dan di saat yang sama ia mencaci maki Rasulullah sebagai tukang sihir yang bodoh.”

Dahsyat sekali penghayatan Saridin.

“Dengan pijakan cinta dan ampunan inilah engkau tegak mengupayakan solusi bagi kesulitan hamba-hamba Allah yang menjadi tanggung jawabmu. Dalam kadar tertentu solusi yang engkau tawarkan mengandung percepatan dalam menyelesaikan masalah. Bukankah engkau mewarisi percepatan malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan? Engkau akan larut dalam kerja keras mengentaskan neraka kesulitan hidup hamba-hamba-Nya. Neraka orang yang tidak punya beras adalah lapar. Neraka orang yang terlilit hutang adalah tiadanya uang untuk membayar hutang. Neraka¬† orang tua adalah anak-anak yang durhaka.

Dengan ilmu dan tenaga yang dipinjamkan Allah kepadamu, engkau bekerja keras mengangkat hidup mereka dari jurang neraka kesengsaraan, sebagaimana Allah membebaskanmu dari neraka (’itqun minannaar) di sepuluh hari yang ketiga.”

Selalu di titik diskusi paling puncak, Saridin menghilang. Ia menyisakan sejuta rasa penghayatan yang kental di dadaku. Tafsir ’sesat’ Saridin tentang pembagian sepuluh hari bulan Ramadhan membuatku tercenung.

Ah, cuma tafsir ’sesat’ versi Saridin. Ngapain dipikir. []

Pong Sahidy

Tags: ceritapuasa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Bait Rindu untuk Bapak …

Rizko Handoko | 7 jam lalu

PKB Inisiasi Aksi Walk Out di Sidang …

Nada Dwinov | 8 jam lalu

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | 8 jam lalu

Titik Pijat untuk Masuk Angin …

Radixx Nugraha | 8 jam lalu

Harapan Muhaimin Iskanddar Kandas …

Agus Salim | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: