Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Gempa Gayo, Aceh Kembali Menangis

OPINI | 04 July 2013 | 16:48 Dibaca: 473   Komentar: 0   0


Duka silih berganti melanda Aceh. Berbagai bencana selalu saja terjadi, mulai dari Bencana sosial hingga bencana alam tak pernah luput dari Aceh. Masih teringat di Benak masyarakat Aceh, bencana sosial yang terjadi yaitu konflik yang berkepanjangan melanda Aceh.

Tiga puluh tahun lebih saat itu Aceh hidup dalam kungkungan konflik antara pemerintah Republik Indonesia, dan Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ), konflik tersebut juga merenggut puluhan ribu jiwa.

Saat konflik RI dan GAM yang terjadi bukan hanya korban meninggal namun juga banyak masyarakat Aceh yang harus menderita cacat phisik, rasa takut serta trauma juga saat itu dirasakan masyarakat, seperti tidak berani keluar rumah dan was-was saat melakukan perjalanan jauh.

Tak disangka tepat 26 Desember 2004 secara tiba- tiba Aceh diguncang gempa besar dengan kekuatan 9,2 Skala Richter yang disusul oleh tsunami, Aceh pun luluh lantak.

Ratusan bangunan porak poranda, puluhan ribu kepala keluarga kehilangan tempat tinggal, akses jalan terputus, sehingga bantuan berupa makanan dan kebutuhan lainnya saat itu tidak bisa disalurkan dengan cepat.

Bahkan Media masa nasional maupun internasional memberitakan kelumpuhan Aceh saat itu, bukan hanya itu media juga melangsir sekitar 150 ribu jiwa meninggal dalam bencana alam terbesar itu.

Saat tsunami melanda Aceh saat itu, di helsinky terdengar kabar yang menyejukan Aceh tepat tanggal 15 Agustus 2005 atau 2 hari menjelang peringantan HUT kemerdekaan RI, konflik berkepanjangan antara RI dan GAM berakhir dimeja perundingan, rasa syukur masyarakat Aceh pun terdengar.

Fokus kedua pihak yaitu RI dan GAM saat itu adalah sama-sama membangun Aceh yang telah luluh lantak oleh gempa dan tsunami. Dalam waktu dua tahun dibantu oleh masyarakat Internasional geliat pembangunan Aceh pun terjadi, sendi- sendi perekonomian masyarakat Aceh kembali pulih, roda pemerintahan berjalan lancar hingga saat ini.

Namun dari sisi ingin menjadikan Aceh lebih baik, musibah masih saja terjadi silih berganti, seperti banjir bandang di Aceh Tamiang pada tahun 2008 lalu, tahun 2011 kembali tangse, Pidie juga dilanda Banjir Bandang, sedikitnya ratusan jiwa juga kehilangan korban jiwa.

Tepat Bulan Maret 2013, lalu gempa tektonik yang disebabkan oleh patahan sesar terjadi di Mane, Pidie dan akibat gempa tersebut juga telah menghancurkan fasilitas umum dan rumah penduduk, dalam gempa tersebut juga merengut korban jiwa.

Belum lagi usai gempa mane, serta proses rehabilitasi dan rekontruksi untu korban gempa mane, berita mengagetkan kembali terdengar.

Tepat hari selasa, 2 Juli 2013 terdengar kabar yang mengagetkan Dataran tinggi Gayo, Aceh kembali dilanda musibah gempa bumi yang kasusnya sama dengan mane pidie yaitu gempa tektonik akibat patahan sesar berkekuatan 6,2 skala richter dengan pusat gempa tercatat dibarat daya bener meriah kembali terjadi.

Dalam gempa ini juga merenggut korban jiwa, data yang dilansir Badan Penanggulangan Bencana Nasional ( BPBN ) mencatat 22 orang korban jiwa, puluhan rumah hancur, dan masih banyak korban belum ditemukan.

Masyarakat Gayo pun dalam kesedihan, dan ketakutan usai gempa tersebut, akses jalan juga terputus dibeberapa titik, sehingga relawan kemanusian, maupun pemerintahan kesulitan membawa bantuan bahan makanan, obat- obatan, serta pakaian bekas. Hingga saat ini ada yang tinggal ditenda sementara.

Mari Instropeksi Diri.

Sebuah pertanyaan ada apa dengan Aceh sesungguhnya, kenapa musibah silih berganti melanda Aceh, apakah ini seperti yang difirmankan Allah “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, ke­kurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155).

Melihat firman tersebut, apakah masyarakat Aceh yang mayoritas muslim ini sedang diuji sejauh mana kesabaran umat muslim di Aceh sehingga mampu bertahan dalam bencana dengan kesabarannya.

Munginkan umat Islam di Aceh telah banyak yang tidak lagi mengingatnya sehingga Allah pun terus memberikan bencana kepada umat muslim di Aceh seperti firman Beliau dalam Al-Quran ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar- ruum: 41).

Gambaran ayat tersebut menyatakan tentang bagaimana kita selama ini sudah tidak perduli lagi dengan apa yang diperintahkannya, dan lebih banyak berbuat hal- hal yang merusak Agama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 3 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: