Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Heri Purnomo

Awal tiada akan kembali kepada ketiadaan. Karena hanya SATU yang sesungguhnya ADA.

Orang Mati Sesungguhnya Tidaklah Mati

OPINI | 28 June 2013 | 18:15 Dibaca: 360   Komentar: 7   3

Benarkah orang mati itu sesungguhnya hidup? Para agamawan sering mengatakan bahwa orang mati hanya jasadnya saja yang mati, ruhnya tetap hidup. Orang mati masih bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya. Dalam sejarah yang tertuang di dalam hadist, para nabi yang sudah mati masih bisa bercakap-cakap dengan Nabi Muhammad.

Masih ingatkah kita akan peristiwa bertemunya nabi Muhammad dan para nabi sebelumnya yang sudah mati (secara fisik)? Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Muhammad bertemu dengan nabi Adam hingga nabi Musa. Mereka membicarakan perilah kewajiban Sholat yang diperintahkan Tuhan kepada manusia. Jika demikian, manusia yang mati sesungguhnya tidaklah mati. Mereka tetap hidup meski di alam yang berbeda. Bisa jadi mereka itu para Nabi, orang-orang sholeh dan mungkin juga orang-orang tua kita yang telah wafat, dapat menjalin komunikasi meski dalam dimensi yang berbeda. Pikiran kita lah yang sering dibelenggu dengan wujud fisik, sehingga sulit menjangkau hal-hal wujud di luar alam materi semesta.

Di bulan Sya’ban ini banyak orang pergi ke makam orang-orang dekatnya yang sudah wafat. Jika hanya berfikir secara fisik, untuk apa orang yang sudah menjadi tanah dikunjungi lagi? Mungkin karena itulah mengapa Nabi mempersilahkan umatnya untuk berziarah, selain untuk memberikan pelajaran bagi umatnya untuk tidak melupakan kematian, kunjungan ziarah terhadap almarhum/almarhumah bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Do’a – do’a yang dipanjatkan akan menjadi penyejuk di alam kuburnya.

Berziarah adalah pelajaran tentang kematian dan kehidupan. Di bulan Sya’ban menjelang Ramadhan ini, tradisi ziarah sangat perlu untuk tetap dilestarikan. Ziarah bisa menjadi sarana refleksi atau perenungan bahwa sesungguhnya kematian jasad bukanlah kematian mutlak. Banyak dari mereka yang mati mengharap kunjungan dan doa-doa kita, bagaikan merindukan sebuah pelampung di tengah lautan ketika kapal kematian melemparkannya ke lautan luas.

Akhirnya, di bulan Sya’ban ini sebagai persiapan untuk menjalankan ibadah puasa bulan depan, saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama menulis di kompasiana ini. Barangkali ada kata ataupun kalimat yang pernah membuat tidak berkenan atau menyakiti teman-teman semua, mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.


#Jakarta, 29 Juni 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 12 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 12 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 13 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 10 jam lalu

Magnus Carlsen Tetap Juara Dunia 2014! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 10 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: