Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Shafrul Lahitu

Seorang pemuda yang mencari kebenaran dalam Fakultas Filsafat UGM, dan berusaha untuk selalu membagikan kegalauan selengkapnya

Manusia Dilahirkan dengan Pembawaan Sifat Baik dan Buruk

OPINI | 26 June 2013 | 00:20 Dibaca: 3610   Komentar: 2   1

Ada orang yang bersifat baik dan ada juga yang bersifat buruk, ada yang awalnya bersifat baik namun kemudian sifatnya berubah menjadi buruk dan sebaliknya. Sifat baik dan buruk tidak akan pernah terlepas dari diri manusia. Kenapa bisa seperti itu, apakah manusia memang terlahir dengan sifat dasar baik ataukah buruk?  atau manusia terlahir tampa pembawaan, melainkan lingkunganlah yang membentuk sifat baik buruk manusia?

Sebelumnya kita menjawab pertanyaan diatas ada satu pertanyaan yang lebih penting lagi yaitu, apa yang membuat hal ini penting untuk di bahas? Dalam keseharian kita dapat menilai karakter seseorang dengan sikap yang ditunjuknnya,sifat manusia itu sendiri diwujudkan melalui sikap dan tingkahlakunya sehari-hari, dan dari hal tersebut kita bisa menilai karakteriktik seseorang tersebut seperti apa. Mengetahui karakteristik seseorang tersebut penting dalam hubungan sosial, karena dapat memudahkan kita dalam melakukan kontak sosial, menjalin kedekatan dan bisa menenpatkan diri pada posisi yang benar sehingga tidak terjadi salah paham dan miss komunikasi. Tentu masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan.

Dewasa ini sudah banyak sekali teori-teori yang bermunculan dalam membahas hal ini, yaitu

1. Asas Emperisme (John Locke), yang berpendapat seseorang terlahir kedunia seperti kertas kosong atau meja yang dilapisi oleh lilin (Tabula Rasa), Lahir tanpa adanya pemabawaan, jadi yang menentukan baik buruk seseorang 100% pengaruhi pendidikan yang diperoleh dari lingkungan.

2. Asas Nativisme (Arthur Schopenhauer), yang berpendapat seseorang terlahir ke dunia dengan membawa pembawaan baik atau buruk. Jika pembawaan sejak lahirnya adalah baik maka dia akan menjadi orang yang baik namun apabila pembawaan sejak lahirnya buruk maka akan menjadi orang yang buruk.

3. Asas Naturalisme (Jean Jacques Rousseau), yang berpendapat seseorang terlahir ke dunia dalam pembawaan baik, kemudian menjadi buruk oleh campur tangan manusia, tidak ada manusia yang terlahir buruk.

4. Asas Konvergensi (William Stern), yang Menggabungan teori pendidikan Empirisme dengan teori Nativisme, Anak terlahir dengan pembawaan sejak lahir dan lingkungannya mempengaruhi perkembangannya. Jadi tergantung terhadap pengaruh mana yang lebih besar dalam menentukan baik buruknya, pembawaannya atau pengaruh dari lingkungan,

Untuk lebih mudah memahaminya, mari kita bahas contoh yang dipaparkan oleh Jean Jacques Rousseau , ia menggambarkan manusia yang hidup di taman surga dalam keadaan yang sederhana, bahagia, dan tenang. Dalam keadaan ini, individu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, dengan naluri dan bukan rasio, keinginannya tidak pernah melebihi kebutuhan fisiknya. Ia mempunyai dua instink dasar : mempertahakan diri sendiri dan simpati atau rasa kasihan atas penderitaan orang lain. Karena keadaan asli dan primitif lebih menguntungkan dan bukannya membahayakan individu serta orang lain, maka dapat dikatakan manusia pada dasarnya baik.

Menurut saya, manusia terlahir dengan membawa pembawaan yaitu baik dan buruk, berarti setiap manusia mempunyai sisi baik dan sisi buruk, yang bersifat mutlak dan pasif jika tidak ada pengaruh dan tekanan dari luar. Ketika adanya singgungan dari luar, jika singgungan tersebut tidak mengusik dirinya maka akan akan aktif sifat baik yang di wujudkan dengan tindakan yang baik, namun jika singgungan tersebut mengusik dirinya maka sifat buruk akan aktif dan diwujudkan dengan tindakan yang buruk. Berdasarkan contoh diatas J.J Rousseau dapat menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, karena dalam contoh diatas tidak ada yang mengusik dirinya karena hidup dengan keadaan yang sederhana, bahagia, dan tenang bagaimana jika hidup, miskin, kelaparan, sengsara belum tentu masih bisa bersikap baik. Karena pada dasarnya manusia membawa 2 pembawaan sekaligus baik dan buruk bukan salah satunya, yang hanya bersifat pasif jika tidak ada singgungan dari luar. Namun manusia dapat mengontrol semuanya dengan menggunakan akal pikirannya, terkadang manusia lepas kontrol dan terjadilah tindakan yang buruk.

Pembawaan baik buruk manusia juga bersifat dinamis, bisa berubah-ubah tergantung singgungan yang diterima, yang bersifat tetap adalah “karakter seseorang” bisa bersifat baik atau buruk. Karakter dibangun, diukir dari sejak lahir melalui otoritas sendiri dan pengaruh pendidikan dari luar, seperti orang tua, keluarga, saudara teman, guru, lingkungan sekitar, dll. Seseorang akan mempunyai karakter yang baik, ketika lingkungan selalu memberikan pemahaman dan tindakan yang baik. Sedangkan seseorang akan mempunyai karakter yang buruk ketika lingkungan sering memberikan pemahaman dan tindakan yang buruk. Pengalamanlah yang sangat berperan penting dalam membentuk karakter seseorang dan itu dimulai terbentuk dan terukir dari sejak kecil terus terpahat sesuai dengan singgungan dari luar sampai dia mati. Ketika karakter tersebut sudah terbentuk ketika dewasa maka akan sangat susah untuk mengubah karena hal itu telah ditanam dari mulai lahir. makanya perlu memberikan pendidikan dan contoh yang baik terhadap anak mulai dari sejak kecil jangan mendidik dengan kekerasan baik dirumah maupun guru disekolah karena setiap singgungan buruk akan mengaktifkan pembawaan buruk seseorang ketika pembawaan buruk itu selalu aktif maka karakter yang akan terbentuk akan buruk. Seperti halnya proses dalam pembuatan patung  yang indah dan bernilai seni tingi, tentu di ukir dengan penuh perasaan, kesabaran dan ketegasan dari pengukirnya. Jika diukir dengan kekerasan, tanpa adanya pemahaman dan kesabaran maka hasilnya akan akan buruk dan tidak berharga.

Namun jika seseorang mempunyai karakter yang buruk, bukan karena kesalahan dari pembawaannya dari lahir, dan bukan salah dirinya sepenuhnya melainkan orang terdekat sekitarnyalah yang membentuk karakter dirinya seperti itu, dan setiap orang harus bisa memahami itu. Jangan salahkan anak, adek, saudara, murid, teman anda jika pembangkang, tidak mau diatur, keras kepala, pemarah, egois, arogan dan lain sebagainya. Sebelum anda memarahinya, menghakiminya lebih baik dipikirkan terlebih dahulu apa yang selama ini yang telah kita ukirkan dalam karakter dia? Hanya diri kita sendiri yang dapat menjawabnya. Kesalahan yang kita lakukan sekarang tidak selalu berdapak langsung bisa jadi beberapa puluh tahun kedepan, kesalahan tetaplah kesalahan tapi bagaimana kita belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Hidup di dunia ini hanya sekali, jadi jangan anda sia-siakan hidup anak, saudara, teman, murid dll “Anda” dengan mengukirkan pendidikan, pengaruh, dan pengalaman yang buruk.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Miss Sarah Ballard, Guru Inggris Madrasah …

Eddy Roesdiono | | 18 September 2014 | 12:24

Kritik kepada Mahfud MD …

Hendra Budiman | | 18 September 2014 | 13:21

Memperluas Keterbacaan Kompasiana Melalui …

Pepih Nugraha | | 18 September 2014 | 15:37

Tidak Ada Porter di Australia …

Roselina Tjiptadina... | | 18 September 2014 | 10:45

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 5 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 7 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: