Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

M. Subhi-ibrahim

Pengajar filsafat agama di Universitas Paramadina

Muthahari dan Mazhab Qum

OPINI | 18 June 2013 | 14:25 Dibaca: 140   Komentar: 0   0

1371540709441384391

Sketsa Biografis

Ayatullah Murtadha Muthahhari lahir pada 2 Februari 1920 di Fariman, sebuah desa—kini sebuah kota kecil—yang berjarak enam puluh kilo meter dari kota Masyhad, Iran. Ia adalah anak dari seorang ulama terkemuka di Fariman, Muhammad Husein Muthahhari (Muthahhari 2002, 10). Ayahnya menjadi guru-pertama Muthahhari. Ayah Muthahhari memiliki kecenderungan yang berbeda dengan Muthahhari.  Bila Muthahhari mengidolakan Mulla Shadra, maka sang ayah mengagumi Mulla Baqir Majlisi. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi Muthahhari untuk tidak menghormati sang ayah.

Kecemerlangan pemikiran Muthahhari tampak sejak usia dininya. Pendidikan pertama yang diperolehnya adalah dari sang ayah. Pendidikan sang ayah membuka jalan bagi Muthahhari masuk ke dunia pesantren. Saat ia berumur dua belas tahun, ia bergambung ke pusat kajian agama yang lazim disebut Hauzah Ilmiyah di Masyhad.  Masyhad merupakan salah satu pusat spiritual, pengajaran keagamaan dan sekaligus peziarahan. Di sana terkubur salah seorang Imam kedelapan dalam keyakinan Syi’ah, yakni Imam Ali al-Ridha. Mengenai kesannya di Masyhad, Muthahhari berkata:

Dapat kuingat, ketika aku mulai belajar di Masyhad dan mempelajari dasar-dasar bahasa Arab, para filosof, ahli ‘irfan, dan ahli teologi jauh lebih mengesankanku daripada para terpelajar serta ilmuwan lain, seperti para penemu dan penjelajah.  Memang, aku belum mengenal gagasan mereka, tetapi mereka kupandang sebagai pahlawan-pahlawan di panggung pemikiran” (Mutahhari 2002, 24).

Dari ungkapan ini, tampak jelas bahwa Muthahhari meminati filsafat, teologi dan ‘irfan (tasawuf). Tiga serangkai disiplin ilmu tersebut membentuk kerangka berfikir Mutahhari menjadi suatu bangun fikir yang penuh warna pikir dan rasa serta kaya khazanah.

Muthahhari menaruh perhatian yang besar pada guru-guru yang terkait dengan kecenderungan disiplin ilmu yang ia senangi, seperti Mirza Mahdi Syahidi Razavi, seorang guru filsafat.  Perkenalan yang dini dengan filsafat membawa Muthahhari pada sebuah pengembaraan intelektual dan eksistensial  yang tiada berujung. Muthahhari mengakui bahwa:

Di antara yang bisa aku ingat tentang keadaan psikologisku adalah bahwa dalam usia tiga belas tahun telah kumiliki perasaan yang halus terhadap masalah-maslah Ilahiah.  Dalam diriku timbul pertanyaan-pertanyaan yang  menerpa berturut-turut sesuai dengan tingkat pemikiranku waktu itu. Dalam tahun-tahun pertama dan hijraku ke Qum ketika aku belum lagi menyelesaikan pengkajian ilmu-ilmu bahasa Arab, aku hanyut dalam gelombang pikiran-pikiran seperti ini sehingga sangat ingin aku mengasingkan diri dan menyendiri. Aku tidak betah tinggal bersama di kamar sekolah sehinga minta dipindahkan ke kamar khusus di tingkat atas—sebuah kamar berukuran kecil yang sangat sederhna—demi menyendiri dan mengosentrasikan pikiran-pikiranku. Aku tidak suka memikirkan masalah-masalah lain dalam waktu-waktu luangku.  Kupikir, mempersoalkan masalah-masalah lain, sebelum berhasil memecahkan berbagai masalah dari topik (Ilahiah atau teologi) ini hanya menyia-nyiakan waktu. Sesungguhnya, aku mempelajari dasar-dasar bahasa Arab, fiqih, ushul, dan mathiq untuk mempersiapkan diri sedikit demi sedikit guna mengkaji pikiran-pikiran filosof besar di sekitar topik ini” (Muthahhari 2002, 24).

Qum, salah satu pusat pengkajian agama terbesar di Iran, menjadi tujuan ziarah intelektual Mutahhari selanjutnya. Ia pergi Qum pada tahun 1937. Ketertarikannya terhadap filsafat dan ‘irfan semakin menguat. Semua karya filsafat, baik dari filsafat Islam maupun Yunani dan Barat, ia telaah dan kuasai secara baik. Ada dua guru utama Muthahhari yang membimbingnya dalam mengeksplorasi kedua disiplin ilmu tersebut, yakni Ayatullah Ahmad Ruhullah Musawi Khomeini, yang kelak menjadi pemimpin Revolusi Islam Iran, dan Allamah Muhammad Husin Thabathaba’i, seorang filosof dan mufasir tersohor Iran abad ke-20 yang termasyhur dengan karya monumentalnya al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an/Sebuah Timbangan dalam Tafsir al-Qur’an (Eksiklopedi Islam 1994, 314).

Muthahhari memiliki kedekatan yang khas dengan Imam Khomeini.  Saat itu, Khomeini adalah salah seorang mudarris (pengajar) muda yang menonjol. Khomeini memberikan kuliah-kuliah etika (1930-an).  Keikutsertaan Muthahhari dalam kuliah-kuliah Khomeini membangun ikatan emosional. Saat Imam Khomeini diboikot oleh ulama karena mengajar filsafat dan tasawuf, Muthahhari bersama dua rekannya Ayatullah Husein ‘Ali Montazeri, dan Ayatullah Javadi Amuli  yang tetap setia menyimak kuliah-kuliah Khomeini meskipun diadakan secara sembunyi-sembunyi (Rahnema 1998, 82).  Akhirnya, di antara sekian banyak murid Khomeini, Muthahharilah yang mempuyai hubungan yang sangat dekat dengannya.

Pada tahun 1952, Muthahhari pindah ke Teheran.  Ia menikahi putri Ayatullah Ruhani di sana. Muthahhari mulai menebarkan ilmunya dengan mengajar filsafat di Madrasa-yi Marvi. Karir akademisnya bermula ketika ia diminta untuk mengajar filsafat di Fakultas Teologi dan ilmu-ilmu keislaman, Universitas Teheran. Dia mengajar di sana selama 22 tahun. Selain mengajar, Muthahhari pun berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas di banyak organisasi keislaman profesional yang berada di bawah pengawasan Mahdi Bazargan dan Ayatullah Taleqani. Pada tahun 1960, Muthahhari memimpin Masyarakat Keagamaan Bulanan (Anjuman-i Maha-yi Dini), sebuah kelompok ulama Teheran. Kuliah-kuliah umum bulanan dalam organisasi ini dicetak dengan judul Guftar-i Mah (Kuliah Bulanan), meskipun penyebarannya dilarang oleh pemerintah pada tahun 1963  setelah Khomeini mengutuk rezim Pahlavi (Muthahhari 2002, 32).

Peristiwa penting lainnya adalah pendirian Husainiya-yi Irsyad pada tahun 1965.  Muthahhari termasuk salah satu anggota pengarah (directing Board). Ia pun memberi kuliah di Husainiya-yi Irsyad, menyunting dan menyumbang bagi beberapa penerbitannya. Pergolakkan tak terelakkan terjadi dalam Husaini-yi Irsyad, seperti: perlukah masuk ke arena politik praktis? Atau yang lebih substantif adalah munculnya interpretasi-interpretasi baru Islam, yang kerap berseberangan dengan faham konservatif-religius, yang diusung oleh Ali Shari’ati. Singkatnya, terjadi pengkutuban di Husayni-yi Irsyad: kutub pertama mendukung ide Islam-reformatif Muthahhari yang bagi kelompok kiri terlalu lunak, dan kutub kedua yang memihak pikiran-pikiran Islam-progresif Shari’ati yang menurut kelompok kanan terlalu bebas dalam menginterpretasikan simbol-simbol religius. Namun, di balik polarisasi pemikiran tersebut, kedua tokoh besar tersebut tidak menjadi konflik pribadi.

Polemik intelektual di Husaini-yi Irsyad tersebut menjadi latar intelektual yang membidani, sekaligus menjadi  pilar revolusi Iran: Muthahhari mendekatkan kelompok mulla pada kaum intelektual jebolan universitas sekuler, Sedangkan Shari’ati membawa kembali kelompok-kelompok radikal kiri ke pangkuan Islam untuk mendukung gerakan revolusi menumbangkan rezim despotik Syah Iran. Akhirnya, Muthahhari menarik diri dari Husaini-yi Irsyad secara bertahap.

Pemihakkannya untuk mendukung gerakan Imam Khomeini menjadi penentangan terbuka pertama Muthahhari terhadap rezim Syah selama Kebangkitan Khurdad 6 Juni 1963.  Ia membagikan pernyataan-pernyataan, dan memasukkan pikiran-pikiran revolusioner dalam khutbah-khutbahnya.  Akibatnya ia ditahan selama 43 hari (Muthahhari 2002, 32).

Pada tahun 1964, setelah keluar dari tahanan, bersama-sama dengan beberapa ulama lainnya ia mendirikan  Perkumpulan Ulama Pejuang (Jami’ayi Ruhaniyat-i Mubariz), dan mengorganisasi perlawanan terhadap Syah dari dalam negeri. (Ensiklopedi Islam 1994, 314).  Selama masa pembuangan Imam Khomeini yang dimulai sejak November 1964, Muthahhari tetap menjalin komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung, bahkan, saat Imam Khomeini di Paris.

Ketika Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini meletus tahun 1978-1979, Muthahhari merupakan salah seorang arsitek revolusi itu.  Ketika revolusi sudah sampai di ambang pintu kemenangan, ia ditunjuk Khomeini untuk memimpin Syuraye Inqilab Islami (Dewan Revolusi Islam), yang mengendalikan roda politik di Iran (Ensiklopedi Islam 1994, 314).

Namun, sebelum sempat menerapkan konsep-konsep politiknya pada pemerintahan baru, sukma Muthahhari tercabut dari raganya.  Muthahhari tewas oleh peluru-maut Kelompok Furqan, sebuah kelompok kiri-Islam Militan, pada 1 Mei 1979.   Hamid Algar memerikan peristiwa duka tersebut sebagai berikut:

Selasa, 1 Mei 1979,  Mutahhari pergi ke Rumah Dr. Yadullah Sahabi, bersama anggota Dewan Revolusi Islam lainnya.  Pada sekitar pukul 10.30 malam, dia dan peserta lain, Ir. Katira’i, meninggalkan rumah Sahabi.  Berjalan sendirian menuju jalan kecil terdekat, tempat parkir mobil yang akan membawanya pulang, Muthahhari tiba-tiba mendengar suara asing memanggilnya. Ketika menengok ke arah suara itu, sebuah peluru menembus kepalanya, masuk ke bawah cuping telinga kanan dan keluar di atas alis mata kiri.  Dia meninggal hampir seketika.  Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali berduka cita atasnya” (Muthahhari 2002, 41).

Satu hari kemudian, Jenazahnya disemayamkan di Rumah Sakit. Dan pada Kamis, di tengah-tengah perkabungan, jasadnya di bawah untuk dishalatkan, pertama, ke Universitas Teheran, dan kemudian ke Qum untuk dimakamkan, di sebelah makam Syaikh Abdul Karim Hai’ri (Ensiklopedi Islam 1994, 314).

Imam Khomeini tidak kuasa menyembunyikan dukanya ketika Muthahhari di makamkan di Qum. Dalam sambutan perkabungan (eulogi) yang terbata-bata dan berlinang air mata, Khomeini mengatkan bahwa Mutahhari adalah “putra tercinta”-nya,  “buah hidupku”, sebagai “bagian dagingku”.  Lalu, Khomeini bertutur:

Ketahuilah, wahai mereka yang berkehendak buruk! Walaupun Muthahhari telah pergi, kepribadian islaminya, filsafat, dan ilmu pengetahuannya tetap bersama kita. Pembunuhan takkan dapat sedikitpun menghancurkan kepribadian islami putra agung Islam ini, Islam tumbuh melalui pengorbanan dan kesyahidan putra-putra tercintanya. Sejak pertama diwahyukan hingga kini, Islam selalu diwarnai syahadah dan heroisme” (Muthahhari 2002, 41).

Di akhir pidatonya, Imam Khomeini  berkata, sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat dalam pengantar Perspektif al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama:

Saya nyatakan hari Kamis, 3 Mei 1979, sebagai hari berkabung nasional untuk menghormati pribadi yang siap mengorbankan diri, yang berjihad pada jalan Islam dan untuk kepentingan bangsa.  Saya sendiri akan duduk berduka pada hari Kamis dan Jum’at di Madrasah Faiziyah ” (Muthahhari 1986, 7).

Betul, ungkapan Jalaluddin Rakhmat bahwa, ”sejarah hidupnya (Muthahhari) dapat disingkat dengan tiga kalimat saja: Ia lahir. Ia berjihad.  Ia syahid” (Muthahhari 1986, 36).

Sebagai akhir dari sesi ini, sebuah komentar dari Fachry Ali patut dikutip. Maut bagi Muthahhari adalah suatu kematian yang terhormat, kematian untuk membela agama. Justru akan menganugerahkan kepada kita suatu kehidupan yang kekal,” tulis Fachry Ali (Muthahhari  tt, 23).

Mazhab Qum

Bagaimana formasi berfikir filsafat yang dibangun oleh Muthahhari? Ada satu nama yang tidak bisa dilepaskan dari filsafat Muthahari, yakni Qum. Qum adalah nama sebuah kota kuno dekat Teheran, Iran. Kota kecil ini mendadak terkenal karena menjadi basis perjuangan Ayatullah Khomeini dalam menggerakkan revolusi 1979. Yang menjadikan Qum sebagai pusat kegiatan adalah hawzah ilmiyah (pesantren) yang didirikan Ayatullah ‘Abd al-Karim Hairi (w. 1936), seorang ulama Arak (Iran) yang atas permintaan ulama-ulama Qum pindah ke Qum. Kepindahan Hairi dari Arak ke Qum diikuti oleh migrasi murid-muridnya pula, termasuk Khomeini.

Di Hawzah Ilmiyah Qum inilah, Muthahhari memperoleh warisan tradisi pemikiran dari para pendahulunya, para ulama-filosof. Karena di pesantren itu pula, tempat dimana dia belajar filsafat dan agama selama lebih kurang 12 tahun, dia mendapatkan corak pemikiran filsafat hikmah (hikmat-i muta’aliyah) yang telah diajarkan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Jadi, Qum, bukan sekedar nama kota, tetapi juga sebuah mazhab filsafat yang mengembangkan filsafat Shadra. Oleh karena itu, mazhab Qum adalah mazhab Shadrian.

Tokoh sentral mazhab Qum adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami asy-Syirazi, atau yang lebih tenar dengan sebutan Mulla Shadra (1571-1640). Pokok pemikiran Shadra adalah masalah kesejatian eksistensi (ashalah al-wujud) dan gerak substansial (al-harakah al jawhariyah). Melalui buku-buku yang ditulis langsung oleh Shadra, di samping transkripsi perkuliahan dan komentar kritis para muridnya, memungkinkan transmisi pemikirannya tetap berlangsung. Shadra menulis sekitar lima puluh buku, sebagian besar berbahasa Arab, dan warisan bukunya yang termashur adalah al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah al-Aqliyah, yang merupakan teks tingkat tinggi dari filsafat Islam tradisional dalam madrasah-madrasah (sekolah Islam atau pesantren) hingga hari ini (Nasr 2003, 560).

Transmisi pemikiran Shadra terjadi dan dikembangkan terutama melalui murid-muridnya, seperti Abd al Razzaq Lahiji (w. 1072 H/1661 M) dan Mulla Muhsin Faidh Kasyani (w. 1091 H/1680 M). Dua tokoh ini kemudian mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mempertahankan tradisi pemikiran Shadra. Satu di antara mereka adalah Qadhi Sa’id Qummi (1103 H/1692 M). Tokoh yang dianggap menjembatani warisan Shadra pada zaman Safawiyyah sampai ke Qum adalah Mulla Muhammad Shadiq Ardistani (w.1134 H/1721 M). “Karena tradisi lisan sangat penting dalam transmisi filsafat Islam tradisional, mata rantai guru dan murid yang menghubungkan generasi-generasi filosof belakangan dengan yang lebih awal, memiliki arti yang penting. Dalam hal Mulla Shadra, jaringan transmisinya terbentang melalui Ardistani, yang diasingkan dari Isfahan pada akhir periode Safawiyyah dan mencari perlindungan di Qum” (Nasr 2003, 565).

Sebelum berkembang di Qum, tradisi pemikiran Shadra lebih dulu bersemi di Isfahan. Mazhab Isfahan yang mengembangkan pemikiran Peripatetik (masyaiyah), iluminasionisme/isyraqi, gnostik/irfan, dan teologi/kalam (Muhsin Labib 2005, 55). Penggiat filsafat Shadra di kota ini adalah Mulla Isma’il Khaju’i (w.1173 H/1769 M) dan Mulla Ali Nuri (w. 1246 H/1830 M). Beberapa filosof lain dalam kurun waktu ini dan yang terkenal adalah Mulla Ali Zunuzi (w. 1307 H/1890 M) dan Hajji Mulla Hadi Sabziwari (w. 1289 H/1878 M). Pada akhir periode Qojar dan Pahlevi, kajian filsafat Shadra di Teheran, menurut Nasr (Nasr 2003, 566), dipelopori oleh Mirza Mahdi Asytiyani (w.1373 H/1953 M) dan Sayyid Abu al- Hasan Qazwini (w. 1394 H/1975 M).

Perkembangan filsafat di hawzah Qum mengalami pasang-surut. Bahkan, selama periode Qajar dan Pahlevi pamor filsafat terkalahkan oleh dominasi ilmu-ilmu tekstual, seperti fikih. Bahkan, tak sedikit ulama yang bersikap negatif terhadap filsafat. (Muhsin Labib 2005, 56) Akibatnya ilmu-ilmu rasional, seperti filsafat dan irfan, dikembangkan di halaqah-halaqah yang terkadang diadakan secara sembunyi-sembunyi. Keadaan ini berubah setelah beberapa ulama yang telah mencapai tingkat mujtahid, termasuk Khomeini, mengajarkan filsafat meski dalam bentuk kelompok diskusi terbatas. Khomeini mentransfer filsafat kepada murid-muridnya, terutama Muthahhari, dalam halaqah-halaqah tersebut. Khomeinilah yang secara konsisten mengembangkan filsafat di Qum. Pasca Revolusi Februari 1979, terjadi pergeseran fundamental dalam kurikulum hawzah Qum. Filsafat menjadi mata pelajaran utama yang diajarkan dari tingkat awal sampai akhir. Filosof kontemporer yang lahir dari Qum antara lain: Muhammad Husin Thabathabai, Imam Khomeini, Muthahhari, Jawadi Amoli, Muhammad Taqi Misbah Yazdi, dan Sayyed Hosein Nasr (Muhsin Labib 2005, 60-61).

Bersamaan dengan itu, Qum menjadi pusat pengajaran filsafat yang mulai berkembang, terutama di tangan guru Allamah Thabathaba’i (w.1402H/1981M). Berkat kegigihannya, filsafat di Hawzah Qum dan Iran kini, telah menyetarai fiqih dan ushul al-fiqih sebagai mata kuliah resmi pada tingkat dasar, menengah, dan lanjut. Thabathaba’i bersama Khomeini dan para guru lainnya inilah yang mengajar langsung warisan tradisi pemikiran Shadra kepada sejumlah murid, termasuk Muthahhari. (S.H. Nashr 2003, 566) Di samping filsafat, Muthahhari juga belajar ilmu-ilmu keislaman, terutama kepada beberapa guru antara lain: Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi Khunssari, Ayatullah Sayyid Muhammad Hujjat, Ayatullah Sadr al-Din Sadr, Ayatullah Muhaqiq Damad, Ayatullah Mirza Mahdi Ashtiyani, Ayatullah Haj Agha Husain Burujerdi, Ayatullah Mirza Ali Agha Shirazi, Ayatullah Sayyid Ahmad Khunsari, Ayatullah Sayyid Muhammad Reza Gulpaigani.

Seyyed Hossein Nasr berpendapat bahwa, “Adalah Takdir bagi filsafat Islam untuk akhirnya kawin dengan gnosis (ma’rifah) di jantung kebenaran wahyu Islam. Ketika orang mempelajari filosof-filosof Islam kontemporer, ia akan menyadari dengan segera perkawinan antara rasionalitas dan iluminasi batin ini, antara inteleksi dengan pengalaman spritual, antara pemikiran dan kesucian” (Nasr 2003, 567).

Rujukan

Murtadha Muthahhari, Pengantar Pemikiran Shadra: Filsafat Hikmah,  Bandung: Mizan, 2002

__________, Perspektif al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Bandung: Mizan, 1986

__________, Gerakan Islam Abad XX, Jakarta: Beunebi Cipta, tt.

Tim Penyusun Eksiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid III,  Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoe, 1994

Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: al-Huda, 2005

Sayyed Hossein Nasr (ed), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Manifestasi, Bandung: Mizan, 2003

al-Rashid (A Periodical on Education and Research), “A Glance at the Life, Uniqueness and Works of Martyr Mutahhari”, Qum: Special Edition, May 2004

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: