Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Elly Kartika Sari

Sedang aktif kuliah.. jadi nggak bisa stay lagi salam kangen selalu... pin BB _ 220FECB4

Otak Kiri dan Islam (Rasional atau Irasional)

OPINI | 31 May 2013 | 22:47 Dibaca: 814   Komentar: 10   2

Kenapa Islam lebih (selalu) menganjurkan mendahulukan anggota tubuh bagian sebelah kanan dari yang kiri?

Setelah membaca sebuah buku karya Taufiq Faisak, dengan judul Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan Alquran. Penulis tertarik dengan pembahasan pada bab kedua dengan tema ‘Peta Otak’. Didalam buku itu disebutkan fungsi otak manusia. Sehingga penulis tertarik dengan pembahasannya seputar otak manusia dengan pengaruh cara kerja anggota tubuhnya.

Otak (lazimnya bahasa kita menyebutnya, namun dalam ilmu kedokteran disebut encephalon yang diambil dari bahasa Yunani enkephalos). Otak manusia seperti diketahui terdiri dari dua belahan bongkahan yang membaginya dikenal juga sebagai fissura logitudinal, yang memisahkan antara otak kanan dan otak kiri yang memiliki fungsi berbeda. Keunikan otak dalam pembelahan itu membentuk dua cara berpikir yang berbeda ditambah koordinasi dan kontrol bagian tubuh terjadi secara bersilangan. Seperti,tangan kanan dan kaki kanan diurus oleh otak kiri, sebaliknya tangan kiri dan kaki kiri diurus oleh otak kanan. Di dalam buku juga dijelaskan “otak kiri, sebagaimana ditemukan Reger Sperry, mengatur hal-hal yang bersipat rasional, sedangkan otak kanan mengatur hal-hal yang bersifat irasional atau lebih khusus bersifat untuitif”

Pembahasan didalam buku itu memang lebih mengarah pada keunggulan otak kanan dari otak kiri, namun dibenak penulis mulai terbesit pertanyaan. Tapi kenapa islam lebih menganjurkan anggota tubuh bagian kanan dari yang kiri, padahal fungsi tubuh sebelah kanan lebih dipengaruhi oleh rasionalitas ketimbang anggota kiri yang dikenal lebih kreatif dan imajinatif.
Lihat saja dalam bersuci (wudhu, tayamum, mandi) adalah dengan mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan, dan juga dalam shalat duduk tasyawud awal maupun akhir lebih condong pada anggota kanan, sampai salam pun yang wajib adalah salam pertama yang tak lain dan tak bukan adalah menengokkan kepala kekanan, lebih jauh lagi perilaku tidur Rasulullah saw. beliau selalu tidur menghadap kesebelah kanan dan yang tak kalah menakjubkan adalah malaikat Raqib menuliskan amal-amal kebaikan manusia dari sisi kanan.

Dari sini penulis mulai tertarik menganalisa antara cara kerja otak dengan fungsi tubuh. Seperti dijelaskan sebelumnya anggota tubuh sebelah kanan dipengaruhi oleh otak kiri terkait dengan rasional. Jadi islam ternyata menganjurkan umatnya untuk rasional dalam memahami ajarannya. Dimana memaknainya perlu pengkajian, proses berpikir, penuh perhitungan, tidak asal ikut-ikutan yang populer disebut ‘takliq buta’, memahami ajaran tanpa menggunakan akal.

Hal ini pun terbukti dengan kisah Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai ‘Bapak Tauhid’ umat Islam. Bagaimana Beliau a.s menggunakan rasio dalam mencari Tuhan sesungguhnya, bahkan sempat salah berkali-kali saat menganggap bulan sebagai Tuhan, kemudian melihat matahari dan mengira bahwa itu adalah Tuhannya, sampai akhirnya Beliau berkesimpulan bahwa Tuhan sebenarnya adalah yang menciptakan bulan dan matahari. Dengan kesimpulan rasionya bahwa Tuhan adalah Satu, yang mengatur seluruh alam semesta ini. Pemikiran Nabi Ibrahim a.s juga sebenarnya di ‘iyakan’ oleh raja Namrut ketika Nabi Ibramim menghancurkan berhara-berhala yang raja dan pengikutnya sembah tersebut dan menancapkan kapaknya pada berhala yang paling besar.
“Wahai,, Ibrahim, siapa yang telah menghancurkan Tuhan-Tuhan kami” tanya Raja

” Mengapa tidak kau tanyakan saja pada patung yg paling besar itu, siapa yang telah menghancurkan Tuhan-Tuhanmu?” Jawab Nabi

” Bohoh!!, mana mungkin patung batu itu bisa bicara!!” Raja geram

“Lantas mengapa kau menyembah Tuhan yang tidak bisa bicara padamu, jangankan untuk memberi manfaat untukmu untuk melindungi dirinya sendiripun ia tak bisa” Tegas Nabi

“˚◦°•Ħммм…‎​(ˇ_ˇ’!l)… •°◦˚ benar juga ya kau Ibrahim” gumam Raja dalam hatinya

Tapi karena kesombongannya dan ia tak ingin kalah, akhirnya Raja Namrut memerintahkan “Bakar Ibrahim!!”
Dan barulah di sini irasional manusia ditampilkan dengan Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api, bagaimana hal ini langsung menyentuh pada keyakinan yang luar biasa.
Subhanallah, begitu pentingnya rasional bagi manusia dalam eksistensi ajaran Islam memahaminya agar tidak mudah goyah imannya. Jika setiap umat Islam memahami ini rasa-rasanya akan sulit terjebak oleh dokrin-dokrin terorisme, pragmatisme, materialisme, globalisme, apalagi aliran sesat atau mengklaim bahwa berIslamnya paling benar dan mengkafirkan satu sama lain yang terjadi adalah Islam semakin terpecah belah.

Rasionalitaspun sangat melekat pada diri Baginda Rasulullah, Nabi Muhammad saw. (Sungguh rindu pada beliau, salam ya Nabi, salam ya Rasul, salam rindu kami). Hal ini terbukti dengan mujizat-mujizat ada pada diri beliau yang tidak irasional, seperti Nabi Musa dengan Tongkat Ajaibnya, Nabi Sulaiman dengan tentara kerjaan dan istananya, atau seperti Nabi Ibrahim yang kebal terhadap api. Salah satu mujizat Beliau adalah perilaku yang menjadi suri tauladan sejak kecil sampai sekarang bahkan beribu-ribu tahun lamanya beliau telah tiada :’( , dan muzijat yang lebih rasional adalah Alquran.
Dan menjawab juga pertanyaan bahwa mengapa Rasulullah mendapatkan mujizat yang begitu rasional karena beliau adalah Nabi terakhir, yang mana pendekatannya sepanjang masa kehidupan berlangsung, dengan rasionalitas eksistensi ajaran Islam berjalan secara dinamis sesuai jamannya lihat saja dari dahulu hingga sekarang Alquran selalu menjadi acuan.

Apalagi dewasa ini, kehidupan manusia yang modernis lebih mengedepankan rasionalitas sudah tentu Allah mengatur sedemikian rupa agar Nabi selalu eksis dengan peninggalannya sampai akhir zaman. Dan Alquran hadir sebagai jawaban rasio dalam tantangan global dengan banyaknya pembuktiannya dengan kajian-kajian kaum rasionalis meski mereka tidak menganut ajaran Islam, jauh sebelum itu Alquran telah merasionalisasikan dalam kandungannya tanpa mengenyampingkan irasional sebagai kesimpulannya, itu kenapa sering ditemui di akhir ayat Alquran “dan hanya kepadaKu (Allah)lah kamu semua akan dikembalikan”. inilah kesimpulan dari ajaran Islam dari pengajurannya mendahulukan anggota kanan dari yang kiri yaitu, dari rasionali yang irasional.
Subhanallah

Waullahu ‘alam bisshawab

(Saya berlindung kepada Allah dari apa yang saya tuliskan jika tulisan ini mengandung kebenaran itu sungguh berasal dari Allah tapi jika mengandung kesalahan ini semu berasal dari kebodohan saya dalam pemahaman, semoga selalu dalam bimbingan hikmahNya memaahami kehidupan)

_Salam_
Elly Kartika Sari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 7 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 19 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 19 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: