Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ujang Bandung

Di dunia langit kebenaran itu sebenarnya satu walau di atas bumi nampak seperti banyak

Peralatan Pencari Kebenaran

OPINI | 26 May 2013 | 20:22 Dibaca: 161   Komentar: 0   0

1369574435110960221

http://www.google.com/Frodeon-file.blogspot.com

Apa yang manusia miliki dalam kehidupannya sebagai peralatan berfikir … ( ? ) ..

Pastinya adalah dunia indera - akal dan hati,itu adalah suatu hal yang PASTI,bila ada manusia yang merasa tidak memiliki salah satu dari ketiga nya maka ia harus banyak introspeksi diri sebagai manusia …. karena pastinya ia akan kekurangan peralatan berfikir ..

Adanya ketiga peralatan berfikir dalam diri manusia itu sangat perlu untuk diungkapkan ke permukaan untuk membantu mengungkap serta menyelesaikan beragam problematika mendasar yang manusia hadapi dalam kehidupannya …

Salah satu ciri khas yang paling klasik dan sangat mendasar dari kehidupan manusia adalah ia selalu bergumul dengan permasalahan seputar masalah ‘kebenaran’ … apapun bentuk nya ..

Nah karena manusia dalam perikehidupannya selalu bergumul dengan problem kebenaran yang serba bersifat kompleks, dan disebut bersifat ‘kompleks’ karena problematika kebenaran yang manusia alami tentu tidak saja hanya yang berhubungan dengan hal hal yang bersifat lahiriah - material - empiris tetapi juga dengan hal hal yang bersifat abstrak - non materi - non empiris ,dan nampaknya suatu kebohongan besar bila manusia dewasa tak pernah merasa telah bergumul dengan permasalahan yang berhubungan dengan hal hal yang bersifat abstrak - non empirik ..

Nah masalahnya kemudian bila kita kembali kepada adanya tiga peralatan berfikir yang dimiliki manusia diatas maka pertanyaan mendasarnya tentu adalah :

Ketika manusia  berhadapan dengan problem kebenaran yang serba bersifat kompleks itu apakah ia bisa mengandalkan dunia inderawi nya semata untuk menghadapi dan menyelesaikan nya sehingga ia boleh menyisihkan (logika) akal dan nurani nya ….. ?

Apakah seluruh problem kebenaran yang manusia temukan bisa dimuarakan menjadi problem empirik dan dapat diselesaikan dengan metodologi ilmiah yang bersifat empiris (?)

Bila segala suatunya bisa diselesaikan secara empiris dengan kekuatan dunia panca inderawi lalu dimana dan atau bagaimana peran akal dan hati ketika manusia bergumul dengan beragam problematika nya ?

Apakah manusia tidak memerlukan deskripsi atau penjelasan penjelasan rasional (?)

Apakah manusia tidak  memerlukan peran hati untuk mendalami - merenungkan serta menghayati problem yang ia hadapi (?)

Bukankah dalam hati ada pendalaman - penghayatan - perenungan …apakah semua cara berfikir demikian itu tidak diperlukan ketika manusia bergumul dengan permasalahan kebenaran ?

Bukankah hal hal yang bersifat essensial seperti masalah hakikat - hikmat itu memerlukan peran (cara berfikir) hati (?)

Apakah hati harus di  sisihkan ketika manusia bergumul dengan problem tentang kebenaran  ?

Bukankah hati adalah samudera tempat semua hal ujungnya bermuara pada keyakinan…bukankah keyakinan itu ada di hati tempatnya, dimana dunia indera dan akal hanyalah peralatan pencari (keyakinan) itu ?

Bila manusia tidak menyertakan hati nya ketika bergumul dengan permasalahan kebenaran lalu bagaimana manusia bisa memuarakan problem yang digumuli nya pada keyakinan ?

Semua analisis diatas berujung pada kesimpulan bahwa ketiga peralatan berfikir itu saling berkelindan - saling merajut dalam menyelesaikan semua problematika seputar  kebenaran..

Mari kita uji beragam peralatan berfikir itu ketika berhadapan dengan contoh problematika kebenaran yang bersifat mendasar :

Pertama,problem tentang ‘realitas’ atau ‘ada’

Apakah semua problem realitas bisa diselesaikan oleh dunia inderawi serta dimuarakan kepada penyelesaian yang bersifat empirik (?)..apakah seluruh realitas atau ‘ada’ bisa ditangkap oleh dunia panca indera (?) ..bukankah adanya dunia abstrak - gaib itu menunjukkan bahwa tidak semua realitas itu bisa ditangkap oleh dunia panca indera manusia (?) …

Atau bukankah manusia dalam perikehidupannya senantiasa berhadapan dengan problem realitas atau ‘ada’ yang bersifat lahiriah-material dan juga yang bersifat abstrak-gaib (?)

Karena problem yang berhubungan dengan realitas yang bersifat abstrak-gaib tidak bisa diselesaikan oleh kekuatan dunia panca indera maka disinilah manusia mulai menggunakan kekuatan akal dan hatinya untuk menangkap dan memahami serta mendeskripsikannya..

Sebagai contoh sederhana : ketika manusia berhadapan dengan realitas adanya keserba teraturan dan keserba tertataan yang ada di alam semesta maka ia mulai menggunakan akal nya untuk memikirkan dan merumuskannya sehingga lahir rumusan akal berupa gambaran tentang adanya sang desainer ( deskripsi abstrak) dibalik seluruh adanya keserba tertataan dan keserba teraturan di alam semesta itu ..

Lalu hati mulai merenungi - menghayati apa hakikat serta makna terdalam - yang bersifat  Ilahiah dibalik adanya keserba tertataan dan keserba teraturan yang ada di alam semesta itu …

Jadi dunia indera menangkap fakta empirik adanya keserba tertataan dan keserba teraturan,akal membuat gambaran tentang adanya sang desainer dibalik keserba tertataan dan keserba teraturan yang ada di alam semesta itu dan lalu hati mulai mendalami hakikat siapa sang desainer itu serta apa makna terdalam dari adanya keserba tertataan dan keseba teraturan di alam semesta itu..

Disini terjadi tahapan estafet berfikir mulai  dari penggunaan dunia indera naik ke dunia akal lalu ujungnya bermuara ke hati …. Lalu hati mengunci semuanya dalam ‘keyakinan hakiki’ … atau ‘iman’ dalam bahasa agama ..

Sehingga lahirlah rumusan tentang kebenaran empirik hasil pengamatan dunia inderawi,kemudian lahir rumusan rasional hasil konstruksi cara berfikir akal (logika) dan terakhir lahir penghayatan tentang adanya kebenaran yang bersifat hakiki serta kebenaran maknawiah dibalik apa yang ditangkap oleh indera dan di konstruksikan oleh akal itu.

Itulah adanya bentuk kebenaran yang berbeda beda : kebenaran empirik - kebenaran rasional serta kebenaran hakiki-maknawi  di dunia ilmu pengetahuan adalah karena manusia memiliki tiga peralatan berfikir itu..

Baik agama - filsafat - sains adalah media bagi dunia indera - akal dan hati  kala mencari bentuk bentuk kebenaran yang berbeda beda itu,sehingga bila manusia tidak menemukannya dalam dunia sains maka manusia mencarinya di dunia filsafat, dan bila manusia tidak menemukannya di dunia filsafat maupun dunia sains maka manusia akan mencarinya ke ranah agama ..

Sudah umum manusia fahami bahwa dunia sains adalah tempat manusia mencari cari bentuk kebenaran empirik yaitu bentuk kebenaran yang bisa ditangkap dan didefinisikan melalui kekuatan dunia inderawi, dunia filsafat adalah dunia tempat manusia mencari cari penjelasan penjelasan rasional tentu saja versi logika akal fikiran manusia untuk mencari cari gambaran tentang adanya bentuk kebenaran rasional, sedang agama adalah tempat manusia mencari bentuk kebenaran tertinggi dan terdalam yaitu bentuk kebenaran yang bersifat hakiki serta tempat hati menghayati adanya makna Ilahiah yang terdalam dibalik segala suatu yang ada dan terjadi …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 8 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: