Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ujang Bandung

Di dunia langit kebenaran itu sebenarnya satu walau di atas bumi nampak seperti banyak

Tuhan dan teka teki ilmu pengetahuan

OPINI | 23 May 2013 | 13:35 Dibaca: 318   Komentar: 31   1

13692915311325389369

http://www.google.com/theartofilm.blogspot.com

(artikel ini kelanjutan dari artikel andai (bila) Tuhan banyak..)

—————————————————————————————————-

Setelah anda berolah akal secara maksimal hingga ke ‘titik akal yang penghabisan’ dan di ujung usaha anda berfikir dengan akal itu telah melahirkan ‘buah’nya tersendiri  yaitu keyakinan bahwa : Tuhan itu hanya mungkin ada satu,maka pertanyaan selanjutnya tentu : apakah usaha akal (berfikir tentang Tuhan) itu telah berakhir hingga sampai disitu ?

Tentu tidak bukan…sebab problem kebenaran itu demikian kompleks nya apalagi yang menyangkut permasalahan seputar ketuhanan….

Setelah kita berolah fikir akal dan ujungnya meyakini bahwa Tuhan hanya mungkin ada satu,maka beberapa pertanyaan lanjutan yang mungkin timbul adalah :

1.(Bila Tuhan itu satu) mengapa realitas kehidupan ini demikian beragam dan berwarna warni nya sehingga diatas keragaman itulah ada banyak nama ‘tuhan’ yang disebut secara berbeda beda-ada banyak persepsi tentang Tuhan ,sehingga lahir banyak kepercayaan yang berlainan dengan tuhan yang berlainan pula….

2.(Bila Tuhan itu satu) mengapa Tuhan yang satu itu tidak berupaya keras untuk bersikap ‘otoriter‘ dengan bertindak ‘refresif’ untuk menunjukkan bahwa diriNyalah Tuhan satu satunya,mengapa Ia seolah masih membiarkan para ‘sainganNya’ - yang dianggap ‘tuhan’ serta orang orang yang menyembah selain diriNya untuk tetap ada ?

3.alam semesta ciptaanNya itu sedemikian luasnya sehingga bumi hanyalah sebesar debu saja bagiNya dan tentu Ia berkuasa penuh atas bumi ini untuk dibagaimanakan sekalipun,sebagai contoh : bila Ia mau Ia bisa saja menggonjang ganjing dunia ini di berbagai pelosoknya untuk memberi kabar kepada seluruh umat manusia bahwa Ia lah satu satunya Tuhan yang menguasai alam semesta….

4.Bila Ia mau ‘agresif’-‘refresif’ Ia bisa saja mengutus para utusanNya secara rutin tanpa putus di tiap generasi manusia bahkan ke setiap bangsa hingga ke zaman ini agar tiap bangsa mengetahui bahwa Ia lah Tuhan yang sebenarnya…

5.Bila Ia mau agar seluruh penduduk bumi beriman apa salahnya dan apa susahnya bagi Dia untuk memperlihatkan eksistensi keberadaan diriNya dengan berbagai cara seperti melalui mukjizat sebagaimana di zaman para nabi dahulu agar didunia ini tak ada lagi orang orang tak beriman,atau apakah Ia tidak berambisi melihat semua manusia menjadi beriman ?

6.Bila Ia mau ‘otoriter’, toh bisa saja tiap ada yang berupaya menjadi ‘saingan Nya’ atau bila ada tuhan tuhan lain yang disebut selain diriNya toh kalau mau Ia bisa saja langsung membinasakannya agar tak ada lagi penyembahan selain terhadapNya…

7.andai Ia mau, tiap ada penganiayaan terhadap orang beriman misal,toh Ia bisa saja langsung bertindak dengan caraNya tersendiri tentu, misal, menghancur luluh lantakkan orang orang tak beriman itu untuk memenangkan orang beriman di segala sisi agar semua orang tak beriman bertekuk lutut dan kemudian berubah menjadi beriman karena tahu (melihat secara bukti fisik) ada Tuhan dibelakang orang beriman…

Apa jawaban anda terhadap pertanyaan pertanyaan diatas yang muaranya tentu adalah pada rumusan kesimpulan yang berupa pertanyaan : mengapa Tuhan tidak melakukan hal hal sebagaimana diatas itu (?)  mengapa Tuhan (yang satu-yang sebenarnya) seperti diam dan bersembunyi ..sehingga  orang tertentu bahkan menganggapNya ‘tidak ada’ dan bahkan sebagian malah beranggapan ‘tuhan banyak’ akibat dari Tuhan yang sebenarnya seperti lebih banyak bersikap ‘diam’ dan ‘bersembunyi’ (tidak nampak bersifat ‘agresif-refresif’) itu (?)

Saya mencoba menjawab berbagai pertanyaan yang ujungnya adalah ‘mengapa’ seputar Tuhan diatas dengan sebuah jawaban :

Karena Tuhan membiarkan diriNya menjadi teka teki ilmu pengetahuan…

Atau penjelasan lebih mendalamnya adalah : Tuhan lebih suka Ia dicari dan di dalami dengan ilmu pengetahuan..walau yang sampai kepada Tuhan melalui jalan demikian tentu tidak banyak,tetapi yang dicari oleh Tuhan sebenarnya bukanlah kuantitas tetapi kualitas…

Tuhan ingin orang orang yang menemukanNya teruji secara kualitas baik secara keilmuan-mentalitas-keimanan dan bukan iman karena takut akibat Tuhan bertindak ‘refresif’misal….

Tuhan tahu bahwa manusia bisa beriman karena faktor ketakutan akan Tuhan misal, beriman sebab tahu Tuhan maha kuasa, toh bila tahu demikian Ia bisa saja mengumbar mukjizat semacam terbelahnya laut merah misal,dan Ia bisa melakukanNya secara rutin  hingga ke zaman ini dengan nabi yang tak pernah terputus terus - ada dari zaman ke zaman dengan disertai mukjizat yang terus menerus berulang ulang…

Tetapi dengan cara demikian adakah yang akan mendalami Tuhan dari sisi lain misal sisi ilmu pengetahuan ?..sebab bila cara ‘agresif’-‘refresif’  demikian yang dilakukan maka manusia memang akan pada beriman tetapi beriman karena faktor takut melihat kekuasaan Tuhan yang nampak langsung, bukan beriman karena kualitas keilmuan-mentalitas ….

Bisa jadi adanya suatu yang seolah ‘pembiaran’ terhadap realitas sehingga menjadi seolah ada banyak Tuhan (yang disebut sebut oleh berbagai golongan manusia) itu sebenarnya semacam ujian berfikir bagi manusia untuk mencari : mana sebenarnya Tuhan yang  sesungguhnya (?)……..

Itu sebab betapa ilmu pengetahuan menjadi faktor vital dalam mengenal Tuhan..tetapi mesti diingat pula bahwa ilmu pengetahuan manusia itu terbatas paling tinggi hanya menyentuh kebenaran berdasar ‘logika’ tidak bisa menyentuh hakikat tertinggi dan terdalam dari segala suatu,itu sebab estafet ilmu pengetahuan untuk sampai kepada mengenal hakikat terdalam dari segala suatu hanya bisa terjadi bila manusia disentuh oleh tuntunan kitab suci…..

Untuk membantu memperoleh jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan diatas itu,kita buat analogi - analogi seperti ini :

Sebuah ceritera sandiwara dengan adegan yang teramat beragam-berwarna warni sehingga seolah adegan yang satu tidak saling berhubungan dengan adegan yang lain, apakah itu menunjukkan bahwa ceritera sandiwara itu tidak memiliki pembuat ceritera, sehingga yang terjadi diatas panggung hanya adegan spontan para pemainnya belaka, atau apakah keragaman adegan itu menunjukkan ceritera sandiwara itu dibuat oleh pembuat ceritera yang banyak ?

Seorang sutradara-pembuat ceritera film atau sandiwara toh berkuasa penuh untuk membuat adegan yang bagaimanapun diatas panggung,tetapi apakah sang pembuat ceritera tunduk pada tuntutan dan logika para penonton atau ia memiliki visi tersendiri atas ceritera yang dibuatnya ?

Seorang pembuat ceritera bisa saja membuat tokoh serba super yang memungkinkan panggung sandiwara tidak dikuasai secara berlama lama oleh para antagonis,sebagaimana yang menjadi tuntutan para penonton yang sangat gemas bila sang antagonis dibiarkan terlalu berlama lama berkuasa atas panggung sandiwara…tetapi bila sang pembuat ceritera memiliki visi tersendiri tentang bagaimana sebenarnya sebuah ceritera harus dijalankan serta bagaimana sebenarnya wujud serta karakter sang pahlawan yang harus hadir (?)…

Itulah dalam kehidupan banyak yang gemas mengapa kejahatan demikian merajalelanya seolah ‘Tuhan tidak ada’ karena dianggap tidak bertindak,atau mengapa ‘saingan saingan’ Tuhan dibiarkan sedemikian banyaknya sehingga Tuhan seolah menjadi ‘banyak’…sehingga mencari atau mendeskripsikan Tuhan yang satu seolah menjadi sulit ?…

Sebab itu ungkapan ‘Tuhan tidak ada’-‘Tuhan itu banyak’ sejatinya hanya merupakan persepsi manusiawi belaka….analoginya hanyalah logika para penonton yang tidak tahu untuk apa sebuah sandiwara dibuat dan bagaimana sebenarnya sebuah ceritera sandiwara harus dijalankan…..

————————————————————————————————————–

Itulah…. adegan panggung sandiwara yang di desain Tuhan bagi hadirnya sang pahlawan yang sebenarnya dari panggung sejarah kehidupan manusia :

Ilmu pengetahuan Ilahiah ………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: