Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dani Yahya

antara kopi, membaca, berkomentar, dan sedikit menulis, semacam kesenangan seorang anak yang suka mencorat-caret apa selengkapnya

Pustun, pustun, pustun…

OPINI | 21 May 2013 | 17:44 Dibaca: 385   Komentar: 12   0

Saya berusaha untuk tidak ikut larut  ‘mencemberuti ‘ apa yang telah dilakukan pustun sebagai seorang ‘manusia’ yang sekarang berada dipusaran berita menembus dasar kehidupannya sehingga memporak porandakan apa yang ada sebagai sesuatu yang sepatutnya tidak terjadi itu, apa yang terlempar adalah segala dosa-dosa berterbangan dari segala arah begitu jika hendak dibilang dosa sebab apa yang telah dia perbuat itu lebih dekat kepada dosa, maka jatuhlah ia dari pelana kuda seperti pangeran terhujam mata panah, cep!

Dari baju besinya berhamburan segala apa yang pernah tersembunyi, uang yang bertebaran  di lipatan perempuan-perempuan cantik terpapar dan yang paling disukai dan dicintai banyak manusia adalah harta benda dunia dari emas dan perak serta kendaraan-kendaraan, rumah sebagai perhiasan, kini semua itu telah ditampakan akan keberadaannya dan tuhan menetapkan dia dalam segala kesusahan dari apa yang pernah dia perbuat.

Dirampas apa yang telah dimilikinya lewat tangan-tangan yang telah ditetapkan oleh tuhan kemarin dia pernah bersekutu dan berniaga pada kaumnya dia berada ditempat tinggi singga sana yang bergelimang kenikmatan :  Pustun , Hehehe.., Besok pagi. Ismak ismak e kalam la arab ya ana. Ee ee huwa hiya tukdhil khamaniya alaf batruk ton alheim, Ee tsamaniya (tertulis khamaniya) alaf alheim ee huwa hiya ta I dunna kullu annukhud arbain miliar cash, dst. Dst. Kira-kira begitu bagian ucapan-ucapan dimana jika tuhan sudah berkehendak pada manusia, rusaklah_maka rusak lah dia!, ya vitalia sesya   pustun putun pustun , Hehehehehehehehehehehehe…..

Ada pelajaran didalamnya bagi orang – orang yang berpengetahuan bahwa dunia adalah tempat main-main belaka maka bersikap benarlah terhadap kehidupan supaya kamu tidak berbuat apa yang melampau batas itu dan kamu lalai mengingat kebenaran bahwa  pesuruh-pesuruh tuhan mengintaimu lewat tangan manusia maka ketika datangnya itu telah ditetapkan, tak ada yang bisa diingkari, cep!

Berpulang akan pemberitaan itu, tak ada aku ingin katakan sesuatu untuk semakin mempersulit diri orang yang telah diperingatkan itu secara opini, sudah selayaknya aku bersyukur sebab tak diberi kekayaan sebagaimana : pustun, pustun, pustun itu, andai aja kekayaan dan apa yang aku usahakan itu seperti keberadaannya mungkin aku serupa saja dengan pustun, pusun, pustun itu, ternyata bersyukur dan tidak serakah itu menyelamatkan orang akan kakinya sendiri dari tali-tali yang menjebak, hendaknya banyaklah belajar wahai manusia dari sekelilingmu dan janganlah menambah penderitaan orang lain dengan caci maki tapi carilah hikmah didalamnya, amin….., pustun, pustun, pustun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 11:15

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia, Berapa? …

Bambang Trim | | 31 August 2014 | 12:37

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | | 31 August 2014 | 11:24

Senja Kala Laut Mati …

Andre Jayaprana | | 31 August 2014 | 13:15

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Sisi Lain Kasus Florence Sihombing …

Yeano Andhika | 3 jam lalu

Jokowi Melakukan Kebodohan Politik Besar? …

Daniel Yonathan Mis... | 6 jam lalu

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 8 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 10 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mudahnya Membelah Cologne Dalam Hitungan …

Gaganawati | 8 jam lalu

Ahmad Hanafi Rais, Embrio Regenerasi …

Adrianus Malaloi | 8 jam lalu

Pemanasan Global dan Perubahan Keseimbangan …

Dino Fitriza | 9 jam lalu

Berjodoh, Ditangan atau Kehendak Tuhan? …

Lindung Pardede | 9 jam lalu

Hukumlah Florence di Media Sosial, Jangan …

Jonminofri Nazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: