Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aborsi Kalangan Remaja di Indonesia

OPINI | 16 May 2013 | 15:32 Dibaca: 367   Komentar: 0   0

Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.

Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:
1.
Aborsi Spontan / Alamiah
2.
Aborsi Buatan / Sengaja
3.
Aborsi Terapeutik / Medis

Aborsi spontan / alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun.  Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma, sedangkan
Aborsi buatan / sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
Aborsi terapeutik / medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik.  Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

Kasus aborsi memang menjadi topik pembicaraan hangat baru-baru ini di Indonesia lantaran hal itu nampaknya sudah menjadi hal yang lazim di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, utamanya bagi para remaja. Proses aborsi atau kesengajaan menggugurkan kandungan dahulu hanya dilakukan oleh dokter untuk kepentingan medis, misalnya dalam kasus ibu hamil yang bayinya meninggal di dalam rahim. Untuk mengeluarkan jasad bayi tersebut, maka tim dokter harus mengupayakan proses aborsi atau pengguguran paksa.

Namun seiring berkembangnya zaman dan pola pergaulan remaja di Indonesia, kasus aborsi nampaknya sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi. Banyak remaja penerus bangsa yang diketahui oleh nekat menempuh jalan haram ini lantaran mengalami kehamilan di luar nikah yang merupakan buah dari perilaku seks bebas pra nikah dengan kekasih mereka. Pada kenyataannya, para remaja yang hamil di luar nikah itu takut untuk berterus terang kepada orang tua mereka dan memilih jalan belakang, dan jalan belakang yang mereka pilih sering kali bermuara pada proses aborsi. Kejadian ini jelas merupakan sebuah ironi bagi bangsa kita tercinta lantaran tak sedikit pula remaja yang meninggal karena proses pengguguran paksa janin yang hidup di dalam rahim gadis yang bersangkutan.

Ada berbagai cara yang biasa ditempuh remaja yang hamil di luar nikah untuk menggugurkan janin yang mereka kandung. Beberapa cara yang ditempuh dalam kasus aborsi itu misalnya dengan meminum pil peluruh janin atau dengan mendatangi tempat dukun pijat yang khusus menangani proses aborsi. Namun yang perlu digarisbawahi adalah semua ini merupakan langkah yang tidak aman karena melakukannya dengan cara illegal. Kita bisa saja tidak mengetahui dosis yang tepat guna mengkonsumsi obat peluruh janin yang bisa berujung pada kematian lantaran over dosis.

Atau jika remaja memilih menggugurkan kandungan dengan mengunjungi panti pijat, hal itu akan berbahaya bagi nyawa mereka sendiri karena dalam kasus aborsi dengan cara ini, perut mereka akan dipijat paksa agar janin di dalamnya mati. Hal ini tentu dapat memicu pendarahan hebat yang berujung pada kematian. Bisa saja resiko timbul apabila mereka menjadi korban maal praktek dari si dukun pijat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 8 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 13 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 19 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | 8 jam lalu

Anaphalis …

Riki Asiansyah | 8 jam lalu

Dan Memang Benar …

Vincensia Enggar | 8 jam lalu

Cyberspyphobia, Takut Diawasi di Internet …

Muhammad Muizzsuddi... | 8 jam lalu

Cacatan Kecil Mahasiswi Bisu …

Suryani Mursya | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: