Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Jeremias Jena

Anak daerah yang bekerja sebagai guru di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Para Perempuan di Sekitar Ahmad Fathana dan Logika Kita

REP | 15 May 2013 | 08:00 Dibaca: 1066   Komentar: 7   0

Apakah kekuasaan mampu menaklukkan kekuatan seks, atau justru sebaliknya?
Apakah kekuasaan mampu menaklukkan kekuatan seks, atau justru sebaliknya? (Sumber:  http://www.cartoonmovement.com/depot/cartoons/2011/02/w_p3aU4SRBObdmRdTm_Mig.jpeg)

Kasus Ahmad Fathana dalam pusaran impor daging sapi semakin hari semakin memunculkan berbagai kejutan. Laksana sebuah drama, kisah seputar keterlibatan pengusaha yang punya hubungan dekat dengan salah satu Partai Politik tersebut sulit diprediksi kapan klimaksnya. Dan yang menarik, kejutan-kejutan itu menyelinap masuk ke ranah publik sebagai semacam thrilling dalam film horor ketika kita sulit menebak seperti apa kisah itu akan berakhir. Kisah mengalirnya uang puluhan, ratusan, bahkan milyaran rupiah ke rekening beberapa perempuan – konon 20 perempuan sudah terdeteksi pernah menerima aliran uang dari sang pengusaha – mungkin yang menjadi paling menarik untuk disimak. Pemberitaan media massa seputar kisah ini difokus dan di-frame sebegitu rupa sehingga kita seakan kehilangan jejak bahwa kita sedang menyimak sebuah kisah kriminal pencucian uang atau korupsi, dan bukan kisah cinta. Tetapi lagi-lagi, yang menarik dijual adalah sisi cinta yang mengiringi kisah itu, mungkin karena pemberitaan mengenai korupsi di Republik ini bukanlah hal yang baru.

Di benak publik pun pasti muncul banyak tanda tanya. Jika ini adalah kasus pencucian uang, mengapa harus dilakukan melalui rekening para perempuan yang nota bene bukan pengusaha? Apakah pemberian uang kepada para perempuan itu menjadi semacam tindakan karitatif atau dalam bahasa agama menyantuni perempuan, anak yatim dan para janda? Atau, apakah ada interes tertentu di balik pemberian uang tersebut? Meminjam kata-kata dari mulut Septi Sanustika, istri Ahmad Fathana sendiri ketika menyindir para perempuan penerima uang dari suaminya, “Jika mereka perempuan baik-baik, kenapa menerima uang dari laki-laki yang adalah suami orang?”

Dua term bisa diangkat sebagai kata kunci untuk ditafsir lebih lanjut. Pertama, “perempuan baik-baik”. Kedua, “suami orang”. Secara tidak sadar, Septi sebenarnya sedang bermain dengan dua gagasan moral yang bisa jadi mewakili nilai dan tradisi masyarakat kita. Pertama, konsep tentang orang baik atau tepatnya perempuan baik. Di bawah sadar Septi dan mungkin kita semua, perempuan baik-baik adalah mereka yang tahu diri, yang tidak melacurkan diri demi alasan apapun, yang menghormati tubuhnya hanya untuk suaminya, yang berbakti pada sang suami, dan seterusnya. Ini sebuah pandangan moral dari sebuah masyarakat dengan tradisi moral tertentu pula, yang melihat perempuan sebagai “abdi” suami.

Pandangan semacam ini tentu bisa diperdebatkan oleh kaum feminis atau para perempuan penganut paham kebebasan atas tubuhnya. Kaum feminis bisa jadi akan menolak gagasan bahwa perempuan adalah “abdi” suami, yang mempersembahkan seluruh tubuh dan jiwanya untuk suaminya, yang hatinya tidak mendua dan seterusnya. Kalau pun gagasan perempuan sebagai “abdi” laki-laki ini ditolak, apakah penolakan itu juga berarti seorang perempuan bebas mempergunakan tubuhnya untuk apa pun juga yang dia inginkan tentu masih bisa diperdebatkan. Masalahnya, tidak semua feminis adalah kaum pembela kebebasan atas tubuh.

Ini akan berbeda dengan kaum perempuan yang merasa bebas menggunakan tubuhnya untuk meraih apa saja yang dia inginkan, termasuk “membiarkan tubuhnya digauli tubuh lain” demi alasan apa pun (tidak hanya karena uang, suka sama suka tanpa uang pun bisa). Jika perspektif liberalis ini dipertahankan, mungkin tindakan pemberian uang oleh Ahmad Fathana bisa sedikit dimengerti. Uang bagi orang yang memiliki kekayaan seperti Beliau pertama-tama bukan sebagai alat untuk membeli kenikmatan seks. Uang adalah sarana untuk mendekatkan diri sekaligus menunjukkan kekuasaan. Bahwa dengan uang, seseorang mampu “menaklukkan” sekian banyak perempuan. Dan itu menimbulkan kenikmatan dan sensasi yang barangkali jauh lebih hebat ketimbang orgasme setelah 30-an menit bersenggama.

Kedua, gagasan mengenai suami orang. Lagi-lagi kita berhadapan dengan pemikiran bahwa suami orang itu tidak boleh dan seharusnya memang tidak diganggu. Pertanyaannya, bagaimana kalau suami orang itu yang lebih dahulu mengganggu? Mungkin kita akan menjawab, “Ya, jika suami orang itu mengganggu, kamu [kaum perempuan] tidak boleh membiarkan dirimu diganggu, jika kamu perempuan baik-baik. Perhatikan bahwa cara tafsir demikian akan kembali ke poin pertama yang saya angkat di sini, yang sebetulnya juga menegaskan bahwa perempuanlah kuncinya. Dengan kata lain, jika perempuan tahu menjaga diri – menjadi perempuan baik-baik – maka dia tidak akan membiarkan dirinya diganggu, dan dengan demikian tidak akan menjerumuskan laki-laki suami orang ke perselingkuhan.

Apakah dengan demikian, semua perempuan penerima uang dari Ahmad Fathana bukanlah perempuan baik-baik? Menurut logika yang saya bangun di sini, jawabannya adalah “YA”. Tetapi sekali lagi, gagasan semacam ini sangat kontroversial. Pertanyaan kritisnya, “Mengapa seluruh masalah perselingkuhan dan syahwat harus diarahkan kepada perempuan sebagai penyebabnya?” Persis di sinilah kita sebetulnya berhadapan dengan sebuah kultur yang memang patriarkal, yang melihat tubuh perempuan sebagai tidak lebih dari objek pemuas birahi.

Bagaimana kalau cara berpikir yang saya bangun di sini dibalik sehingga menjadi: “Jika kamu laki-laki baik-baik, kamu seharusnya sadar bahwa kamu memiliki istri dan anak, dan bahwa kesadaranmu itu bisa mencegahmu untuk tidak mengganggu atau berhubungan dengan perempuan lain selain istrimu.” Tetapi bagaimana kalau laki-laki menjawab, “Emangnya orang di luar rumah tahu kalau aku ini suami orang?” Jika jawaban sudah seperti itu, diskusi akan terus berlanjut tak berkesudahan. Dengan cara ini saya mau menyudahi refleksi saya.

Salam dan selamat beraktivitas!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 9 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 14 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 15 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 8 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 9 jam lalu

Pengembangan Mutu Akademis Berbasis Digital …

Nararya | 9 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: