Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Trina Putri Andini

Bukan kehidupan jika tidak ada proses. Bukan proses jika tidak adanya perubahan. Tetap semangat dan katakan selengkapnya

Penderitaan Itu….

OPINI | 08 May 2013 | 07:29 Dibaca: 158   Komentar: 0   0

Penderitaan bukan berarti kita hancur. Setauku penderitaan memang membuatku merasa sedih tapi di balik penderitaan aku meyakini adanya kebahagiaan. Dari lembar kerja yang ku baca penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Memang benar pernyataan itu, rasa yang membuat kita menahan dan menanggung adalah penderitaan. Menahan rasa sakit dan terpukul bukan hanya sakit yang dirasakan karena terjatuh tapi juga terjatuh dalam pilu yang melibatkan hati dan dari semua itu kita menanggung. Sungguh, inilah kehidupan buakan hanya tawa dan bahagia tapi kehidupan juga ada tangis dan derita.

Banyak orang yang merasa menderita, mulai dari mereka yang merasa takut akan sesuatu (phobia) sampai tentang perekonomian. Mereka yang merasa mempunyai phobia terhadap sesuatu lebih merasa menderita saat mereka melihatnya karena phobia itu muncul karena dirinya sendiri. Biasanya awal dari phobia itu dari ketakutan masa dulu yang mereka alami yang membuat mereka teringat sampai sekarang dan menjadi sebuah phobia yang melekat. Berbagai macam phobia yang ku tau, saperti phobia terhadap ketinggian, kegelapan, buah, hewan, keramaian dan phobia yang saya anggap agak “aneh” yaitu phobia terhadap nasi. Ya’ itulah manusia yang diciptakan-Nya ada kekurangan dan pasti ada kelebihan. Ada juga mereka yang merasa menderita karena ekonomi, ekonomi memang bahan kita untuk hidup tapi ketahuilah tidak semua kehidupan membutuhkan uang. Untuk yang pekerja keras dan ikhlas mengerjakannya, tidak ada yang sulit dan tak mungkin baginya. Tapi beda bagi mereka yang malas dan putus asa, semua terasa sulit dan selalu merasa putus asa. Satu kalimat dari seorang motivator yang selalu ku ingat, beliau mengatakan “Kejamlah sekarang pada dirimu sendiri, agar dimasa depan dunia kelak akan lunak padamu. Tapi jikalau kamu lunak dan bermalas-malasan sekarang, kelak dunia akan kejam kepadamu”. Merinding ya dengar pernyataannya… ini hanya sebagai pengingat kita temasuk saya untuk tidak lunak sekarang agar masa depan kita menyambut lunak kita.

Ada lagi satu pernyataan untuk kita yang pernah merasa menderita karena dikucilkan orang lain dari seorang laki-laki hebat berumur 54 tahun yang sangat ku cintai, beliau adalah ayahku. Beliau berkata “Jika kamu dikucilkan orang lain, balaslah ia, balas dengan dengan lembut hingga tak terasa. Seperti kamu melemparkan sehelai kapas padanya dan jangan lupa do`a kan yang baik untuknya”. Ini adalah suatu intopeksi diriku untuk tetap hebat seperti ayahku…

Catatan :
Ingatlah Allah tak akan memberikan suatu yang buruk pada hamba-Nya melebihi kemampuannya. Dan percayalah ada hikmah, senyum dan bahagia dibalik penderitaan.

Teima kasih

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

Lolos CPNS Tanpa Sogokan …

Asri . | 8 jam lalu

Jokowi, PDIP, dan SBY Demokrat …

Forro Chandra | 8 jam lalu

Meningkatkan Guru Anak Usia Dini Lebih …

Heny Darwis | 8 jam lalu

Reformator… Jangan Pernah Lengah Mengawal …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Akhirnya …

Rudi Kurniawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: