Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ikrar Poerjana

Mahasiswa filsafat Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Hindu dan Kelestarian Lingkungan

OPINI | 06 May 2013 | 11:33 Dibaca: 568   Komentar: 0   0

Mahavakya Upanisad dan Kelestarian Lingkungan

Oleh : Ikrar Purjana

Pemanfaatan alam secara tidak seimbang yang sudah menjadi kebiasaan manusia pada saat ini,dengan alasan kemakmuran bagi umat manusia ternyata malah menjadi boomerang dan memberikan dampak yang sangat buruk bukan hanya bagi manusia namun seluruh mahluk hidup yang ada di bumi, sebaliknya kemakmuran umat manusia yang menjadi tujuan dalam pemanfaatan alam secara berlebih malah tidak pernah datang namun, kehancuran bagi bumi malah semakin mengancam dihadapan kita. Tercemarnya air,tanah, bahkan udara hampir menjadi sesuatu yang biasa pada waktu kini . lapisan ozon yang berlubang,efek rumah kaca, matinya spesies langka, berkurangnya sumber daya alam dan yang paling menakutkan adalah terjadinya global warming yang mampu mengubah iklim dan mencairkan es kutub .

Setelah kita mengetahui bahwa bahaya mengancam kita, maka kita mulai menyadari bahwa pemakaian sumber daya yang tak seimbang atau berlebihan tidak mampu membuat kehidupan umat manusia makmur. Keserakahan manusia membuat ketidak harmonisan hubungan manusia dengan alam lingkungan malah membuat manusia mendekati lubang kehancuran yang amat menakutkan.

Dalam ajaran agama Hindu kelestarian lingkungan sebenarnya juga dikaji secara mendalam dalam sloka-sloka Upanisad. Kitab Upanisad adalah kitab yang mengulas hakekat Veda secara rasional. Para Yogi dan Sanyakin pada zaman dahulu menemukan upanisad melalui perenungan yang mendalam terhadap Veda lalu mereka melakukan pengujian dengan jalan meditasi, kumpulan kitab ini merupakan ajaran kebijaksanaan yang berisikan landasan filosofis yang amat dalam, orang-orang yang terpelajar dan akalnya cerdas akan sangat baik jika mempelajari dan memahami isi dari kitab-kitab upanisad. pada mulanya ada 1118 buah Upanisad akan tetapi karena pada zaman dulu ajarannya dihapal di luar kepala maka banyak sekali yang terlupakan sehingga kini diketahui ada 108 Upanisad.

Kitab-kitab upanisad secara khusus membahas hakekat Brahman, dalam Upanisad ketika Yang dibahas adalah Brahman maka sudah membahas segala-galanya karena ajaran Upanisad menekankan bahwa segala-galanya adalah Brahman, Atman adalah Brahman, kita adalah Brahman,binatang adalah Brahman, begitu juga dengan tumbuhan,air,batu dan semuanya yang ada di lingkungan kita yang mampu ditangkap dengan indrawi maupun tidak adalah Brahman. Penekanan tentang ajaran ini tertera secara tegas dalam pemikiran Sankaracarya yang mengomentari sloka- sloka dalam beberapa kitab Upanisad yang kemudian disebut dengan Adwaita Vedanta.

Esensi dari kitab-kitab Upanisad yang ada dikelompokkan kedalam Mahavakya atau dikenal dengan sloka luhur ataupun sloka agung. Mahavakya Upanisad adalah sloka-sloka yang terpilih dalam semua kitab Upanisad yang mengungkapkan satu pesan universal dalam bentuk yang sangat singkat dam ringkas. sloka-sloka Mahvakya sangat sulit untuk dipahami oleh orang-orang yang belum memahami sang “Aku” dan yang memiliki tingkat pengetahuan spiritual yang masih rendah. Namun, bagi yang bisa memahami Mahavakya akan menjadikan sebuah pengetahuan yang membuat orang tersebut mampu membiijaksanai segala yang ditemui dalam proses keberadaan termasuk membijaki alam lingkungan serta kelestariannya.

Vedanta yang bersumber salah satunya dari Upanisad menjelaskan Brahman ada di dalam seluruh ciptaan oleh karena itu pandangan tentang Tuhan dalam Upanisad diidentikkan pada paham pantheisme. Pantheisme juga menghargai lingkungan karena di dalam lingkungan adalah Brahman. Pantheisme menekankan kehidupan secara bahagia dengan hubungan yang baik dengan segela yang ada. Upanisad mengajarkan cinta dan penghormatan atas alam, alam tidak diciptakan untuk kita pergunakan secara berlebihan atau secara salah menurut upanisad kita adalah bagian yang tak terpisahkan daripada alam sehingga kita mempunyai kewajiban untuk menjaga alam seperti halnya kita menjaga diri kita sendiri. Salah satu mahavakya dari dialog di dalam candogya Upanisad menyatakan :

Tat Twam Asi (Sama Veda, Candogya Upanisad)

Tat Twam Asi diterjemahkan Itu adalah Kamu, sepintas sloka ini sangat sederhana akan tetapi jauh di dalamnya tersirat makna yang sangat luas yang memerlukan kecerdasan yang tinggi untuk memahaminya. jika telah mampu dipahamai secara sempurna maka aktualisasi ajaran ini menjadi konsekuensi alami manusia. orang tidak melakukan suatu tindakan oleh karena ajaran itu, melainkan ajaran itu hidup dan menyatu dan menjadi sifat alami manusia. Jadi tat twam asi bukanlah sebuah tongkat yang membantu orang untuk memudahkan berjalan, melainkan menjadi nafas hidup yang menjadikan kehidupan sendiri.

Itu adalah kamu, apapun yang ditunjuk, tanpa terkecuali adalah kamu sendiri, sehingga segalanya yang ada di luar diri adalah diri sendiri, tumbuhan adalah diri kita sendiri,udara adalah diri kita sendiri, begitu juga dengan binatang,air,batu,tanah dan semua yang lainnya adalah diri sendiri. Jika sudah demikian berarti apapun yang ada di alam ini adalah pada hakekatnya diri kita sendiri, lalu karena kita hidup maka merekapun juga hidup, berarti yang biasa dianggap benda mati seperti batu,tanah,air dan lain sebagainya pun hidup sama seperti diri sendiri yang hidup. Sebuah sifat alami yang dimiliki oleh sesuatu yang hidup adalah aksi – reaksi, ketika subjek memberikan aksi kepada sebuah objek maka si objek secara alami akan memberikan reaksi kepada subjek tesebut. Sebagai contoh ketika seseorang memukul seekor anjing maka anjing tersebut akan memberikan reaksi tertentu, apakah menggonggong, merintih, melarikan diri, ataupun bisa menggigit orang yang memukulnya. Begitu juga dengan lingkungan lainnya, lingkunganpun memberikan reaksi terhadap aksi yang kita berikan kepadanya. Konsep tatwam asi mengajarkan agar kita tidak melihat kehidupan hanya dari satu sisi melainkan melihat kehidupan ini dimana-mana, ini mendukung teori revalitas yang dikemukakan oleh Albert Einstein yang menyatakan bahwa energi itu terdapat dimana-mana. di Jepang, Dr.Masaru Emoto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air. Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5 derajad celcius di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, “Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)” di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, “Arigato”. Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata “setan”, kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.

Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain sebuah contoh lain yang membuktikan bahwa alam melakukan reaksi terhadap aksi adalah saat terjadi Tsunami , saat ini di barat ada penelitian yang menghebohkan yaitu tentang pengaruh emosi manusia terhadap air ,air memiliki kemampuan untuk merekam. Air juga mampu merekam pikiran manusia jadi ketika ada banjir atau tsunami itu adalah reaksi pengaruh pikiran manusia itu sendiri, ada kekerasan yang terproyeksi pada air dan air mau tidak mau menyerang manusia kembali. Dengan penelitian ini maka bisa dibuktikan jika apa pandangan dari upanisad tentang alam adalah kebenaran, lingkungan memiliki jiwa seperti halnya manusia.tentu air hanya merupakan salah satu contoh dari lingkungan yang memiliki energi kehidupan, setelah mengetahui hal ini maka sudah sepatutnya manusia mulai mencoba untuk menyayangi lingkungan seperti halnya menyayangi diri sendiri karena memang pada hakekatnya menyayangi lingkungan adalah menyayangi diri sendiri.

Dalam Veda Smrti .V.46 menyatakan bahwa “ia yang tidak menyebabkan penderitaan dalam belenggu apapun, atau kematian mahluk hidup.tetapi mengingikan keselamatan pada semua mahluk itu , ia yang mendapatkan kebahagiaan tanpa akhir”

Namun realita yang ada adalah bahwa manusia dengan kemampuannya bersama dengan ketidakpernah puasannya membuat alam ini menjadi rusak. Perilaku merusak lingkungan hidup antara lain pertumbuhan populasi manusia, konsumsi yang berlebihan akan sumberdaya alam; hutan, perikanan, sungai, laut dan seterusnya, polusi udara, air, dan daratan. Sementara itu kebutuhan pembangunan gedung-gedung juga menuntut pemenuhan berbagai bahan material seperti kayu, semen dan pasir yang diperoleh dari pengerukan sumberdaya alam yang berlebih, sehingga semakin mempertajam kerusakan lingkungan alam. Kemampuan yang dimiliki manusia bukannya menjadikan alam kearah yang lebih baik namun malah mengganggu keberadaan ekosistem dari spesies mahluk hidup seiring dengan kerusakan alam.tumbuhan yang digunakan untuk tujuan memperkaya material yang dimiliki, untuk sebuah kekayaan yang hanya akan dibawa sesaat namun yang akan menyebabkan kemiskinan SDA untuk waktu yang lama. Orang-orang tertentu sibuk untuk memburu satwa-satwa langka untuk dijual dengan harga yang mahal sehingga kembali mereka mampu memperkaya dirinya dengan kekayaan semu. Tentu saja tumbuhan dan hewan-hewan itu akan memberikan reaksi yang tidak baik untuk manusia seperti tumbuhan tidak lagi melindungi manusia dari banjir ataupun tanah longsor. Pencemaran lingkungan yang menyebabkan berbagai penyakit bagi manusia hingga Global warming yang mengancam kehidupan seluruh manusia merupakan reaksi dari alam atas apa yang manusia lakukan kepadanya, dan sudah spatutnya manusia sebagai mahluk yang memiliki kecerdasan bertanggung jawab atas itu semua. Ketika keadaan menjadi demikian maka harus ada sesuatu yang dapat membuat kecerdasan yang dimiliki manusia menjadi suatu kebijaksanaan. Manusia memerlukan kode etik apa yang bleh dan apa yang tidak, agama telah memberikan paket aturan tertentu sesuai dengan kondisi dimana agama itu berkembang. Agama Hindu di Bali memberikan beberapa jalan untuk menuju keharmonisan, diantaranya:

Tri Hita Karana yang merupakan sebuah konsep yang jenius bagi masyarakat Bali dalam menjalani proses kehidupannya, ajaran ini sudah menjadi filosofi hidup yang mengendap di masing-masing masyarakatnya.dalam upaya melestarikan lingkungan bagian dari Tri Hita Karana memiliki peran masing-masing .

Hubungan yang harmonis manusia dengan Tuhan diwujudkan dengan jalan Bakti kepada Tuhan. Dengan memuja dan menyembah Tuhan manusia merasakan sebuah ketenangan dan kenyamanan mental, agama sebagai pedoman dalam pemujaan terhadap Tuhan bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia berhubungan denganNya tapi juga mengajarkan manusia untuk selalu menjaga lingkungan tempat manusia menjalani proses kehidupan yang merupakan ciptaan Tuhan. Ini diibuktikan dari lima dasar pengorbanan agama Hindu (Panca Yajna) yang salah satunya adalah Bhuta Yajna. Dalam Isa Upanisad menyatakan “segala sesuatu di dunia ini adlah kepunyaan Brahman,oleh karena itu ambilah apa yang kamu butuhkan dan janganpernah mengambil yang lainnya atas milik siapa semua ini” dalam sloka ini menekankan agar manusia tidak bersifat konsumtif pragmatis karena dengan jalan mengonsumsi secara melebihi kebutuhannya, melainkan mampu mentransformasikan manusia untuk berjalan selaras dengan alam.

Hubungan yang harmonis antara sesama manusia membawa manusia kearah kerukunan. Dimana manusia akan saling menghormati saling toleransi, serta menghargai .dari sudut penyelamatan terhadap alam hubungan antar manusia diaplikasikan dengan menghargai dan menghormati aturan yang dibuat pemerintah tentang upaya kelestarian lingkungan. upaya pemerintah dalam kelestarian alam antara lain diwujudkan dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, serta Undang Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Adapun inti dari peraturan-peraturan tersebut adalah bagaimana manusia dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya lingkungan secara arif dan bijaksana tanpa harus merusaknya. Apabila ada penduduk baik secara individu maupun kelompok melanggar aturan tersebut maka sudah sepantasnya dikenai sanksi yang setimpal tanpa memandang status. Di lain pihak, masyarakat hendaknya mendukung program-program pemerintah yang berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Dalam bentuk inilah hubungan yang harmonis antara masyarakat dan pemerintah terjalin secara harmonis dan berdampak kelestarian terhadap alam, dengan tidak dilanggarnya aturan pemerintah tentang kelestarian lingkungan maka secara pasti alam akan terhindar dari perusakan-perusakan seperti : penebangan pohon secara liar,pemakaian SDA secara berlebih dll.

Dalam upaya penyelamatan lingkungan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam diaplikasikan dengan Bhuta Yajna dengan Bhuta Yajna manusia menjaga kesucian alam, di Bali Khususnya hal ini diwujudkan dengan upacara-upacara yang ditujukan untuk alam seperti Macaru.adanya hari suci sebagai penghormatan terhadap lingkungan seperti tumpek wariga,tumpek uye dan tilem kesanga merupakan upaya dalam penyucian alam lingkungan demi terciptanya keharmonisan, dalam hari suci tumpek wariga diyakini sebagai harinya tumbuhan oleh masyarakat Hindu di Bali yang unik disini adalah sebuah doa yang diucapkan oleh mereka yang mengatakan “kaki dan dadong” kepada tumbuhan yang diupacarai, ini menunjukkan bahwa antara manusia dengan tumbuhan masih ada ikatan persaudaraan ini sesuai dengan sloka Veda yaitu Vasudhaiva Khutumbhakam yang artinya semua mahluk hidup adalah saudara, sehingga akan muncul rasa cinta kasih terhadap mahluk lain ketika manusia mampu menganggap bahwa semua mahluk adalah saudara sendiri. Upacara-upacara lain yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup ini disebut upacara Bhuta Yajna dengan berbagai jenis atau tingkatannya, Dari yang paling sederhana mempersembahkan sejumput nasi setelah memasak, sampai pula Tawur atau Caru Ekadasa Rudra yang dilakukan seratus tahun sekali dan ternyata penghormatan kepada alam yang dilakukan dengan upacara tertentu secara otomatis manusia memberikan energi positif kepada alam sehingga karena adanya hukum aksi dan reaksi maka alam akan mereaksi dengan positif juga .Tentu saja Bhuta Yajna tidak hanya diwujudkan dengan ritual-ritual, bentuk Bhuta Yajna yang paling signifikan adalah Konservasi alam antara lain, melestarikan hutan,menjaga sumber daya alam,menjaga kebersihan,memanfaatkan tanah seminimal mungkin untuk pembangunan gedung atau perumahan.bagaimana alam tetap lestari, tidak mengalami degradasi adalah tujuan Bhuta Yajna yang sesungguhnnya. Dengan demikian Tri Hita Karana sebenarnya sangat mampu untuk menyelamatkan alam yang dalam kondisi saat ini, ajaran ini ketika diaplikasikan maka akan menghasilkan keseimbangan dan menuju ke dalam keharmonisan alam.

Pemahaman Tatwam Asi merupakan sebuah jalan untuk kelestarian lingkungan, setelah pemahaman “Itu adalah Kamu maka” kesadaran adalah segala-galanya adalah diri sendiri akan tumbuh, begitu juga pemahaman tentang Aham Brahman Asmi bahwa diri sendiri adalah Brahman. Ketika ini telah disadari maka manusia akan mampu menyadari bahwa segala yang ada adalah bagian dari dirinya, sehingga secara otomatis manusia akan tahu bahwa betapa ruginya jika mereka merusak bagian dari dirinya seperti halnya mereka memotong bagian tubuh mereka.

Itu merupakan beberapa jalan yang diajukan Hindu untuk manusia mampu memanfaatkan kecerdasannya untuk membijaksanai demi keharmonsan lingkungan, dan tentu masih banyak lagi konsep dan jalan lainnya dari pandangan Hindu.

Pemanfaatan alam secara tidak seimbang demi kemakmuran umat manusia ternyata berbalik membawa manusia kedalam kerusakan lingkungan yang membahaykan umat manusia sendiri ,kehancuran bagi bumi malah semakin mengancam dihadapan kita. Tercemarnya air,tanah, bahkan udara hampir menjadi sesuatu yang biasa pada waktu kini . Setelah kita mengetahui bahwa bahaya mengancam kita , maka kita mulai menyadari bahwa pemakaian sumber daya yang tak seimbang atau berlebihan tidak mampu membuat kehidupan umat manusia makmur.

Dalam ajaran agama Hindu kelestarian lingkungan sebenarnya juga dikaji secara mendalam dalam sloka-sloka Upanisad.Kitab Upanisad adalah kitab yang mengulas hakekat Veda secara rasional . Pemahaman Sloka Mahavakya upanisad seperti Tatwam asi, Aham Brahman Asmin dan Vasudhaiva Kutumbhakam mengajak manusia untuk mampu melihat bahwa alam merupakan bagian dari dirinya, sehingga sloka ini juga mampu memberi pemahaman agar manusia menjaga dirinya sendiri selayaknya menjaga bagian dari dirinya. Seperti halnya manusia menjaga bagian dari tubuh, sperti tangan atau kaki. Dan hal ini didukung oleh berbagai penelitian.Agama Hindu telah memberikan berbagai jalan demi kelestarian lingkungan antara lain Tri Hita Karana dan Pemahaman Mahavakya Upanisad sehingga mampu mewujudkan alam yang harmonis.

Sumber:

· Suwantana, I Gede,2011,Petikan Dawai Vedanta.Ashram Gandhi Puri.

· Cudamani,1991,Pengantar Penghayatan Upanisad.Hanuman sakti Jakarta.

· Juan Mascaro,Swami Harshnanda,2010,Upanisad Himalaya Jiwa.Media Hindu.

· Putu Putra,Ngakan,2008,Tuhan Upanisad.Media Hindu.

· Ngurah Sudiana,I gusti,2007,Berkah Sloka Dalam Weda.Manik Geni.

· aksesdunia.com/2012/keajaiban-kristal-air-saat-diperdengarkan-musik-dan doa/#ixzz1sAfIb

www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=499&Itemid=79&limit=1&limitstart=1

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sumber Air Bersih di Desa Kami Semakin …

Tarjum | | 19 December 2014 | 21:08

JKN “Mimpi” bagi Masyarakat …

Yosua Panjaitan | | 20 December 2014 | 07:22

Sepinggan, The Best Airport 2014 …

Heru Legowo | | 19 December 2014 | 18:10

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 12 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 13 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: