Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rumahkayu

Ketika daunilalang dan sukangeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Doa Si Kecil dan Bukti Bahwa Tuhan Akan Mencukupkan Rejeki (1)

OPINI | 05 May 2013 | 09:58 Dibaca: 783   Komentar: 12   1

Tuhan Maha Pemurah, dan mengabulkan doa tanpa memandang usia…

DUA tahun yang lalu, kami berangkat umroh. Allah membuat perjalanan itu menjadi perjalanan indah yang akan selalu kukenang sepanjang hidupku.

Bapakkulah yang sangat ingin umroh saat itu. Dan kami sekeluarga selalu dengan optimis berdoa, memohon pada Allah agar keinginan Bapak tercapai. Walau di atas kertas, sebetulnya itu sulit sekali.

13677425861980083326

Masjid Nabawi Madinah. Gambar: www.pixoto.com

Saat menyatakan kerinduannya untuk sekali lagi menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk kedua kalinya setelah menunaikan ibadah haji bersama Ibu beberapa belas tahun yang lalu, kondisi kesehatan Bapak sudah kurang baik. Tidak baik, tepatnya.

Dalam satu bulan ada saja satu dua minggu yang harus dilewatkan Bapak di Rumah Sakit.

Tapi kami semua selalu percaya, jika Allah berkehendak, apapun akan bisa terjadi.

Karenanya, saat mendengar Bapak ingin umroh, kami semua mengamini. Dan kendati Bapak tak sepatah katapun pernah meminta kami untuk membiayai, kami tetap berusaha menabung untuk itu.

Kembali, Allah menunjukkan kuasanya. Kami kakak beradik semua berusaha menabung, berniat untuk mengupayakan keberangkatan orang tua kami pergi umroh, bahkan dalam hal ini suamiku sudah mengatakan padaku untuk menjual segera sebidang tanah yang kami miliki agar dapat membiayai umroh Bapak dan Ibu dan rencananya kami sekeluarga — suami, aku dan anak- anak — berangkat semua mengantar Bapak dan Ibu kesana.

Anehnya, semua upaya itu tak berhasil. Tabungan kami tak kunjung mencapai jumlah yang harus terkumpul agar Bapak dan Ibu bisa berangkat dan ada di antara kami anak- anaknya yang bisa mengantar. Tanah yang telah diputuskan untuk dijual, yang seharusnya juga mudah dijual karena lokasinya sangat strategis, tak juga terjual.

Belakangan kupahami, itu semua memang rencana Allah. Allah yang mengatur rejeki. Allah pula yang mengatur, pada siapa pahala harus mengalir.

Sebab pada akhirnya, keajaiban terjadi. Bapakku membaik kondisi kesehatannya pada suatu saat, cukup baik untuk bisa berangkat umroh, dan di saat itu, tanah milik Bapak yang tadinya bahkan tak berniat untuk dijual-lah yang tiba- tiba terjual. Transaksi terjadi hanya dalam waktu singkat tak lama setelah Bapak meminta adikku untuk menjual tanah tersebut. Bahkan sebelum adikku sempat memasang iklan, secara kebetulan di hari yang sama adikku bertemu dengan seseorang yang mengenal Bapak dan menanyakan pada adikku apakah Bapak berniat menjual tanahnya “yang itu” — persis lokasi yang disebutkan Bapak pada pagi harinya untuk dijual, sebab orang tersebut tertarik membelinya.

Pendek kata, semua transaksi dilunasi dalam satu minggu, bahkan dengan harga jual di atas harga pasar. Dan keputusan cepat dibuat. Rapat keluarga memutuskan untuk menyegerakan keberangkatan. Lalu satu anak perempuan dan satu anak lelaki diharapkan menemani Bapak dan Ibu ke Tanah Suci.

1367738131630496396

Kubah Hijau Rumah Rasulullah di Masjid Nabawi. Gambar: www.islamicsupremecouncil.com

Aku satu- satunya anak perempuan dalam keluarga. Jadi tak ada pilihan lain, aku yang akan berangkat. Lalu dipilih satu orang adik lelakiku untuk juga menemani.

Soal biaya, dari yang tadinya kami semua sebetulnya berniat memberangkatkan Bapak dan Ibu, menjadi terbalik sebab kamilah yang akhirnya dibayari Bapak dan Ibu.

Aku.. sungguh antara senang dan sedih sebetulnya saat itu.

Aku bahagia keinginan Bapak akan terwujud. Aku juga sangat bahagia bahwa mimpiku untuk suatu saat berada di Tanah Suci bersama kedua orang tuaku akan terwujud. Tapi…

Aku memiliki mimpi yang lain.

Segera setelah menikah, mimpi ini muncul: suatu saat kelak, jika aku untuk pertama kalinya berada di Tanah Suci, aku akan berada disana bersama suamiku.

Ketika suamiku menawarkan padaku untuk menjual saja tanah kami untuk biaya umroh Bapak dan Ibu beserta kami sekeluarga, aku sudah senang sekali. Lalu ternyata.. Akhirnya itu tak terjadi sebab tanah tersebut tak kunjung terjual.

Ah.. adakah Allah memang menghendaki agar aku lebih dulu menginjak Tanah Suci dibanding suamiku?

Suamiku mengijinkan aku pergi mengantar Bapak dan Ibu tanpa dirinya. Aku tahu, dia ikhlas. Tapi aku…

Ada sesuatu yang terasa berat di dada…

p.s. bersambung ke bagian-2 . bagian sebelumnya ada disini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazerâ„¢ | 16 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 17 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 19 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: