Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Erna Suminar

Menulis kembali bagiku seperti titik balik hidup, dan belajar melihat hidup serta untuk menemukan makna selengkapnya

Ketika Rasa Sakit Tiba

OPINI | 04 May 2013 | 16:55 Dibaca: 628   Komentar: 12   6

Di antara sekian banyak syair-syair Jalaluddin Rumi yang begitu menelusup dalam ke latar jiwa, ada sebuah syair yang begitu lembut dan agung, tentang betapa tangan Tuhan sedang bekerja pada orang-orang yang sakit dan orang-orang yang dilingkupi penderitaan di dalam kehidupannya :

Rasa sakit akan timbul ketika dengan sadar
diri dicermati: rasa sakit itulah yang akan
mengeluarkan seseorang dari hijab bangga-diri.[1]

Apakah kita merasa hidup ini tenang-tenang saja, tanpa resiko yang dihadapi, tanpa tantangan yang berarti? Konon, orang yang menjalani hidup ini sebagai tiupan angin lembut dan ayunan gelombang dalam kolam ikan, atau mungkin juga riakan aquarium dan datar-datar saja dalam sebuah zona nyaman adalah orang-orang yang semestinya menangisi diri. Ia adalah orang yang harus mempertanyakan posisi dan kualitas dirinya di tengah kehidupan. Seperti seorang nelayan, ia tidak puas mencari ikan di bibir pantai, melainkan mendayung perahu ke tengah lautan. Semakin jauh dari bibir pantai, maka ia akan semakin banyak mendapatkan tangkapan dengan berbagai jenis ikan. Ia juga akan memiliki pengalaman bagaimana menaklukan dan menyiasati gelombang. Para pelaut dan nelayanlah yang akan menemukan banyak makna kehidupan bukan orang yang menjaring ikan di tepian.

Berbicara tentang penderitaan dan zona nyaman ini, bukanlah hal baru. Banyak literatur yang bercerita tentang orang-orang yang sukses menemukan makna kehidupan setelah melewati banyak penderitaan, misalnya Sidharta Gautama. Pendiri agama Buddha ini meningalkan kenyamanan hidupnya untuk mencari arti kehidupan. Sebagai seorang putra bangsawan yang bernama Shuddhodana, tak ada tantangan sama sekali dalam hidupnya, sampai pada akhirnya ia memutuskan mencari kehidupan bathin. Sebenarnya, sebagai seorang ksatria ia mungkin suatu hari akan berhadapan dengan situasi perang untuk menaklukan musuh. Namun, Sidharta melihat ada perang yang sebenarnya lebih dahsyat, yakni pertempuran yang berasal dari dalam diri. Sang Buddha terus menaklukan diri dari kecanduan kepada kesenangan. Ia menghayati dengan seksama tentang kelahiran, sakit, kematian,kelahiran kembali dan tentang tanya yang tak terjawab. Sang Buddha terus menempa dirinya untuk melerai racun-racun jiwa, seperti amarah, hawa nafsu dan keinginan untuk memenangkan ego diri, agar ia dapat mencermati, “aku” lalu menggenggamnya. Sampailah pada sebuah penerangan tentang, apa arti rasa sakit. Menurut ajaran Buddha : sakit, usia tua, kematian sebagai ciri dari penderitaan merupakan proses yang niscaya yang akan memberikan makna dan hikmah dalam perjalanan mencapai tujuan tertinggi. Tetapi, ada yang lebih penting daripada itu yakni, kesehatan mental, bagaimana menyikapi rasa sakit, yakni dengan cara mengikhlaskan kedatangannya dengan penuh ketenangan. Para terapi Buddhis mengatakan bahwa penyebab tubuh ini menjadi sakit dan sehat adalah karena adanya melalui perasaan jasmani (rasa sakit) dan keadaan pikiran (emosi-emosi) yang mempengaruhinya. Dengan begitu, apabila tubuh ini ingin tetap sehat, hendaknya menyadari segala bentuk-bentuk pikiran emosi-emosi yang timbul dalam diri. Yang dimaksud dengan bentuk pikiran yang menyebabkan penderitaan adalah: (1). Keserakahan, (2). Harga diri yang terluka, (3). Iri hati, (4). Kebencian, (5). Kekhawatiran-kekhawatiran.[2]

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Edward E Smith, Direktur ilmu saraf kognitif di Columbia University, Australia ditemukan, orang yang kehilangan orang yang dicintainya dengan kepedihan yang mendalam diperkirakan memiliki risiko terkena serangan jantung 6 kali lipat lebih besar. Penelitian ini dikuatkan dari Universitas Duke yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (2005)  menunjukkan bahwa stres yang berlebihan, dapat memicu hormon adrenalin 3 - 4 kali lipat dan berisiko terkena serangan jantung. Stres luar biasa diyakini sebagai suatu penyebab. Kondisi ini ternyata dapat mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah.

Sementara itu, oleh Michael Babyak dari Universitas Duke (lagi) dan rekan-rekannya membuat penelitian lain lagi di Amerika selama 22 tahun dengan sampel 750 orang. Ditemukan, bahwa orang yang senang memusuhi orang lain, tidak suka berteman memiliki peluang 60% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang ramah, senang berteman dan berbicara tenang.[3] Dalam penelitian di rumah sakit Lehigh Valley Pennsylvania menemukan, bahwa orang yang gampang marah, menyimpan perasaan bermusuhan, suka bersikap sinis, agresif berkaitan erat dengan peningkatan kematian akibat penyakit infark jantung.[4]

Namun, reaksi-reaksi tubuh kepada masalah-masalah di luar sesungguhnya itu sangat manusiawi. Terkadang orang sering lupa, apabila ditimpa masalah yang sama, misalnya duka cita yang mendalam karena pengkhianatan oleh orang yang dicintainya apakah mereka akan sekuat itu? Kita tidak bisa selalu memvonis seseorang sakit jantung atau kanker karena kegagalan menyikapi derita dalam hidupnya. Kita tidak bisa menghakimi orang lain sebelum merasakan andai seperti dirinya. Karena dalam kehidupan ini banyak variable yang tak terduga, dan tak semudah teori-teori kehidupan seperti yang biasa didengungkan para motivator dan hasil penelitian yang dilakukan secara kwantitatif. Dengan arif, Jalaluddin Rumi berkata dalam syairnya :

Yang tak merasakan sakit itu penyamun,

Karena tanpa merasakan sakit, itu sama artinya dengan mengatakan,

Aku lah Rabb.[5]



Belajar Dari Kehidupan Para Nabi

Dalam kisah-kisah sejarah kehidupan, hampir tak ada orang-orang yang sukses tanpa melewati sebuah penderitaan. Al Qur’an memuji para rasul yang melewati penderitaan demi penderitaan yang berakhir dengan kemenangan. Kemenangan di dalam Al Qur’an tak ada yang terkait sedikitpun dengan tolok ukur secara matematis, misalnya jumlah kekayaan, tetapi bagaimana para Rasulullah itu dapat memenangkan pertempuran dengan dirinya sendiri, menaklukan ego untuk tetap dalam ketaatan kepada Tuhannya, dan menyeru manusia untuk menyembah Allah, bukan selainNya. Manusia, dalam pandangan Islam, ia adalah makhluk ruhani. Adapun tubuh hanyalah tunggangan dari ruh yang menjadi irama jiwa dan akan menjadi parameter kualitas kehidupan. Jiwa itu datang dari alam keabadian, manusia sesungguhnya adalah makhluk akhirat yang sedang menjalani hidup dalam fananya dunia. Tubuh seperti halnya bumi, suatu waktu akan hancur, hanya jiwa yang akan kekal abadi.

Sakit dalam pandangan Islam, adalah sebuah ujian dan sangat manusiawi, sebagai sebuah alarm yang mengajari tentang kefanaan, mengajari hikmah dan kearifan. Di sana ada latihan kesabaran, seperti ketenangan dan kesabaran nabi Ayyub. Dalam penderitaan, ada ujian bagaimana mengatasi rasa sakit dengan berusaha untuk sembuh, dengan sebuah keyakinan, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Setiap penyakit ada obatnya..” Al Qur’an juga menandaskan, tentang diturunkan-Nya Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang beriman.(Al Isra’ :82). Karenanya, orang-orang yang sering mendaras Qur’an ternyata jiwanya lebih stabil, wajahnya lebih tenang dan berseri-seri. Secara langsung, orang-orang yang menyelami kitab suci dan berusaha mengamalkannya sekalipun jauh dari kesempurnaan, jiwanya lebih tentram. Umumnya mereka mampu menyikapi sakit dengan cara yang lebih tegar dan tenang.

Wahai Tuhan, segala yang Engkau berikan padaku adalah izin-Mu

Jika Engkau memberikan derita dan sakit ini sebagai kasih sayang-Mu

Aku, hamba-Mu adalah orang yang terpilih untuk Engkau naikan derajat di sisi-Mu

Aku menyambutnya..

Selamat datang wahai sakit, berilah aku kekuatan dan kesabaran di dalamnya..

Tulisan ini akan ditutup oleh syair yang begitu lembut Jalaluddin Rumi menulis untuk orang-orang yang ditimpa penderitaan dan sakit untuk tetap dalam ketenangan dan harapan :

Dialah yang sebenarnya menggenggam tanganmu ketika
engkau digerakkan menelusuri Jalan;
Dialah yang sesungguhnya memikul beban-beratmu
di pendakian panjang ini: berharaplah, agar engkau,
dari saat ke saat, dilimpahi Hembusan yang Maha Rahman
.[6]

1367661010137316884


[1] http://ngrumi.blogspot.com/2010/05/ketika-rasa-sakit-tiba.html

[2] http://id.netlog.com/ksubho/blog/blogid=12623

[3] Mulyana, Deddy, “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2005, hlm. 21.

[4] Ibid.

[5] http://ngrumi.blogspot.com/2010/05/ketika-rasa-sakit-tiba.html

Tags: erna suminar

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Terapi Cahaya PINK di Rosereve Plaza …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Menanti …

Rizki Fujiyanti | 8 jam lalu

Let’s Do Together …

Ayumulya | 8 jam lalu

Jokowi: Buah Demokrasi atau Kegagalan Total …

Jaka Pujiyono | 8 jam lalu

Banjir Melanda SMP Rehoboth Formasi …

Jurnalis Warga Samb... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: