Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Zahir Makkaraka

Mahasiswa PEP PPs UNM. "Lebih baik menunggu orang yang tepat, daripada menghabiskan waktu dalam kesia-siaan! selengkapnya

Pesan Guruku

OPINI | 02 May 2013 | 15:35 Dibaca: 253   Komentar: 2   2

13674773531888200445

Setiap manusia adalah guru, setiap tempat adalah madrasah, dan setiap peristiwa adalah pembelajaran” (Ali Syariati)

Tak terasa sudah 21 tahun aku mengenyam dunia pendidikan formal, 9 tahun di kampung, selebihnya di “Kota Daeng” hingga sekarang. Jenjang pendidikan formal sudah kulewati, kecuali TK atau PAUD. Mungkin karena tidak pernah jadi murid TK dan PAUD, aku tidak tahu menyanyi atau menggambar binatang, hanya menggambar jaringan instalasi listrik dan jalur elektronika di PCB yang aku bisa. Peralihan jenjang itu tentunya menyisakan kisah-kisah yang begitu cemerlang, bukan berarti tidak ada cerita suram di dalamnya. Ada, tapi ingatanku sekarang tidak bisa merabanya terlalu sensitif.

Setiap jenjang punya cerita, ibarat pepatah “lain lubuk, lain ikannya”. Kali ini aku hanya ingin berbagi pesan dari sekian banyak orang yang kuanggap guru, entah guru secara formal seperti yang ada didefenisi UU Guru dan Dosen, ataupun guru informal sebagaimana defenisiku sendiri, seperti kata Ali Syariati “Setiap Orang adalah guru”. Semua guru yang telah memberi kesan mendalam sampai saat ini masih aku ingat.

Pesan guruku di SD “orang jujur dan dermawan banyak temannya nanti”, itu yang kemudian meresap disegenap jiwa-jiwa kecilku hingga kini. Pesan ini selaras dengan pesan guru-guruku yang tidak berpakaian seragam, guru dari mimbar-mimbar pengajian yang sering aku ikuti sejak STM hingga kini. Dari merekalah aku belajar tentang makna kejujuran, dermawan dan kesederhanaan. Hai ini diperkuat dosen statistikku waktu kuliah “Kalau tidak bisa memberi manfaat, cukup tidak membawa keburukan untuk orang lain”. Pesan ini aku tulis dalam motto hidupku, di skripsiku tertera jelas, kupegang karena maknanya dalam.

Kata guruku kala SMP, saat aku dihukum karena terlambat ikut upacara hari senin “Inilah konsekuensi dari tindakanmu, terimalah sebagai bentuk tanggungjawabmu, karena laki-laki itu harus berani dan bertanggungjawab”. Pesan guruku ini seirama dengan guru-guruku di forum ilmiah, untuk hidup mulia harus amanah dan penuh tanggungjawab. Hal ini coba kumanifestasikan diduniaku, sejak STM hingga selesai S1, aku adalah pemimpin kawan-kawanku di kelas, begitupun di organisasi yang kugeluti. Setiap organisasi yang kuikuti setidaknya ada jabatan tinggi dan tertinggi yang diamanahkan kepadaku. Banyak yang sukses, tapi tidak sedikit yang mengecewakan, bagiku dan bagi orang lain. Aku harus banyak belajar dan melatih diri, agar karaktek amanah bisa kumiliki.

Kala STM, guruku memberi pesan “Kesuksesan bukan karena kamu sendiri, tapi ada orang lain yang punya andil di dalamnya”. Pesan ini kuingat kala pelepasan peserta PSG, maknanya adalah hidup ini terjalin seimbang, kerjasama dan saling menasehati harus didahulukan. Kata-kata guruku itu sejalan dengan kalimat-kalimat titah guru-guruku dibeberapa pelatihan yang kuikuti, seirama guru-guruku kala aku ikut tarbiyah dan liqo. Saleh individu haru dibarengi kesalehan sosial.

Kata-kata bijak dari guru-guruku, tidak tersurat kutemukan seketika dari bibir ranum mereka, kadang ada yang tersirat. Kadang ada yang terburai, mesti disatukan kembali, sendiriku atau dengan orang lain. Hingga sekarang, pesan-pesan guruku yang tidak bisa kuhitung jumlahnya, ingin kuabadikan. Tapi aku tak tahu dalam wujud apa. Membalas jasa mereka karena membuatku seperti ini, ingin aku lakukan. Guruku yang berdiri tegar di depan kelas, guruku yang memainkan simfoni di forum ilmiah, guruku yang nyanyikan syair kehidupan di mimbar-mimbar pengajian, guruku yang teduh di ruang pelatihan, guruku yang mewujud dalam kawan dan lawan,  guruku yang ada di telivisi, guruku yang ada di radio, guruku di dalam buku dan disegenap media, guruku yang ada di dunia nyata dan di dunia maya, guruku yang masih mengada dan telah tiada, kuhaturkan TERIMA KASIH yang tak terhingga.

TERIMA KASIH tak cukup membalas jasa-jasamu wahai guru, aku hanya murid yang masih perlu pembelajaran dan pembimbingan. Salam hormatku untukmu segenap guruku, dihari pendidikan nasional ini, kugenapkan do’a untuk mu guruku yang tak terhitung jumlahnya, salam sore!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 16 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 17 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 18 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 21 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: