Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pius Novrin

Kuliah di STF Driyarkara

Peran Ishak dalam Kehidupan Iman Abraham

OPINI | 28 April 2013 | 20:48 Dibaca: 250   Komentar: 0   0

Salah satu peristiwa yang amat terkenal dalam hidup Abraham bagi pembaca Alkitab adalah perikop “Kepercayaan Abraham diuji” (Kej. 22). Dalam perikop itu, Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, anak tunggalnya, sebagai kurban bakaran. Sebagai hamba Allah yang setia, Abraham pun menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya. Dan dari peristiwa itu, sungguh nyatalah betapa besar iman Abraham kepada Allah.

Senada dengan Alkitab begitu pula dalam Al-Qur’an. Di dalam tulisan ini kita akan melihat sekilas bagaimana perwahyuan di dalam Al-Quran memberi masukan yang berharga bagi tradisi penafsiran Alkitab Kristen. Perlu diketahui bahwa kisah “persembahan Ishak” ini juga begitu populer di kalangan muslim. Hanya saja, ada perbedaan mendasar antara Alkitab dan Quran. Qur’an tidak menyajikan cerita sedetil Alkitab. Lalu, Abraham (Ibrahim) juga tidak menyebutkan secara eksplisit siapakah nama anak yang dikurbankan oleh Abraham. Berbeda dengan para pembaca Alkitab, kaum Muslim meyakini bahwa anak itu bukanlah Ishak, melainkan Ishmael.

Kisah mengenai pengurbanan anak dalam Qur’an dibuka dengan pertanyaan dari Abraham (Ibrahim) kepada sang anak. “Oh, anakku, saya bermimpi bahwa saya harus mengurbankanmu. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?”. Si anak menjawab, “Oh, ayahku, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Jika Allah menghendaki hal itu, aku akan sabar.” (37:102).

Jika dicermati, perikop tersebut terkesan lebih menitikberatkan iman sang anak ketimbang iman Abraham. Iman sang ayah digambarkan bergantung pada iman sang anak…”bagaimana menurut pandanganmu?” Abraham mengajak anaknya untuk merefleksikan mimpi itu dan mempertimbangkan tanggapan iman macam apa yang diperlukan untuk menjawab kehendak ilahi itu.

Jawaban dari si anak pun muncul dengan segera dan begitu mantap. “Jika Allah menghendakinya, aku sabar (patient).” Respon ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan rasional dari si anak cukup tinggi. Lalu dari sisi iman, anak ini digambarkan sebagai seorang yang sungguh berserah pada kehendak Tuhan. Jawaban tegas dan penuh iman dari si anak meneguhkan iman Abraham. Jawaban itu menjadi sebuah katalis dan menjadi sebuah titik pijak bagi iman Abraham, yang kemudian memampukannya untuk melakukan apa yang menjadi kehendak ilahi.

Cuplikan perikop dari Al-Quran ini memberikan kepada para pembaca Alkitab gambaran yang lebih utuh mengenai karakter Abraham sebagai bapa orang beriman. Dari konteks ini, diperlihatkan bahwa sebagai seorang hanif, Abraham pun tak luput dari kegamangan iman. Abraham bergulat dengan hal itu dan ia pun tak segan meminta pendapat dari anaknya perihal keputusan apa yang harus dibuatnya terhadap kehendak ilahi yang terasa sungguh berat untuk dilakukan. Setelah mengalami pergulatan dan kegamangan iman yang rumit, akhirnya Abraham pun sampai pada sikap akhir yakni setia menjalankan kehendak Allah.

Aplikasi terhadap tradisi biblis

Versi Qur’an ini mengundang kita untuk membaca ulang kisah pengurbanan Ishak dalam Alkitab. Di kitab Kejadian, kita hanya punya sedikit gambaran tentang apa yang Ishak pikirkan atau rasakan di dalam peristiwa pengorbanan itu. Masukan dari Quran mengenai tokoh “sang anak” dapat membantu para pembaca Kristen untuk mengenali profil Ishak lebih dalam dan menyadari peran vitalnya dalam Kejadian 22.

Jika dibaca dengan seksama, dalam Kejadian 22 pun sepertinya ada tendensi bahwa Ishak memainkan peranan yang signifikan dalam konteks perkembangan iman Abraham. Hal ini tampak dalam ayat 7-8. “Bapa…di sini ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu? Dari kata-katanya, terlihat bahwa Ishak dapat mengevaluasi situasi sekitar melalui kekuatan rasionalnya. Ia tahu bahwa korban persembahannya tidak ada.

Beranjak dari pertanyaan Ishak tersebut, ada tafsir yang menyatakan bahwa Abraham pada waktu itu sebenarnya masih mengalami pergulatan iman untuk melaksanakan perintah Allah. Namun, respon Abraham terhadap pertanyaan Ishak lantas mengindikasikan adanya perkembangan iman Abraham. Abraham menyatakan secara eksplisit jawaban yang berisi penghayatan imannya kepada Allah… “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku.” Jadi, semakin jelas bahwa pertanyaan Ishak berperan sebagai titik kritis yang membawa iman Abraham setingkat lebih tinggi. Dengan kata lain, pertanyaan Ishak menjadi sebuah katalis yang menghantar Abraham kepada iman akan Allah.

Perikop Abraham yang mempersembahkan anaknya adalah sebuah cerita tentang pergulatan imannya. Lalu, perhatian pada peran Ishak dalam peristiwa itu membantu kita untuk melihat bahwa iman Abraham itu merupakan iman yang terus-menerus berkembang. Momen kuncinya adalah pertanyaan Ishak kepada Abraham. Setelah ia menjawab pertanyaan dari Ishak dan secara publik mengekspresikan kepercayaannya kepada Allah, ia melakukan segala cara untuk dapat merealisasikan kehendak ilahi itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 9 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 12 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 16 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 17 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 18 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: