Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rahmad Agus

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan… Insyaallah… Belajar sampai nafas terakhir. Suka selengkapnya

Kenikmatan Semu

OPINI | 28 April 2013 | 02:47 Dibaca: 315   Komentar: 2   2

Panca indera, saluran-saluran kombinasi rumit kimia fisik biologis yang bermuara di sistem syaraf pusat dan berhubungan langsung dengan jiwa atau sukma.

Pemicu-pemicu yang diterima indera, yang diantarkan hingga ke sukma, didefenisikan oleh tiap-tiap yang menerimanya berdasarkan daya pikirnya masing-masing, yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.

Ada pemicu yang standar atau baku, umumnya diakui oleh manusia, seperti api yang dirasakan panas dan menimbulkan rasa sakit apabila menyentuhnya.

Ada yang bersifat relatif, seperti suatu zat yang memiliki aroma. Sebagian orang menyukai aromanya dan bagi sebagian yang lain tidak menyukainya.

Hmmm…

Secara umum semua kenikmatan itu sudah saya alami langsung, dan bisa membayangkan semua jenis kenikmatan-kenikmatan duniawi yang umumnya diakui manusia yang tidak saya alami langsung.

Makanan, minuman, wewangian/aroma, visual, seksual, dan pemicu-pemicu yang memberikan rasa nikmat, nyaman, menyenangkan bagi jiwa…

Namun, semuanya bersifat terbatas dan temporer, tak ada satupun kenikmatan yang berlangsung terus-menerus…

Seberapa banyak, seberapa kuat dan seberapa lamanya seseorang bisa menikmati makanan terlezat di dunia ini? menikmati nikmatnya bersetubuh…? menikmati….

Alangkah malangnya mengharapkan terpenuhinya segala keinginan-keinginan di dunia yang fana ini, yang mutlak akan didatangi sang pemutus segala kenikmatan.

Alangkah menyedihkannya bagi menikmati yang semu, yang tidak perduli atau tidak meyakini yang tidak semu…

Begitu pahamnya akan makna,

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” [HR Muslim]

Begitu pahamnya bahwa semua itu adalah gambaran, contoh atau sampel untuk yang bukan semu…

Namun, pemahaman itu belum mengantarkanku kepada tahap yang dikehendaki, ke maqam nabi, shiddiq, syahid dan shalih…

Masih berkutat pada kebingunan-kebingungan…

Masih bermain-main dengan kenikmatan-kenikmatan semu dan kemunafikan…

Masih banyak noktah-noktah hitam yang menutupi lembutnya, hangatnya Sang Cahaya…

Masih sibuk, jatuh bangun, untuk berusaha menghindari noktah-noktah hitam yang turun bagai butiran-butiran hujan lebat… sementara juga sedang berusaha untuk menghapus noktah-noktah hitam yang terlanjur jatuh di permukaan hati…

Semoga sampai…

Benteng akhir pertahanan manusia… berharap…

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: