Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rahmad Agus Koto

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan… Insyaallah… Belajar sampai nafas terakhir. Suka selengkapnya

Kenikmatan Semu

OPINI | 28 April 2013 | 02:47 Dibaca: 318   Komentar: 2   2

Panca indera, saluran-saluran kombinasi rumit kimia fisik biologis yang bermuara di sistem syaraf pusat dan berhubungan langsung dengan jiwa atau sukma.

Pemicu-pemicu yang diterima indera, yang diantarkan hingga ke sukma, didefenisikan oleh tiap-tiap yang menerimanya berdasarkan daya pikirnya masing-masing, yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.

Ada pemicu yang standar atau baku, umumnya diakui oleh manusia, seperti api yang dirasakan panas dan menimbulkan rasa sakit apabila menyentuhnya.

Ada yang bersifat relatif, seperti suatu zat yang memiliki aroma. Sebagian orang menyukai aromanya dan bagi sebagian yang lain tidak menyukainya.

Hmmm…

Secara umum semua kenikmatan itu sudah saya alami langsung, dan bisa membayangkan semua jenis kenikmatan-kenikmatan duniawi yang umumnya diakui manusia yang tidak saya alami langsung.

Makanan, minuman, wewangian/aroma, visual, seksual, dan pemicu-pemicu yang memberikan rasa nikmat, nyaman, menyenangkan bagi jiwa…

Namun, semuanya bersifat terbatas dan temporer, tak ada satupun kenikmatan yang berlangsung terus-menerus…

Seberapa banyak, seberapa kuat dan seberapa lamanya seseorang bisa menikmati makanan terlezat di dunia ini? menikmati nikmatnya bersetubuh…? menikmati….

Alangkah malangnya mengharapkan terpenuhinya segala keinginan-keinginan di dunia yang fana ini, yang mutlak akan didatangi sang pemutus segala kenikmatan.

Alangkah menyedihkannya bagi menikmati yang semu, yang tidak perduli atau tidak meyakini yang tidak semu…

Begitu pahamnya akan makna,

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” [HR Muslim]

Begitu pahamnya bahwa semua itu adalah gambaran, contoh atau sampel untuk yang bukan semu…

Namun, pemahaman itu belum mengantarkanku kepada tahap yang dikehendaki, ke maqam nabi, shiddiq, syahid dan shalih…

Masih berkutat pada kebingunan-kebingungan…

Masih bermain-main dengan kenikmatan-kenikmatan semu dan kemunafikan…

Masih banyak noktah-noktah hitam yang menutupi lembutnya, hangatnya Sang Cahaya…

Masih sibuk, jatuh bangun, untuk berusaha menghindari noktah-noktah hitam yang turun bagai butiran-butiran hujan lebat… sementara juga sedang berusaha untuk menghapus noktah-noktah hitam yang terlanjur jatuh di permukaan hati…

Semoga sampai…

Benteng akhir pertahanan manusia… berharap…

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 9 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 9 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 9 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 9 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: