Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Find Leilla

sebab setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri..

Tentang Kematian

OPINI | 27 April 2013 | 09:42 Dibaca: 780   Komentar: 18   5

Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar seorang rekan meninggal. Sangat mengejutkan karena saat menjelang kematian baru diketahui bahwa rekan ini menderita penyakit leukemia. Selama hidup almarhum bahkan tak pernah mengetahui bahwa ia mengidap penyakit mematikan itu. Saat mendengar kabar kepergiannya, beberapa kami terdiam sesaat, kemudian hampir berbarengan kami menjawab, ‘kalo saja saat meninggal nanti bisa seperti itu.’ Reaksi spontan (meski tak bisa dibenarkan). Apriori. Di pikiran kami, menghadapi kematian tanpa rasa sakit tentu saja semua mau. Seperti yang ibu saya selalu bilang, ‘Kalau aku mati nanti pengennya sore-sore atau pagi setelah mandi. Udah bersih. Abis gitu tiduran. Setelah itu dipanggil Tuhan. Boleh seperti itu. Nggak sakit. Nggak merepotkan. Mommy mau yang seperti itu.’ Salahkah berpikiran begitu? Silakan saja bila mempunyai pendapat yang berbeda.

Sebagai manusia biasa saya selalu berpikir bahwa merupakan satu kebahagiaan jika saat menghadapi kematian nanti nggak merepotkan siapa saja. Dan terpenting lagi, saya nggak perlu menderita menghadapinya. Dalam pengertian kalo toh harus merasakan sakitnya, ya jangan lama-lama, hehe. Ah, seandainya saja kita bisa memilih cara kematian ya. Tapi tunggu dulu. Pernah satu kali dalam sejarah seseorang bertanya, “tuan, dosa apa yang diperbuatnya hingga ia harus mati seperti itu?’ Sang tuan menjawab, ‘jika dikatakan bahwa seseorang harus mati oleh pedang, maka ia akan mati oleh pedang.’ Buat saya ini perumpamaan yang sangat dalam.

Saya percaya setiap kita terlahir di dunia bukan karena kebetulan. Setiap kita terlahir dengan jalan hidupnya masing-masing. Sudah ada relnya. Kadang bahkan kita tak tahu relnya akan membawa kita kemana. Kadang hanya mengalir saja. Berusaha untuk percaya bahwa Sang Pemberi Hidup yang lebih tau dan sudah mengatur segalanya. Setiap detik, setiap saat dalam kehidupan, Ia yang pegang (ini iman). Kita tinggal berjalan dalam rancangan. Hidup atau mati bukan kita yang menentukan, meski tampaknya selalu saja tersedia banyak pilihan. Yang terpenting di sini bukan bagaimana cara kita mati tapi bagaimana kita menghidupi hidup yang sudah diberi itu yang jauh lebih penting dari ini.

Seperti layaknya sebuah film atau cerita yang dibuat sedemikian bagusnya, selalu ada bagian akhirnya. Tamat. Ada begitu banyak cara untuk mengakhiri sebuah cerita, bisa pahit bisa manis rasanya. Demikian pula dengan kehidupan, ada saatnya harus berakhir dan tamat. Tapi tahukah anda, hidup ini bukan bagaimana bagian akhirnya, tapi bagaimana proses setiap kejadian dari awal yang membangun keseluruhan isi cerita, itulah bagian terpentingnya.

Selamat menghidupi hidup ya!

.

#kontemplasi pagi-pagi..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 November 2014 | 23:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Mafia Migas Perlu Terapkan Strategi Baru …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Refleksi Kenaikan Harga BBM: Menderita …

Kortal Nadeak | 16 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | 16 jam lalu

Sedikit Oleh-oleh dari Kompasianival 2014 …

Opa Jappy | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: