Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mindawati Perangin Angin

Pengamat kepercayaan, spiritualitas dan metafisika.

Kematian Adalah Misteri

OPINI | 26 April 2013 | 18:09 Dibaca: 289   Komentar: 2   1

Sore ini saya merenungi hal kematian. Dari dulu saya tertarik akan topik ini. Dulu ketika muda, kematianlah yg membuat sy percaya bahwa Allah ada. Kopi pahit hitam munculnya disini. Mati adalah tidur, jadi bagi saya dulu, ketika masih hidup mengapa begitu banyak tidur? Maka kopilah dipakai sbgai penangkal tidur. Gilgamesh sendiri tidak bisa melawan kodratnya. Tidur bukan hanya bagian dari kematian tapi juga kehidupan. Malah sepertinya Tuhan ndak mau rugi. Siapa yg mengurangi tidurnya, dipercepat matinya, kata hasil penelitian.

Tidur, kelahiran, kematian dan hidup sesudah mati adalah yang sudah digumuli sebelum ada penulisan Perjanjian lama. Tua sekali. Mortal atau immortal? Pergumulan itu juga nampak di Kejadian 3. Cuma Perjanjian lama memang tidak suka dgn topik ini, sehingga tempat orang orang sesudah matipun hanya sekali ditemukan tersurat disitu. Spekulatif mungkin pikirnya. Anthony de Mello juga menuliskan begitu, “mana aku tahu ttg kematian,” katanya, “wong aku belum pernah mati.” Di Perjanjian Baru krn Yesus harus mati dan bangkit, maka disemua teologianya adalah yang telah menang atas kematian. Tapi kemenangan ini bukan berarti org Kristen tidak mati, ya tetap saja mati, tapi nanti dia akan dibangkitkan oleh Kristus katanya. Kita lihat saja nanti

Di Amerika tahun lalu banyak buku best sellernya yg menuliskan pengalaman orang yg pernah “mati suri.” Siapa yg mau berdebat ttg ini, kalau yg mati suri juga tidak banyak. Atau dalam cerita china yang rohnya lari sebentar, dan bisa dipanggil pulang lagi ketubuhnya. Di kepercayaan sukupun banyak, roh yang “terpisah” sebentar dr tubuh, lalu dimintalah “guru” yg bisa mengembalikan rohnya. Mudah mudahan saja yg dipanggil roh yang tepat, kalau salah bagaimana? Bukankah di film Holywood malaikat maut pernah salah mencabut nyawa orang dan ia ditugaskan harus mengembalikan nyawa ini ke dunia, tapi dalam tubuh siapa, krn tubuh roh ini sdh dikuburkan.

Manusia terdiri dari tubuh dan roh (yg menghidupkan jiwa) sepertinya hampir diamini mayoritas. Sehingga baik Kristen maupun Islam menyatakan bahwa ketika seorang meninggal ia telah pulang ke pemiliknya. Jadi yang diakui saat terakhir adalah roh, tubuh tidak. Namun demikian, mulai dari waktu hidup sampai mati, yg kita “polesi” adalah tubuh yg dimakan cacing ini. Kita balsam, kita bajukan dgn cantik, kita peti mahalkan, kita beli kuburan yang mahal. Sampai mati pun, masih gengsi yang kita perhatikan. Roh, karena tidak nampak (oleh indra dan logika) siapa yang mau perduli?. Maka kita nyatakan peristiwa ini adalah dukacita. Padahal menurut roh, peristiwa ini adalah persitiwa sukacita, karena ia pulang kepada siempunya. Ia pulang kerumahnya.

Hingga sore ini usia seseorang misteri bagi saya. Ustad Jeffry 40 tahun. Muda menurut saya, tua menurut anak saya. Jadi bergantung dari siapa yg melihatnya. Lalu bagaimana kriteria siempunya? Mengapa dia 40? Yesus 33? Anthony 56? Bapak saya 49?. Katanya kelahiran dan kematian adalah suratan tangan. Kata Inul jodoh dan rejeki juga. Saya, seperti Inul percaya bahwa kelahiran, jodoh, rejeki dan kematian adalah rancanganNya. Bukankah Yesus begitu, Yeremia juga, dirancang mulai dari sketsa hingga matinya? Apakah usia seseorang berdasarkan tugas yang diembannya?

Sepertinya Ustad kita ini tahu bahwa ajalnya akan tiba. Yang saya baca juga begitu. Biasanya orang orang yg “mau pergi” akan melakukan tindakan tindakan “pamit” yang ia sendiri tidak menyadarinya. Opick benar, ketika dikatakanya Ustad mau “bersih” untuk pulang. Wajar, semua orang kalau mau “pulang kampung” mau bersih. Cuma pertanyaan saya, mengapa pulangnya harus dgn begitu, tidak bisa dibuat skenerio lebih manis? Lama saya merenung sambil menatap hujan. Misteri? Atau kita katakan misteri karena kita belum mampu “menembusnya?”  atau mungkin menurut saya yg tidak manis, tapi bagi ia yg sgt mencintai motornya mungkin ini yg paling manis?

Ya sudahlah yang mati sudah mati. Lalu bagaimana bagi kita yg tinggal?. Karena kematian adalah misteri yg bisa menjemputmu kapan saja, mudah mudahan tidak salah jemput, maka hiduplah dalam kehidupan yang masih diberikan siempunya pada kita. Tidak usah mendoakan panjang umur, wong sdh ditempel didada. Doakan saja agar roh Tuhan membantu kita untuk mampu hidup seutuhnya, menikmati hari ini untuk hari ini. Marilah kita mulai membenahi diri untuk hidup dalam kesadaran. Tidak usah menunggu dihari kematian untuk menyatakan dan mengekspresikan rasa kasih pada orang orang yg kita kasihi, lakukan sekarang, sekarang juga. Mulailah menikmati kebodohan, ke-keraskepalaan dan kemalasan pasangan kita. Mulailah menikmati semua yg tidak kita sukai selama ini yang ada dipasangan ataupun orang orang yg kita kasihi siapapun dia. Jangan sampai kita nikmati itu semuanya hanya sebagai kenang-kenangan dan penyesalan setelah mereka pergi. Mulailah belajar mengasihi karena mengasihi tanpa maksud dan tujuan. Jika itu terwujud, kita akan mengetahui betapa indahnya dunia. Betapa manisnya pasangan dan anak anak kita. Betapa besarnya berkat yang diterima keluarga kita.

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 13 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 14 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kepercayaan Penuh Berbuah Revolusi …

Nursalam Sabir | 8 jam lalu

Media Cetak (Belum) Akan Mati …

Irwan Rinaldi | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Datang ke Papua, Al Jazeera Ingin “Tebus …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

(Peserta) #KPKGerebek (7) Jakarta Street …

Kpk Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: