Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Kuncoro Adi

Lahir di semarang, tinggal di Jakarta. Penulis, editor buku dan pembicara publik. Tulisan tentang kerohanian, selengkapnya

5 Landasan Pemimpin Hebat

OPINI | 26 April 2013 | 19:43 Dibaca: 781   Komentar: 0   0

Kepemimpinan adalah sebuah proses menggunakankan sejumlah nilai dan prinsip-prinsip untuk menginspirasi dan mempengaruhi orang lain sehingga berubah menjadi lebih baik dan mampu mencapai tujuan bersama.

Menimba inspirasi dari ktab suci, terutama dari Roma 12:8 boleh dikatakan bahwa memimpin berarti juga “memerintah dengan rajin”. Kata Yunani proistēmi dalam Roma 12:8 itu diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi to rule dan bahasa Indonesia memberi pimpinan. Itu berarti kepemimpinan mensyaratkan sebuah kerja keras bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental, emosional dan spiritual.

Kemampuan memimpin yang hebat sangat diperlukan dalam bisnis, organisasi politik, sosial, spiritual dan yang lainnya. Itu sebabnya, seorang pemimpin harus memastikan bahwa ia memiliki semua kualitas dan nilai-nilai dari seorang pemimpin besar dan tidak pernah berhenti belajar untuk bertumbuh. Berikut adalah lima cara yang mendasar untuk menjadi seorang pemimpin hebat menurut seorang penulis bernama Victorino Q. Abrugar :

1. Jadilah Hebat (Great) bukan sekedar baik (Good)

Ada ungkapan mengatakan, “Pemimpin besar/hebat, membuat perbedaan”. Berbeda disini bukan berarti kalau pemimpin lain buruanda harus menjadi baik atau sebaliknya, kalau pemimpn lain baik anda lalu menjadi buruk. Berbeda disini berarti bahwa entah pemimpin lain baik atau buruk Anda harus menjadi pemimpin yang hebat (great). Dan Anda harus tetap hebat sepanjang waktu.

Kepemimpinan adalah sebuah transformasi dari yang baik (good) menjadi besar/hebat (great), dari biasa menjadi luar biasa dan bahkan dari normal ke supranormal. Seorang pemimpin dapat mengubah dari baik (good) menjadi besar (besar) dengan berbagai cara berikut ini : berikut:
a. Dari penerima menjadi pemberi
b. Dari yang dilayani menjadi yang melayani
c. Dari pemikir menjadi pengambil keputusan
d. Dari membayangkan menjadi menciptakan
e. Dari kompetitif menjadi kooperatif
f. Dari reaktif menjadi proaktif
g. Dari hanya tepat waktu (timely) menjadi abadi (timeless).
h. Dari hanya sekedar membangun sistem pengorganisasian yang baik menjadi merancang nilai-nilai dan prinsip-prinsip
i. Dari hanya merekrut pekerja menjadi merekrut oaring-orang kunci.

j. Dari material menjadi spiritual
k. Dari memerintah menjadi teladan hidup.
m.Dari mengendalikan orang menjadi mengendalikan diri
n.Dari tradisi menuju inovasi

2. Jadilah seperti matahari

Matahari adalah pusat tata surya. Planet-planet di gugusan tatasurya mengelilingi Matahari dan bergerak disekitar matahari. Yang menarik dari analogi ini adalah matahrai dan palnet-plenet pengikutnya bergerak bersama dalam irama yang harmoni.

Analogi ini mengajarkan sesuatu kepada kita bahwa sebuah tim akan menjadi tim yang harmonis dan bergerak bersama kalau ada pemimpin yang kompeten dan bisa diteladani.

Itu berarti pula seorang pemimpin harus menjadi inspirator dan penggerak sekaligus. Ia memberdayakan pengikutnya sehingga mereka akhirnya mampu bertumbuh kearah potensi maksimal mereka.

Selain itu matahari dengan panasnya juga menjadi sumber penghidupan di jagad raya ini. Ini mengindikasikan seorang pemimpin haruslah juga memperhatikan kehidupan anak buahnya. Ia tidak segan menolong ketika anak buahnya membutuhkan pertolongan. John Maxwell mengingatkan bahwa perhatian seorang pemimpin berbanding lurus dengan loyalitas anak buahnya. Maxwell mengajarkan, “Kalau mau tanganya (loyalitas) sentuh dulu hatinya (perduli dulu).”

3. Tanamlah pohon bukan rumput

Apa bedanya pohon dengan rumput ? Pohon lama tumbuh tapi lama pula mati (bahkan mungkin abadi karena biji yang jatuh dari pohon itu akan terus tumbuh dan menduplikasi diri). Rumput sebaliknya, cepat tumbuh tapi cepat pula layu.

Analogi ini ingin mengajarkan bahwa seorang pemimpin hebat haruslah menciptakan sesuatu yang bersifat tahan lama atau malahan kekal, bukan sesuatu yang temporer. Pemimpin hebat membangun segala sesuatu diatas batu karang bukan pasir.

Pemimpin yang buruk selalu berusah cepat “mendapatkan hasil”, tidak perduli entah bagaimana caranya, namun pemimpn hebat tidak demikian. Ia menyadari perlunya proses dalam segala sesuatu. Ia tidak suka “mengkarbit” sesuatu.

Ada beberapa contoh bisa disebutkan. Pemimpin perusahaan yang mendorong anak buahnya untuk mencari profit sebesar-besarnya bahkan kaau perlu dengan mencurangi costumer, jelas merupakan contoh pemimpin yang buruk. Pemimpin jenis ini mau serba instan.

Atau pemimpin agama yang menggunakan “ancaman ayat-ayat suci“ kepada orang lain agar mau memeluk agama yang dianutnya, jelas contoh lain lagi dari pemimpin yang buruk.

Sukses yang dicapai noleh pemimpin tipe rumput itu tidak akan bertahan lama. Secepat kilat melejit, sekejap mata menghilang!

Sebaliknya, pemimpin tipe pohon yang bersedia sabar mengikuti proses dengan seksama malahan akan menuai hasil yang lebih baik dan lebih langgeng. Pemimpin tipe ini tidak menerapkan trik tapi prinsip, tidak mengakali tapi mengedukasi, tidak buru-buru tapi sabar.

4. Berjalan seperti burung merpati berpikir seperti ular

Kitab suci memberi banyak petunjuk dalam hal kepemimpinan. Matius 10:16 mengatakan, “…sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan intelektual yang mumpuni tetapi juga harus memiliki kerendahan hati dan kesederhanaan. Atau meminjam ayat kitab suci diatas, seorang pemimpin harus berpikir secerdik ular namun sekaligus harus bertindak setulus dan sesederhana layaknya merpati.

Kombinasi dari intelektualitas yang tinggi (termasuk di dalamnya keahlian professional) dan kerendahatian yang dalam menjadi jaminan seseorang bisa sampai ke puncak tangga kepemimpinan. Paling tidak hal ini diyakini oleh Jim Collin dalam teori “Five level Leadership-nya”.

5. Jadilah pengikut dari Allah yang Maha Besar

Pemimpin hebat mematuhi dan hidup menurut hukum Allah, sementara pemimpin buruk memimpin dengan hikmatnya sendiri. Dengan mengikuti hukum-hukum Allah yang kekal, maka seorang pemimpin akan menerapkan prinsip-prinsip yang tidak akan bertentangan dengan moralitas. Dan yang yang pasti, hukum-hukum Allah itu selalu benar dan bersifat universal.

Dengan demikian ketika pemimpin hebat menerapkan hukum-hukum itu dalam kepemimpinanya, ia sedang menghadirkan “Kerajaan Allah” dalam realitas Kerajaan dunia yang jahat dan gelap ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 13 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 13 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepotong Asia di Jakarta Street Food …

Syaifuddin Sayuti | 8 jam lalu

Swasembada Medis …

Harfina Finanda Anw... | 8 jam lalu

Sepakbola bukan Matematika …

Guntur Cahyono | 8 jam lalu

Jika Kau Imamku …

Dwi Zuniati | 9 jam lalu

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: