Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Christie Damayanti

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as selengkapnya

Tidak Gampang, Merendahkan Hati untuk Berbagi dalam ‘Kesaksian’…

OPINI | 23 April 2013 | 12:11 Dibaca: 309   Komentar: 8   2

By Christie Damayanti

13666934442137706102

celebraterecoverymrcc.blogspot.com

Untuk bersaksi itu ternyata tidak gampang. Menurut aku, bersaksi adalah menceritakan sebuah kesaksian hidup kita yang berhubungan dengan Tuhan untuk memberikan arti dan manfaat bagi kita menjadi lebih baik. Bersaksi juga menurutku bisa diartikan untuk kita bisa merendahkan hati kita, bergumul dengan Tuhan serta memberikan arti bagi sesama manusia.

Duh, agak ribet ya? Karena aku bukan ahli bahasa, tetapi untukku bersaksi merupakan awal aku merendahkan hatiku didalam Tuhan, mencoba bercerita yang sebenar2nya serta memberikan gambaran bahwa Tuhan itu sangat Agung dan luar biasa! Bahwa apapun yang terjadi, ternyata Tuhan memang benar2 Allah yang hidup!

Banyak orang berpikir bahwa bersaksi adalah ‘berkotbah’, menceritakan isi Alkitab ( atau Kitab2 yang lain ) dan harus belajar dalam agama kita masing2. Tetapi untukku, bersaksi adalah untuk menceritakan pengalaman kita dengan Tuhan ( baik pengalaman yang bahagia atau pengalaman yang buruk ). Bersaksi juga bisa aku artikan bahwa kehidupan kita sehari2 pun merupakan ‘kesaksian’. Misalnya, sebagai warga Kristen, aku berusaha untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan ajaran agama Kristen. Tetapi jika aku berbuat semena2 dengan sesama, berarti orang lain akan menganggap warga Kristen ya seperti itu, semena2 ……

Maaf, aku tidak akan menulis tentang agama. Ini hanya sebuah contoh saja. Tetapi aku hanya ingin berkata bahwa untuk bersaksi dan merendahkan hati berbagi, ternyata itu tidak gampang ……

***

Ketika pertama kali aku mem-posting cerita tentang aku stroke awal aku bergabung di Kompasiana November 2010 kemarin, aku ‘maju mundur’ untuk mem-posting. Yang pertama, aku malu! Ya, benar, aku pernah malu untuk bercerita tentang keadaanku yang terserang stroke. Seorang perempuan awal 40 tahun, sedang di tengah2 karier tinggi dengan lingkungan yang boleh dikatakan prestisius, tetapi setelah stroke aku berada di titik minus, sebagai seorang manusia ( menurutku, waktu itu ).

Aku malu! Wah, bagaimana ya, nanti teman2ku melihatku? Bagaimana jika orang2 yang membenci aku melihatku? Pasti mereka akanĀ  bertepuk tangan dengan ‘kekalahanku’. Sungguh, berbagai pikiran berkecamuk di dalam kepalaku. Bagaimana jika aku tidak diterima di tengah2 masyarakat? Bagaimana dengan kehidupan ku nantinya?

Yang kedua, aku merasa takut! Jika rasa malu itu lebih menderaku karena aku harus merendahkan hatiku untuk bercerita tentang hidupku dan sakitku, tetapi rasa takut itu lebih ke arah ketakutan dengan tidak adanya penerimaan dengan hidupku sebagai insan pasca stroke di tengah2 komunitasku yang biasa ( pekerjaanku serta teman2ku ). Paling aku akan ‘masuk’ di komunitas2 baru yang itu pun aku tidak yakin akan ada penerimaan dengan fisikku yang cacat …..

Untuk merendahkan hatiku dalam bercerita pun, tidak gampang. Ketika Tuhan memberikan aku sakit stroe ini, aku, seorang Christie yang sedang di puncak karier dan mampu membuat banyak orang terkagum2 dengan karyaku secara fisik, aku harus bercerita bahwa aku sebagai ‘bayi yang baru lahir’ …… itu adalah titik minus untukku! Bagaimana aku bisa ‘mengejar’ karierku? Bagaimana aku bisa hidup lagi, secara aku benar2 seperti seorang bayi yang baru lahi ….. belajar minum, belajar makan, belajar duduk, belajar berjalan, belajar mengucap satu kata, dan sebagainya ….. Ya, aku benar2 harus belajar hidup untuk menjadi seseorang ……

GOD !!!

Terlebih ketika aku harus dilayani oleh semua orang karena fisikku yang lumpuh. Ketika itu aku benar2 tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara sama sekali. Untuk kegiatan ‘toilleteries’ aku dibantu dengan selang. Untuk makan dan minum, aku benar2 butuh bantuan. Untuk bergerakpun aku harus minta tolong untuk miring ke kanan atau ke kiri. Apalagi untuk bicara …..

Aku adalah seorang perfeksionis. Aku tidak suka dengan tugas2ku yang tidak perfek! Semua harus yang terbaik, apalagi jika aku memang ditugaskan untuk melakukan hal2 tertentu, dan yang menugaskan aku harus bisa mengatakan bahwa aku mampu! Ok, itu sebelum aku stroke.

Tetapi setelah aku stroke, sabelum aku benar2 mampu mandiri, aku harus tidak boleh berpikir tentang ‘pefeksionisme’. Mengapa? Ada beberapa contoh. Misalnya, kegiatanku sehari2 di rumah. Karena aku agak susah untuk menyampul buku dengan sampul plastik untuk buku2 koleksiku, maka aku minta tolong kepada anakku, dan anakku mau mengejakannya. Kalau aku, untuk menyampul plastik harus di tekan sampai ujungnya runcing dan cantik sehingga buku yang sudah disampul menjadi manis …..

Tetapi belum tentu anakku. Sampul plastiknya tidak ditekan sedemikian, sehingga hasilnya hanya sekedarnya saja, sebuah buku bersampul plastik yang hanya sekedar ‘tidak kotor’ saja …..

Artinya, aku harus ‘menekan perfeksionisme’ ku untuk hasil yang aku inginkan. 3 tahun aku berada dalam posisi ini, membuat aku bisa menyelami, bahwa ada batasan2 dari diri untuk selalu belajar bersyukur apapun yang terjadi …..

Ini adalah sebagian kecil kesaksianku tentang belajar untuk terus bersyukur dengan apapun yang ada dan apapun yang terjadi. Bahwa walau aku tidak mampu untuk menyampul buku2ku karena keterbatasanku, tetapi anakku mau membantuku walau tidak sesuai dengan keinginanku. Itu sudah sangat luar biasa! Bayangkan, jika tidak ada yang mau membantukku untuk menyampul buku. Dan ini patut disyukuri, bukan?

Belum lagi dengan kesaksian di bidang pekerjaan2ku. Walau aku tidak mampu lagi sebagai arsitek lapangan ( padahal aku ingin sekali membetulkan banyak masalah di lapangan ) dan aku hanya minta tolong dengan teman2ku untuk melakukannya untukku, aku tetap patut bersyukur karena teman2ku masih mau membantuku, walau tidak sesuai dengan keinginanku …..

Ini juga sebuah kesaksian kecil bahwa, ya, aku sekarang adalah seorang perempuan cacat. Jadi bagaimana aku bisa berbuat yang ‘perfek?’. Untuk berkegiatan saja aku tidak 100% mampu dan harus di bantu orang lain, bagaimana aku bisa ‘perfek?’ …..

***

Seorang aku yang memang perfeksionis, dulu, harus merendahkan hatiku untuk mau ‘bergandengan tangan’ dengan orang lain yang mau membantuku, padahal aku dulu mampu melakukan semuanya sendiri! Tetapi ternyata dengan aku berani mulai terbuka dan becerita tentang keadaanku sekarang, aku bersaksi bahwa ‘inilah hidupku sekarang’, dan Tuhan sangat luar biasa! Bahwa dengan keterbatasanku, ternyata Tuhan membuat teman2 dan sahabat2ku terus mendukungku, terus menolongku apapun yang aku butuhkan! Tuhan sungguh luar biasa! Inilah kesaksianku! Sebuah kesaksian manis tentang hubunganku dengan Tuhan yang sungguh luar biasa!

Sekali lagi, tidak mudah untuk kita mau merendahkan hati. Tetapi jika sudah pernah bersaksi, sungguh, aku sangat menikmati hubunganku dengan Tuhan-ku dan aku ingin selalu mengatakannya, dalam kesaksian2ku, bahwa Tuhan memang sungguh luar biasa!

Profil | Tulisan Lainnya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 12 jam lalu

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 16 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Rebranding Sepak Bola di India …

Handy Fernandy | 8 jam lalu

Kesetrum, Antara Reflek dan Tuhan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Judika Bangga Membagikan Budaya di Rising …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

i-Road, “Bajaj” Masa Depan ! …

Angga Saputra | 9 jam lalu

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: