Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Uni Marni Malay

aku ibu dari 5 orang putra-putri, bekerja sebagai pengacara

Kedudukan Perempuan dan Kesetaraan Gender Dalam Pandangan Islam

OPINI | 23 April 2013 | 00:15 Dibaca: 562   Komentar: 4   0

13666515021610851778

KEDUDUKAN PEREMPUAN DAN KESETARAAN GENDER

DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : UNI MARNI MALAY, SH.

___________________________________________________________________________

Dalam rangka hari ibu penulis mencoba mengajak kita semua sama-sama membahas Permasalahan seputar kedudukan perempuan :

Bagaimana kedudukan perempuan (KESETARAAN GENDER) dalam Islam dan implementasi serta perkembangannya dalam pembentukan hukum di Indonesia ?

(Bagian 1.) Dinamika Kehidupan Dan Asal Kejadian Perempuan

Bundo kanduang ,
limpapeh rumah nan gadang
Umbun puruak pagangan kunci
Umbun puruak aluang bunian
Pusek jalo kumpulan tali
Sumarak dalam kampuang
Hiasan dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampek baniak
Kaundang-undang ka Madinah
Kapayuang panji ka sarugo

Demikian budaya Minangkabau menempatkan perempuan pada kedudukan yang sangat mulya, terhormat, bermartabat dan sumber panutan bagi putra putri Minang,jauh sebelum masuknya Islam ke ke negeri yang disebut Ranah Minang.

Subhanalah !

Semoga perempuan Minang mampu menunjukan Minangnya dengan menghayati dan mengamalkan pepatah ini ! amin !!!

Ya, Perempuan, adalah makhluk paling ajaib yang diciptakan Allah, namun merupakan ujian terbesar bagi kaum pria. Daya dan gaya tarik apapun tak ada yang mampu menandingi daya dan gaya tarik perempuan, karenanya ia bisa menjadi nikmat yang mampu mengantar pria pada surga dunia dan surga akhirat, sekaligus bisa menjadi bala yang menjerumuskan pria ke neraka dunia dan neraka akhirat, sebab jika sudah berurusan dengan perempuan, apapun bisa dilakukan pria, bahkan berkorban nyawa sekalipun. Demikian hebatnya daya tarik yang dimiliki olehnya, dapat kita lihat bagaimana Allah menggambarkan bidadari-bidadari sorga merupakan perempuan-perempuan cantik dan suci sebagai hadiah dan atau balasan terhadap pahala hamba-hambanya yang Taqwa. Bahkan Perempuan, sering disebut tulang punggung Negara, karena konon kata orang bijak, kebaikan perempuan bisa menegakkan negara, namun keburukannya dapat menghancurkan negara.

Di sisi lain, perempuan adalah makhluk yang sangat lembut, karenanya dianggap lemah dan tidak berdaya, sehingga berabat –abat lamanya, sejak adanya peradaban manusia di muka bumi, kaum perempuan selalu menjadi objek dominasi dan penindasan kaum laki-laki dan tidak memiliki hak apapun dalam pranata sosial dan masyarakat, sehingga harkat dan martabat kaum perempuan berada pada tingkat yang paling rendah, bahkan dewasa, diabat modern sekarang ini ditengah bergaungnya teriakan persamaan hak laki-laki dan perempuan atau yang lebih terkenal dengan istilah,”kesetaraan gender”, dan “Hak Azazi Manusia (HAM)“, masih sering terjadi perlakuan laki-laki yang berbuat tidak semestinya terhadap perempuan, perempuan sering mengalami perlakuan buruk dalam masyarakat, sebagai warga kelas dua baik dalam kehidupan sosial masyarakat maupun dalam lapangan pekerjaan.

Namun pemikiran-pemikiran seperti itu lambat laun kian memudar seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, meskipun demikian penghargaan terhadap perempuan belum pada proporsi yang sepatutnya, masalah persamaan hak antara laki-laki dan perempuan selalu jadi polemik yang tidak habis-habisnya, sehingga pada tahum 1960-an lahir suatu gerakan perempuan di dunia Barat yang menamai “Gerakan Feminisme”, suatu gerakan yang menuntut hak akan keberadaan perempuan yang selama selalu dibelakang kaum laki-laki untuk menjadi sama bahkan lebih kedudukannya dibandingkan laki-laki, suatu gerakan perempuan dalam pembebasan dari belenggu penindasan yang sebenarnya telah ada sejak beberapa abad yang lalu. Akan tetapi gerakan pembabasan yang terjadi di Barat ternyata tidak sesuai dengan syariat Islam, sehingga lahirlah feminisme Islam sebagai bentuk ketidak puasan atas gerakan feminisme Barat.

Banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan perempuan dalam masyarakat, disamping pengaruh perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia yang cendrung mempertentangkan peran laki-laki dan perempuan, faktor lainnya adalah kedangkalan pengetahuan keagamaan, bahkan tidak jarang agama di atas namakan untuk pandangan yang merendahkan perempuan.

Terdapat dua teori peran laki-laki dan perempuan yang berlawanan, yaitu teori nature dan teori nurture. Teori nature yang disokong oleh teori biologis dan teori fungsionalisme struktural ini, mengatakan bahwa perbedaan peran gender bersumber dari perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Sedangkan teori nurture, yang disokong oleh teori konflik dan teori feminisme, mengandaikan bahwa perbedaan peran gender antara laki-laki dan perempuan bukan merupakan konsekuensi dari perbedaan biologis yang kodrati, namun lebih sebagai hasil konstruksi manusia, yang pembentukannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang melingkupinya. Kedua teori ini senantiasa berjalan secara berlawanan, tidak didefinisikan secara alamiah dan setara, laki dan perempuan, kedua jenis kelamin ini dikonstruksikan secara sosial, bahwa kodrat laki-laki dikatakan kuat, macho, tegas, rasional, dan seterusnya, sebaliknya, kodrat perempuan lemah, emosional dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan pemosisian apakah identitas jenis kelamin perempuan dan laki-laki itu merupakan kodrati atau konstruksi, mengingat implikasi dari konsep yang berbeda tersebut sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan sosial-kultural, karena berdampak pada adanya pembatasan “gerak” yang wajar dan pantas atau yang tidak wajar dan tidak pantas untuk dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Menurut Ajaran Islam, Perempuan, memiliki kedudukan terhormat, karena prinsip pokok dalam Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang meninggikan atau merendahkan manusia dalam artian perempuan dan laki-laki memiliki dan yang membedakan keduanya hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya ;

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13).”

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ; orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang batten berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?”

Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Di Indonesia kedangkalan pemahaman terhadap ajaran Islam telah menimbulkan kekeliruan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, antara lain ; Undang Undang Perkawinan Indonesia (UU Nomor 1 Than 1974) mengenai ketentuan harta bersama dalam perkawinan, yang sangat merugikan kaum perempuan.

Bahwa di dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pasal 35 ayat 1 dinyatakan ; Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Pasal ini kemudian diperkuat dalam peratuan pelaksananya bagi umat Islam, yakni ; KOMPILASI HUKUM PERKAWINAN ISLAM. Pada hal dalam Islam tidak ada kewajiban bagi perempuan sebagai seorang istri untuk menafkahi dan atau memberikan hartanya kepada suami.(tentang ini akan penulis bahas pada bagian tersendiri)

Selanjutnya kekeliruan tentang asal kejadian poermpuan juga menjadi salah satu factor yang merendahkan perempuan. Berbedakah asal kejadian perempuan dari lelaki ? Apakah perempuan diciptakan oleh tuhan kejahatan ataukah mereka merupakan salah satu najis (kotoran) akibat ulah setan? Benarkah yang digoda dan diperalat oleh setan hanya perempuan dan benarkah mereka yang menjadi penyebab terusirnya manusia dari surga? Demikian sebagian pertanyaan yang dijawab dengan pembenaran oleh sementara pihak sehingga menimbulkan pandangan atau keyakinan yang tersebar pada masa pra-Islam dan yang sedikit atau banyak masih berbekas dalam pandangan masyarakat abad ke-20 ini. Pandangan-pandangan tersebut secara tegas dibantah oleh Al-Quran, antara lain melalui ayat pertama surah Al-Nisa’:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan lelaki dan perempuan yang banyak.

Demikian Al-Quran menolak pandangan-pandangan yang membedakan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan mengembangbiakkan keturunannya baik yang lelaki maupun yang perempuan.

Benar bahwa ada suatu hadis Nabi yang dinilai shahih (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) yang berbunyi:

Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).

Benar ada hadis yang berbunyi demikian dan yang dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadis tersebut.

Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim.”

Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok. Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-nya sejak lahir. Dalam Surah Al-Isra’ ayat 70 ditegaskan :

Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan.

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 surah Ali’Imran yang menyatakan:

Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu (hai umat manusia yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya.”

Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya. Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas :

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS 3:195).

Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih memperoleh anak perempuan.

Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan “buruk”-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS 16:58-59).

Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan. Dari ayat-ayat Al-Quran juga ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan serta ketergelinciran Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti:

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya … (QS 7:20).

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang mereka (nikmati) sebelumnya … (QS 2:36).

Kalaupun ada yang berbentuk tunggal, maka justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam), seperti dalam firman Allah :

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam) dan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah?” (QS 20:120).

Demikian terlihat bahwa Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya.

Tanggal 8 Maret 2011, kembali kita memperingati Hari Perempuan Internasional, hari yang didedikasikan untuk perjuangan kaum hawa, hari yang diperingati khusus menandakan bukti bahwa wanita itu luar biasa, namun kenyataan perjuangan kesetaraan gender yang digaungkan tidak berakibat apa-apa bagi kebaikan manusia, Hari Perempuan Internasional tak lebih sekedar seremonial dan isapan jempol belaka, perempuan tetap sebagai pihak yang tidak dipandang sebelah mata. perempuan masih diangap dengan stereotipe yang lemah dan menjadi sosok pelengkap. Ironisnya lagi tidak hanya kau pria yang berpikiran seperti itu, tetapi juga perempuan yang tidak percaya diri, bergantung pada lawan jenisnya untuk mengetahui apa yang namanya kebahagiaan hidup dan kurang meyakini bahwa sebenarnya perempuan tidak diciptakan berbeda dengan kaum pria. Mereka termakan pola berpikir bahwa peran perempuan terbatas pada dapur, sumur dan tempat tidur, sehingga pada akhirnya hal di luar itu menjadi tidak penting. Sosok perempuan yang berprestasi dan menyeimbangkan antara keluarga dan karier kerja menjadi sangat langka ditemukan.

Perempuan seringkali takut untuk berprestasi karena tuntutan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang tidak bergaji dan tidak pernah berhenti, atau perempuan lainnya yang terlalu fokus untuk urusan luar rumah dan terbengkalai untuk keharmonisan keluarganya. Keseimbangan untuk urusan internal keluarga dan pencapaian diri yang terus meningkat semakin sulit untuk digapai. Selain tugasnya yang banyak dan tentunya tidak mudah. Perempuan pun terikat banyak aturan dan pembatasan. Misalnya saja, perempuan harus seperti ini dan harus seperti itu, sehingga membuat perempuan semakin tua semakin tidak produktif.

Pandangan seperti ini harus dirubah, karena sudah tidak masanya lagi perempuan yang sukses adalah perempuan yang diam di rumah saja dan menganggap kontribusi untuk dunia luar tidaklah penting, karena sedikit apapun kontribusi yang bisa kita lakukan untuk lingkungan adalah modal dan harta kita untuk mampu berbuat lebih banyak, bahwa seorang perempuan tidak hanya bertanggung jawab untuk keunggulan keluarganya, tetapi juga bagaimana menjadi ibu peradaban yang membangun generasi super dalam perannya sebagai seorang ibu yang melelahkan dan tak mengenal batas waktu serta mampu menyeimbangkan semuanya dan tetap mencapai target target diri merupakan nilai tambahan yang membuatnya lebih unggul dibanding kaum pria. Pun dengan segala aturan dan batasan yang dimiliki, semua norma dan nilai yang berlaku di masyarakat adalah panduan yang menjamin keselamatan dan kebaikan bagi kaum perempuan.

Tanpa mengecilkan peradaban suku bangsa lain, sungguh sebagai perempuan yang terlahir dari suku Minang, penulis sangat bangga dan takjub, betapa budaya Minang sangat mmberi ruang yang cukup bagi perempuan untuk berkiprah dalam masyarakat disamping kewajibannya untuk mampu jadi suri tauladan bagi putra-putrinya, menjaga harta benda keluarganya serta harkat dan martabat kaumnya sebagaimana tergambar dalam pepatah di atas.(bersambung).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Terapi Cahaya PINK di Rosereve Plaza …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Menanti …

Rizki Fujiyanti | 8 jam lalu

Let’s Do Together …

Ayumulya | 8 jam lalu

Jokowi: Buah Demokrasi atau Kegagalan Total …

Jaka Pujiyono | 8 jam lalu

Banjir Melanda SMP Rehoboth Formasi …

Jurnalis Warga Samb... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: