Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aymara

Sebebas Camar Kau Berteriak Setabah Nelayan Menembus Badai Seiklas Karang Menunggu Ombak Seperti Lautan Engkau Bersikap Sang Petualangan Iwan Fals selengkapnya

Ada Manusia yang Lebih Keji dari Binatang

OPINI | 23 April 2013 | 14:57 Dibaca: 279   Komentar: 0   0

Manusia sama saja dengan binatang

Selalu perlu makan

Namun caranya berbeda

Dalam memperoleh makanan

Binatang tak mempunyai akal dan pikiran

Segala cara halalkan demi perut kenyang

Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan

Padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang

Namun kadangkala

Ada manusia seperti binatang

Bahkan lebih keji dari binatang

(Opiniku, Iwan Fals)

Itulah syair Bang Iwan Fals yang masih up to date hingga saat ini, memang, syair-syair Bang Iwan itu sepertinya selalu mengikuti perkembangan zaman. Sebut saja, Tikus Kantor, Sarjana Muda, Lagu Buat Penyaksi, Mimpi yang Terbeli dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya tidak akan membahas tentang syair Bang Iwan yang terakhir, tetapi saya ingin menggambarkan sekilas tentang syair di atas menurut pandangan saya sendiri

Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna, dibekalinya potensi akal fikiran, nafsu dan hati nurani. Tidak seperti binatang dan malaikat.. Potensi-potensi yang diberikan allah tersebut tinggal kita yang harus mampu mengelolanya. Dan memanfaatkannya sebaik mungkin, karena Tuhan sudah memberikan kebebasan kepada kita sebagai makhluknya.

Manusia diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya tetapi setelah kita mengambil satu sikap atau kebebasan itu, kita harus siap untuk menerima segala resiko dan tanggung jawabnya. segala sesuatu yang kita lakukan–apapun itu–pasti akan berimbas kepada diri kita. So life is choice, what is u’r choice. Jika kita menanam benih kebaikan maka kita akan menuai efek kebahagiaan, namun sebaliknya, jika kita menanam benih kejahatan maka kita juga akan memanen kemurkaanNya.

Kebanyak dari kita lebih mengutamakan hawa nafsunya dalam segala hal, ketimbang nuraninya, itu yang disebut dengan lebih mementingkan sifat kebintangannya yang memang didalam diri kita, kita mempunyai potensi tersebut. Kita tidak atau belum mampu mengalahkan hawa nafsu kita sendiri, Bahkan Bang Iwan menulisnya “Lebih keji dari Binatang”, ya bagaimana tidak, mereka yang sudah mampu dan berlebih, masih saja mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya atau apalah namanya. Orang-orang yang seperti inilah–yang mementingkan hawa nafsunya ketimbang nuraninya– yang jelas menurut lebih keji dari binatang.

Saya pernah melihat sendiri bagimana seekor ikan gurame dan ikan lele yang saya pelihara di kolam belakang rumah, yang ketika ibu saya memberikan makanan kepada ikan-ikan itu, dengan sangat cepat ikan gurame yang memang badannya lebih besar, ia lebih cepat menghabiskan makanannya, namun setelah saya perhatikan rupanya makanan yang telah di makan tadi oleh ikan gurame tersebut, yang sepertinya ingin di makan semuanya, secara tidak terduga sama sekali, ikan gurame itu mengeluarkan makanan tadi dari mulutnya, dan seketika itu juga sontak ikan lele saya itu melahap makanan itu, yang sedari tadi memang aku perhatikan bahwa ikan lele itu selalu menyentuh-nyentuhkan kulitnya ke punggung ikan gurame itu, dan mungkin itu adalah bahasa seperti meminta. Sungguh pembelajaran yang luar biasa buat saya.

Ada lagi sebuah kisah, dimana seekor burung yang sayapnya patah, dan tidak bisa terbang kemudian di suapi oleh burung lainnya dari angkasa, bayangkan. Kisah dari para binatang ini saja jelas masih selalu ingin berbagi. Kita sebagai manusia yang mempunyai nurani kok ya tidak tersentuh kepada orang lain yang mungkin membutuhkan bantuan tangan kita.

Sementara sifat yang sangat ideal dan ini pasti membutuhkan satu proses pembelajaran yang luar biasa adalah sifat yang lebih mengutamakan hati nurani, jika kita dikuasai oleh beningnya nurani, kita tidak akan terbelenggu dan tertawan dengan hawa nafsu, kita akan lebih peka terhadap segala macam penderitaan saudara-saudara kita yang membutuhkannya, karena didalam diri kita juga sudah ada sifat allah dan dalam salah satu frirmannya “Aku tiupkan kedalamnya ruhKu. (Al-Qur’an surat al-Hijr ayat 29)

Jelas memang sangat sempurna Allah menciptakan manusia, ada sifat kebinatangan, dan ada juga sifat allah, luar biasa, tinggal bagaimana kita mengelola dan memanfaatkan potensi-potensi tersebut. Akhirnya memang sangat pantas bahwa kitalah yang dijadikan oleh allah sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini, karena kita mempunya akal dan fikiran yang dengannya kita bisa mengembangkan segala macam ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan sebaik mungkin, sehingga roda kehidupan di bumi ini menjadi dinamis dan harmonis.

Coba kita bayangkan jika malaikat yang di turunkan ke muka bumi ini untuk menjadi khalifah, sudah pasti bumi ini statis dan tidak berkembang, karena sifat malaikat itu hanya memuji, dan allah tidak menciptakan akal dan nafsu. tetapi sayang, dan sangat disayangkan, bangsa kita yang sebagian besar penduduknya Muslim dan menjadi mayoritas, sangat ironis dengan penggambaran sifat yang mengedepankan hati nurani, yang kita kita lihat di berbagai media baik cetak maupun elektronik, kita selalu disuguhi oleh virus korupsi, terorisme, kemunafikan, ketidakjujuran dan mengkambinghitamkan kebenaran. Dan lebih parah lagi jika para pejabat kita itu membuat dosa sosial yang implikasinya tidak berpihak pada masyarakat banyak. Hampir semua aspek kehidupan kita sudah terkontaminasi olehnya. Sunguh ironis. Berkacalah dan dengarlah suara bening dalam hatimu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | 8 jam lalu

Takut Pada Presiden Jokowi, Malaysia Bongkar …

Febrialdi | 8 jam lalu

Melihat dari Film II …

Nilam Sari Halimah | 8 jam lalu

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 8 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: