Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ar Kus

senang berpikir apa adanya dan adanya apa

Semua Terjadi secara Alami

OPINI | 22 April 2013 | 16:42 Dibaca: 339   Komentar: 22   4

“Keberadaan alam semesta tidak membutuhkan Tuhan” demikian kalimat dari Stephen Hawking yang sering di kutip orang. Baru-baru ini, ilmuwan selebritis yang memiliki fisik lumpuh ini kembali mengungkapkan pendapatnya di hadapan mahasiswa California Institute of Technology, USA seperti dilansir Nbcnews, Kamis (18/4/2013), dalam sebuah kuliah bertema “The Origin of the Universe” atau Asal-Usul Alam Semesta.

Secara kacamata awam, kalimat Hawking ini dapat dimaknai bahwa apa yang terjadi di alam semesta (makrokosmos) dan bahkan dalam tubuh manusia (mikrokosmos) berjalan dalam sebuah ‘proses alami’. Semua terjadi dalam kerangka hukum-hukum alam. Superangkat hukum-hukum yang dapat dijelaskan secara mudah. Tidak ada campur tangan suatu objek supranatural di dalamnya, semua benar-benar hanya proses alam.

Ada satu pihak yang berpendapat bahwa alam semesta tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Keteraturan dan kompleksitas adalah ciri adanya seorang perancang. Adanya keteraturan membutuhkan seorang perancang, yaitu seorang perancang cerdas. Apakah alam semesta benar-benar teratur? Ini soal lain. Adanya mateor yang jatuh menghantam bumi, apakah ini bisa disebut keteraturan? Adanya tornado, gempa, dan aneka bencana apakah ini bisa disebut sebagai keteraturan?

Tidak ada istilah ‘kebetulan’ maupun ‘perancangan’, semua yang terjadi di alam adalah proses alami sesuai hukum-hukum yang ada. Apakah alam bisa menjadikan dirinya teratur? Apakah sesuatu yang tidak memiliki kesadaran bisa membuat dirinya teratur? Pernyataan ‘alam tidak memiliki kesadaran’ perlu ditinjau ulang. Alam ini hidup dan benar-benar hidup. Ada kesadaran dalam setiap geraknya. Ada kehendak dalam setiap tindaknya.

Jangan jauh-jauh yang besar-besar seperti terjadinya alam semesta, hal-hal yang sederhana di hadapan kita akan nampak dengan jelas bahwa hal itu terjadi dalam sebuah proses alami. Makan, minum, tidur, kerja, BAB, BAK, sakit, lapar, haus, dan yang lainnya adalah suatu proses kehidupan yang sangat alami. Suatu proses yang terjadi dalam kerangka hukum-hukum alam semesta. Semua terjadi secara natural. Tak ada peran Tuhan di sana.

Misalkan proses terjadinya hujan. Hujan terjadi diawali dengan proses penguapan air laut atau air permukaan di daratan, uap air ini naik ke angkasa terbawa angin kemudian bergabung dalam kafilah-kafilah awan, butiran air di awan kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk butiran air, embun, salju, maupun es. Air hujan ini kemudian di serap oleh tanah, sebagian mengalir ke sungai, dan selanjutnya kembali bergabung dengan lautan. Lihat saja, semua proses ini terjadi secara alami.

Ada atau tidak ada Tuhan, alam akan bekerja sesuai mekanisme dan hukum-hukumnya sendiri. Keberadaan Tuhan sama sekali tidak diperlukan. Alam bisa mengatur dirinya sendiri. Alam bisa mengelola dirinya sendiri. Tidak ada istilah terjadi secara kebetulan. Apalagi bim salabim. Semua berjalan sesuai mekanisme dan hukum yang seharusnya. Jika ada yang bertanya, apakah alam terjadi secara kebetulan atau melalui penciptaan? Tidak kedua-duanya. Alam terjadi dalam suatu proses alami.

Trus, darimana hukum-hukum alam ini berasal? Ya, dari alam itu sendiri. Namanya juga hukum alam ya berasal dari alam. Seperti halnya ‘hukum Tuhan’ ya berasal dari Tuhan, ‘hukum adat’ ya berasal dari adat kebiasaan, atau ‘hukum negara’ ya dibuat oleh negara. Hukum alam berasal dari alam. Alamlah yang membuatnya dengan kesadarannya.

Tuhan mungkin ada, tetapi keberadaan alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos) tidak membutuhkan campur tangan Tuhan. Alam semesta telah berjalan sesuai hukum-hukumnya, dan akan tetap terus berjalan seperti ini adanya. Tidak ada yang bisa melenceng dari hukum-hukumnya. Tidak ada dan tidak akan ada yang bisa. Semuanya luluh, semuanya patuh. Sebab, alam semesta adalah Tuhan itu sendiri.

***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | | 27 November 2014 | 00:00

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 11 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 13 jam lalu

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Museum Basoeki Abdullah …

Agung Han | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Yummy, Manis krenyez krenyez Meringue avec …

Imam Hariyanto | 9 jam lalu

Kiprah Ibu-Ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | 9 jam lalu

Potret Susi Pujiastuti Wanita Indonesia yang …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: