Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Syam Jr

Kakek dari sebelas cucu. Berharap ikut serta membangun kembali rasa percaya diri masyarakat, membangun kembali selengkapnya

Logika Hitam Putih: Biar Koruptor Tapi Masuk Syurga?

OPINI | 18 April 2013 | 15:35 Dibaca: 191   Komentar: 0   0

Baru saja saya membaca berita menarik tentang kasus simulator SIM dengan tersangka DS. Berita berjudul : Pengacara Djoko Susilo: Banyak Dokumen yang Tak Relevan. Sumber berita yang diambil melalui wawancara langsung dengan Juniver Girsang sang pengacara. Berita ini tidaklah luar biasa karena sorang pengacara menyatakan mendapat yang tentu saja bernada membela klien, memang sudah begitu itu adanya. Justeru berbagai komentar yang dilekatkan pada kolom komentar dibawahnya cukup mengelitik. Diantaranya, saya kutipkan saja komentar tersebut : “Inilah bedanya pengacara hitam dan pengacara putih. pengacara hitam selalu menghalalkan segala cara untuk kebaikan klien nya”.

Komentar dari pemikiran dan nalar normatif dimana kehidupan terbagi pada dua sisi yaitu Hitam dan Putih. Pemikiran dan nalar kehidupan dengan dua pilihan yaitu buruk dan baik, dosa pahala, syurga atau neraka bahkan kita ini hanya punya pilihan yaitu hidup atau mati. He he he memilih untuk tetap hidup meski sengsara tetap tidak ada jaminan pada ujungnya berupa kematian kita akan masuk syurga.

Siapakah diantara kita bisa mengatakan “hidup sengsara mati masuk syurga”. Pemikiran dan nalar yang membagi kehidupan atas dua kelompok hitam atau putih bagi siapa saja tidak terkecuali terhadap latar profesi apapun dalam menjalani realitas sehari hari. Namun pasti kita tidak dapat menerima atau tidak masuk logika jika ada yang bilang ; Meski preman tapi masuk syurga atau sekalipun koruptor tapi masuk syurga.

Tetapi kitapun tak dapat menyangkal, bahkan seorang agamawan sekalipun masih tetap bertanya terhada dirinya sendiri, apakah dia seorang ustaz, ulama, pendeta, pastor, pandhita, guru dan seterusnya. Ada pertanyaan besar dalam hati sanubarai apakah kelak akan masuk syurga atau berhasil moksa mencapai nirvana. Penyair Indonesia Chairil Anwar bahkan hanya menuliskannya dalam bahasa yang indah”….Tuhan….dipintumu… aku mengetuk…aku tidak bisa berpaling. Sang penyair tidak menyebut syurga atau neraka dia pasrahkan seluruhnya kepada tuhannya.

Kembali ke “komentar : “Inilah bedanya pengacara hitam dan pengacara putih. pengacara hitam selalu menghalalkan segala cara untuk kebaikan klien nya”. Terdapat kata kunci lainya disamping Hitam - Putih, yaitu menghalalkan cara. Sepertinya apa yang disampaikan memang realitas kehidupan sebagaimana digambarkan sebagai Hitam dan Putih. Apakah dia seorang pengacara, polisi, jaksa, hakim sebagaimana kita kita semua mempunyai dua pilihan tadi dengan kemungkinan serupa yaitu menghalalkan segala cara. Termasuk juga bagi seorang presiden beneran atau presiden partai dengan jargon agama. Pilihan dalam menjalani realitas hidupnya.

Akan tetapi jika kita bertanya mana yang lebih buruk: Seorang pengacara hitam yang menghalalkan segala cara untuk membela klienya. Ataukah seorang polisi, jaksa atau hakim yang menghalalkan segala cara untuk menghukum tersangkanya?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: