Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Rahasia Kekuatan Hati

REP | 16 April 2013 | 10:31 Dibaca: 1977   Komentar: 13   3

Nun. “Jika Aku Menjadi…” 

Manusia saat belum dipertukarkan nasibnya akan selalu beranggapan, bahwa nasib orang lain lebih enak dibandingkan dengan dirinya. Kemudian manusia meng-angankan kenikmatan-kenikmatan yang mungkin direngguknya dengan itu.  Ternyata faktanya manusia hanya mampu beranggapan dan berprasangka saja. Saat ketika dirinya benar-benar dipertukarkan nasibnya. Banyak dari mereka tidak mampu menjalaninya. Orang miskin lagi papa yang dipertukarkan nasibnya dengan orang kaya, ternyata tidak mampu menjalani kehidupan orang kaya, dan begitu juga sebaliknya.  Ketidak mampuan tersebut melahirkan rasa iba diri yang akut.

Penyakit iba diri inilah yang sangat berbahaya. Manusia akan merasa paling merana di dunia. Manusia akan selalu menyalahkan keadaan yang menimpa dirinya. Manusia akan selalu menyalahkan lingkungan dan orang lainnya. Jika  orang beragama, maka selanjutnya  akan selalu menyalahkan Tuhan yang sudah menciptakannya. Manusia merasa Tuhan tidak adil atas dirinya.  Manusia akan terus mengikuti angannya, akan mencari-cari ayat-ayat atau pemahaman yang pas dengan keadaan dirinya itu. Dia tidak sadar jikalau sebenarnya jiwanya sedang mencari pembenaran saja atas apa-apa yang telah dialaminya. Manusia selalu dalam penyakit iba diri.  Mencari pembenaran kepada manusia lainnya atas kelemahan dirinya yang tidak mampu menerima realitas takdirnya sendiri. Pengalaman hidupnya tidak membuahkan apa-apa, justru hanya melahirkan perasaan iba. Menjadi orang termalang di dunia ini. Begitulah keadaannya.

Begitulah kehidupan, begitulah panggung sandiwara. Al qur an hanyalah memberikan khabar bagi kita. Al qur an hanyalah panduan bagi kita bagaimana seharusnya posisi jiwa kita saat kita menonton panggung kehidupan tersebut. Agar kita tetap sadar diri, terus berdoa, terus memuji, berharap agar diri kita mendapat peran yang bermanfaat, agar dengan kesadaran itu, sekarang  saat ini disini  kita fokus kepada peran yang sedang  kita mainkan sendiri. Bersabar atas peran yang ini. Melihat tontonan yang tergelar dengan terus bertasbih.

Maka dengan keadaan ini, kita hanya diminta ber-Islam secara kafaf, secara totalitas, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah saja. Janganlah kita termasuk didalam golongan orang-orang yang selalu gamang. Orang-orang yang tidak berani mengambil sikap. Sungguh itu hanya akan membuat keresahan tersendiri. Pilihlah salah satunya saja, jangan kedua-duanya. Lebih baik memilih dari pada tidak memilih. Keadaan tidak memilih inilah yang akan membuat kita selalu resah, selalu mempertanyakan hukum keadilan Tuhan. Maka jika perlu dicoba, yakini keadaannya.

Keyakinan dalam sikap. Begitulah yang harus kita lakukan. Ikutilah sikap-sikap para orang sholeh, sebagaimana yang dicontohkan Arjuna dalam perang Mahabarata, meskipun dia harus menghabisi seluruh keluarganya (kurawa) dia telah yakin atas keputusannya, lihatlah apa yang diyakini Ali bin Abi Tholib as , saat dia memerangi Ibunya sendiri, Lihatlah bagaimana keyakinan Asiyah bint Muzahim (istri Firaun), rasakanlah bagaimana kekuatan hatinya sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang muslim, bagaimanakah pergolakan batinnya, jiwa kepada Allah dan raga harus berserah kepada Fir aun.

Manusia hanya bisa berikhtiar sebagaiman Siti Hajar saat Ismail kehausan di padang pasir. Meski beliau tahu air akan sia-sia sebab semua padang pasir tampak dimata, namun beliau  bolak-balik hingga 7 kali tidak pernah menyerah, hingga raganya tak mampu menompangnya lagi. Demi sebuah harap dan sebuah keyakinan adanya air kehidupan. Raganya digerakkan sedemikian rupa, melawan kenisbian. Beguitu juga pada kisah Nabi Yusuf ada kekuatan hati yang luar biasa keyakinan atas Tuhannya yang melihat segala perbuatannya. Maka ketika dalam keyakinan itu, runtuhj sudah semua nafsunya. Kekuatan hati inilah yang kita bicarakan.

Kita sedang diuji rahsa empati kita kepada sesama, kita yang diberikan pengetahuan atas itu. Kita diuji rahsa empati atas nasib bangsa ini. Meski keadaan kita sebagaimana Siti Hajar yang kebingungan kesana kemari. Semoga akan turun  ridho-Nya atas diri kita makhluk yang lemah yang terus berusaha dengan segenap kemampuan dirinya. Dia dalam keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menolongnya. Dengan ini mereka yakin, dan istikomah menetapi lakunya. Pada kisah-kisah para nabi ada kekuatan hati, yang tersembunyi di dalam dada pelakunya,  itulah rahasia hikmah Al qur an. Semoga kita mampu meneladani kisah-kisah itu.

Lihatlah kisah-kisah Al qur an lainnya. Semua dikisahkan dengan hak. Semua dalam dimensi hati. Dimensi yang hanya bisa dipahami saat diri kita mencoba menjadi mereka, merasakan bagaimana keadaan pergulatan hati mereka. Saat mana kemudian mereka mampu mengambil sikap. Itulah sikap dalam keyakinan yang hanya diri mereka yang tahu. Keyakinan itulah kebenaran yang hak dari Tuhan mereka. Kebenaran yang absolute bagi mereka-mereka yang menjalani lakon tersebut. Kebenaran dalam dimensi jiwa mereka  masing-masing. Kebenaran yang tidak menyisakan ruang keraguan sedikitpun didalamnya. Hingga karenanya dimensi kebenaran disini, di makom ini bukanlah relatif.

Rahasia kekuatan hati adalah keyakinan. Sesuatu pemahaman yang relatif akan menjadi sebab keraguan dalam hatinya.  Maka jika kita meyakini kebenaran itu suatu yang relatif maka bersiaplah diri kita dalam keraguan. Jika keadaan kita begitu maka tunggulah saatnya keimanan kita akan runtuh secara perlahan, sebab adanya penyakit ‘keragu-ragu’an tersebut.  Jika keimanan sudah runtuh, maka jiwa kita akan sering was-was, selanjutnya kita akan mudah terkena penyakit degeneratif dan penyakit psikologis lainnya. Keraguan adalah musuh kekuatan hati  !.

Maka rasakan saja sejenak bagaimana rasanya keadaan dimensi jiwa , “Jika Aku menjadi ..” Jangan menduga-duga, jangan berprasangka. Maka kita akan tahu bedanya. Al qur an akan menjadi pembeda kedua keadaan dimensi jiwa tersebut. Karenanya pilihlah salah satunya. Itu akan lebih baik bagi psikologi jiwa manusia hidup di dunia ini. Keadaan ragu-ragu justru itu akan sangat menyiksa sekali. Sungguh jika kita ber-Islam itu akan lebih baik sekali keadaannya, bagai bumi dan langit. Maka yakinkanlah diri kita, atas keberadaan kita  di muka bumi ini. Kita adalah para Kesatria itu. Kita adalah Sang Khalifah yang diutus dimuka bumi. Andalah sang Khalifah itu !. Maka yakinlah dengan itu. Jangan pernah ragu, jangan pernah menjadi relatif lagi.

Wolohualam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 9 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 10 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 13 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 14 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 9 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 9 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 9 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: