Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mindawati Perangin Angin

Pengamat kepercayaan, spiritualitas dan metafisika.

Mati tapi Hidup dan Hidup tapi Mati

OPINI | 15 April 2013 | 11:48 Dibaca: 459   Komentar: 4   0

Banyak orang beranggapan bahwa ketika manusia mati, maka semuanya mati. Walau banyak juga yang percaya akan reinkarnasi atau kebangkitan kembali. Yang percaya bahwa akan ada siklus berikutnya setelah kematian, bisa dikatakan mengartikan kematian sebagai yang Mati tapi Hidup.  Dengan pengertian tubuhnya mati, tapi roh/jiwa tetap hidup.  Hal inilah yang menyebabkan timbul pernyataan “Telah kembali ke rumah Bapa”,  si ini..dst.  Roh-nya lah yg kembali kpd siempunyanya. Roh yang adalah energi berlaku sesuai dengan sifatnya, tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan.  Konsep “syeol” dlm Perjanjian Lama menunjukkan bahwa ada pemahaman tubuh dan roh dalam manusia.

Jika banyak orang yang percaya mati adalah mati, dan hidup adalah hidup, dan banyak juga yang percaya bahwa mati adalah hidup dan hidup adalah hidup, tapi kami  mau mengatakan bahwa sebenarnya mayoritas kita hidup bukan atas kepercayaan kita akan hidup itu, tapi atas ilusi kita akan hidup. Mengapa? Karena mayoritas manusia yang mengerti bahwa dirinya hidup sebenarnya sudah mati.  Dalam arti roh sebagai motor penggerak tubuh tidak diberdayakan, seperti walau listrik di rumah kita ada, namun karena knop lampu tidak kita on kan,  maka lampu tidak menyala.  Jelas pernyataan ini hanya berlaku jika kita mengakui bahwa manusia terdiri dari sedikitnya tubuh dan roh /jiwa. Roh yang adalah bagian dari roh Allah, si empunya roh itu, yang seharusnya menjadi mesin penggerak tubuh, tidak diaktifkan (di off kan), digantikan oleh “keinginan” tubuh.  Yang digerakkan menjadi yang menggerakkan.

Ketika roh sudah tidak menjadi mesin penggerak manusia, maka sebenarnya manusia sdh menjadi robot. Mata tdk mampu melihat, kuping tdk mampu mendengar, hati tidak mampu merasa, manusia sdh tidak menjadi manusia lagi.

Robot robot ini digerakkan oleh mesin yg namanya keinginan atau nafsu dunia, krn tubuh berada di dunia. Keinginan ini adalah untuk memiliki dunia, sehingga mesin robot hanya mengarahkan dirinya untuk mencapai gengsi dan kehormatan dunia: gelar, jabatan dan harta. Gengsi dan kehormatan dunia sdh dicekoki kpd kita sejak masih kecil. Kita diajar berkompetisi dengan sesama dan alam sejak kecil utk mencapai kemasyuran dunia. Hidup kita sdh diprogram oleh penguasa dunia, untuk dunia. Lalu para robot saling berlomba, saling menyikut, saling menembak, saling membunuh utk menjadi penguasa dunia. Siapa yg tidak mampu “bertanding,” tersingkirlah dan mrka dicap sbgai tidak gaul. Lalu banyaklah robot robot yg frustasi, tertekan, rendah diri, krn tidak mampu bersaing dalam kompetisi. Yang frustasi banyak yang pergi ke gereja, mesjid, vihara. Namun karena tempat tempat ini juga dikelola oleh para robot, maka tetap program penguasa dunialah yang berlaku. Lalu apa yg didapat para robot yg frustrasi tadi dari rumah-rumah ibadah? penghiburan semu. Mengapa? Karena bgmna robot bisa menyadarkan robot? Bagaimana org buta bisa mempimpin org buta? Apapun ceritanya, robot tetap akan mem-proposkan program dunia, sehingga untuk membantu para robot ini jalan satu satunya hanyalah menyadarkan mereka bahwa mereka bukan robot tapi manusia. Untuk tiba dikesadaran ini amatlah susah, mengapa? Karena para robot pengelola rumah ibadah sendiri mayoritas tidak berkeinginan untuk menjadi manusia lagi. Mereka hampir sama dengan para robot yg merasa menang dan mampu menaklukkan dunia. mereka semua sangat menikmati permanian dunia ini, lalu untuk apa menjadi manusia!

Dalam situasi seperti ini semua para robot tidak sadar bahwa mereka sebenarnya bukan robot tapi manusia. Mereka akan tetap tidak sadar selama mereka percaya bahwa program yg dikepala mereka itulah yg harus diwujudkan. Program itu begitu kuatnya, sehingga para robot tidak mampu melihat program yang lain yang sebenarnya ada padanya tapi tidak disadarinya. Jika mereka mau, sebenarnya para robot tinggal menggantikan channel saja, lalu baliklah mereka menjadi manusia. Tapi untuk mengganti channel diperlukan kesadaran bahwa ia bukan robot tapi manusia. Dan kesadaran itulah yang susah tiba, karena para robot sibuk terus, sibuk mengejar karir, pengetahuan, harta, karena memang itu yg ada dalam program mereka. Program mereka ber-moto “aku sibuk maka aku ada”, supaya mereka tidak punya waktu untuk meninjau dirinya. Kalau tidak atau belum sibuk benar, ya disibuk-sibukkan lah (killing time), biar menjadi anak gaul dikalangan dunia. Konsep-konsep kebahagiaan, kenikmatan, be-somebody, aktualisasi diri, semuanya ini dalam rangka memenuhi program dunia tadi. Ilusi. Lalu amburadullah semua.

Prihatin prihatin, Tuhan yang tadinya menciptakan manusia, dengan sim salabim tukang sulap yang namanya dunia, abrakadabra, lalu berubahlah manusia menjadi robot. Hidup tapi mati. Mau hidup tapi hidup? kita tidak perlu tukang sulap, tapi gantilah program kita, dari program dunia menjadi program Allah yg sdh ditawarkan beberapa pendahulu kita dari dahulu dan salah satunya adalah Yesus. Yesus yang said NO untuk menjadi robot ketika ditawarkan padaNya semua gengsi dan kehormatan dunia setelah ia selesai berpuasa 40 hari, dan Ia tetap bertahan untuk memakai program Bapanya, sehingga Ia mampu mengajarkan:

Berilah kami HARI INI, makanan kami yg SECUKUPNYA. Di sini Yesus mengajar kita untuk hidup untuk hari ini, karena jika kita hidup untuk hari esok atau 5 tahun yg akan datang, kita tidak akan mampu hidup untuk hari ini. Mengapa? karena hidup kita akan “mengejar” atau sibuk dengan mengumpulkan semuanya sbgai persediaan untuk yg akan datang (kalau hanya basi seperti manna di padang gurun nda pa-pa, tapi jika warisan malah yang menjadi sumber masalah atau membuat anak tidak mampu menjadi manusia, salah siapa?). Dan bukankah kita lebih menikmati makanan jika itu secukupnya daripada jika ia berkelebihan? Bukankah binatang yg dilepas di alam tidak pernah kelebihan berat badan? Itu karena mereka biasa makan secukupnya.

Masih ingatkah kita akan apa yang Yesus katakan mengenai bunga bakung dan burung burung diudara di Matius 6:25 dstnya? Ia mengatakan bahwa hidup lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian. Yesus mengajak kita untuk tinggal dalam realitas bukan ilusi yg diciptakan dunia. Bunga bakung dan burung burung mampu hidup sepenuhnya dalam kekinian. Manusia badannya “kini dan disini”, tapi pikiran dan tindakannya “nanti dan disana” (bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun yad dan lokasinya entah dimana, mudah mudahan tidak di rumah sakit, rumah jompo atau kuburan).

Berbahagialah mereka yg tidak memiliki konsep-konsep tentang masa depan dan kata -kata yg sudah diprogramkan dunia di kepala setiap orang, karena mereka tidak akan pernah kawatir akan apa yg dipikirkan atau dikatakan orang ataupun dunia padanya.

Hiduplah untuk hari ini dan bersyukurlah atasnya.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 10 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 12 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 13 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: