Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Nanang Rosidi

saat ini Nanang Rosidi menggeluti bidang filsafat dan pemikiran Islam

Apa itu Muslim yang Kaffah?

OPINI | 14 April 2013 | 16:34 Dibaca: 3286   Komentar: 2   1

Kaffahsecara bahasa artinya keseluruhan. Makna secara bahasa tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita mengenai makna dari Muslim yang Kaffah, yakni menjadi muslim yang tidak “setengah-setengah” atau menjadi muslim yang “sungguhan,” bukan “muslim-musliman.”

Muslim yang sungguhan (baca: kaffah) adalah Muslim yang mengamalkan ajaran-ajaran Islam di setiap aspek kehidupan. Seorang Muslim belum bisa disebut Muslim yang kaffah jika ia belum menjalankan ajaran Islam di segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, Muslim yang kaffah tidak berhenti pada ucapan kalimat syahadat saja. Muslim yang kaffah tidak berhenti pada ritual-ritual keagamaan saja, tetapi sudah menjajaki substansi dari ritual-ritual tersebut.

Seringkali kita melihat di dalam keseharian kita yakni seorang Muslim yang rajin sholat berjamaah di Masjid, rajin I’tikaf,rajin berpuasa sunnah, rajin “memutar” tasbih, tetapi perilakunya terhadap sesama manusia kurang baik, misalnya, sering menggunjing, melalaikan ―secara sengaja― hutang di warung, dan semacamnya. Itu terjadi karena ibadah ritual yang ia lakukan tidak sampai pada substansinya. Ia hanya berhenti pada ritual-ritual kosong tanpa makna.

Ibadah ritual, seperti sholat, puasa, zikir, i’tikaf, dan lain sebagainya, adalah sebuah simbol dari nilai-nilai Islam. Sholat berjamaah menjadi simbol dari persatuan dan kebersamaan dalam menuju kepada Allah Swt, puasa menjadi simbol bagi sama rasa di antara sesama Muslim sehingga bisa memunculkan rasa ingin menolong terhadap saudara kita yang kekurangan. Oleh karena ibadah ritual itu adalah sebuah simbol, maka alangkah meruginya jika seorang Muslim berhenti pada simbol-simbol tanpa bisa menggapai nilai-nilai di balik simbol tersebut. Alangkah tidak bermaknanya ritual-ritual yang dilakukan setiap hari jika kita tidak mampu mengamalkan nilai-nilai di balik ritual itu.

Nilai yang ada di balik ritual-ritual tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri (zoon politicon). Oleh karena itu, manusia harus mampu untuk saling berinteraksi dengan baik. Nilai di balik ritual keagamaan itu adalah untuk menjadikan manusia bisa menjalin hubungan baik dengan manusia lainnya. Ajaran persatuan di dalam ritual sholat berjamaah adalah sangat penting dalam kehidupan manusia. Itu adalah salah satu contoh betapa pentingnya nilai-nilai yang ada di balik ritual keagamaan.

Hendaknya seorang Muslim tidak terjebak pada ritual-ritual yang tanpa makna, tetapi harus bisa mengaplikasikan nilai di balik ritual-ritual yang ia lakukan setiap hari. Dengan begitu, peran agama Islam dalam kehidupan manusia akan sangat terasa. Islam tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh (transenden) tetapi sudah menjadi sesuatu yang melingkupi kehidupan manusia sehari-hari (imanen). Kesimpulannya, Muslim yang kaffah adalah Muslim yang mampu menjalankan ibadah ritual sekaligus mampu menangkap dan mengamalkan makna dari ibadah ritual tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Wallahua’lambishshawab [ ]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 17 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: