Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Nanang Rosidi

saat ini Nanang Rosidi menggeluti bidang filsafat dan pemikiran Islam

Antara Absolut dan Relatif: Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai Perbedaan dalam Islam

OPINI | 14 April 2013 | 16:35 Dibaca: 341   Komentar: 0   1

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun demikian, hal itu tidak menjadikan fenomena keberagamaan di Indonesia terasa monoton. Karena faktanya, meskipun mereka sama-sama menganut agama Islam tetapi memiliki ekspresi yang berbeda dalam mengamalkan ajaran Islam yang mereka anut. Untuk itu, penting kiranya jika kita memahami penyebab perbedaan tersebut, sehingga, kita bisa menyikapi perbedaan dalam Islam dengan lebih bijaksana.

Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam memiliki sumber primer dalam beragama yakni Al-Qur’an yang diyakini sebagai kalâm Allah. Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup agar manusia bisa mencapai kebagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini senada dengan semangat Islam yakni Islam rahmatan lil ‘âlamîn (Islam sebagai rahmat bagi alam semesta). Semua ulama menyepakati bahwa al-Qur’an adalah sumber utama yang dijadikan rujukan bagi segala bentuk perilaku umat Islam.

Perbedaan muncul ketika manusia berlomba-lomba untuk memahami pesan Allah yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut. Allah adalah zat yang Maha Absolut, sementara manusia adalah makhluk yang terbatas. Maka ketika manusia berusaha untuk memahami pesan Allah yang ada di dalam Al-Qur’an, tidak ada jaminan bahwa apa yang dipahami manusia sama persis dengan yang dimaksudkan oleh Allah, karena yang paling memahami Al-Qur’an adalah zat yang membuatnya, Allah. Sementara pemahaman manusia hanya bersifat parsial karena akal manusia yang terbatas tidak akan mampu memahami zat yang Maha Absolut. Maka bisa dikatakan bahwa pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an sifatnya relatif, artinya tidak ada jaminan bahwa pemahaman manusia sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah.

Kondisi tersebut perlu dipahami agar manusia tidak terjebak pada klaim kebenaran (truth claim), yakni menganggap pemahamannya benar sementara pemahaman pihak lain salah. Dengan menyadari bahwa tidak ada kebenaran absolut pada diri manusia, karena kebenaran absolut hanya milik Allah, maka hendaknya manusia bisa menghargai perbedaan pemahaman yang muncul di antara umat Islam. Karena, pada dasarnya, semua manusia sedang berlomba-lomba meraih setitik kebenaran dari kebenaran yang absolut tadi.

Munculnya berbagai aliran dalam Islam adalah sebuah keniscayaan dari kemampuan manusia yang terbatas itu dalam memahami kebenaran absolut. Maka, sungguh ironis ketika sebagian kelompok menuduh sesat kelompok yang lain dan melakukan tindakan anarkis untuk memberantas kelompok yang tertuduh tersebut. Bisa jadi, justru kelompok yang menuduh sesat itulah yang sebenarnya sesat, karena telah melakukan tindakan kriminal membantai kelompok lain, yang tentu saja Allah sangat mengecam perbuatan tersebut.

Barangkali kita bertanya-tanya, apakah paradigma yang semacam itu —bahwa manusia tidak bisa memahami kebenaran absolut— akan mengantarkan kita pada skeptisisme atau bahkan nihilisme? Tentu saja paradigma tersebut berbeda dengan skeptisisme atau nihilisme. Skeptisisme menganggap bahwa pengetahuan manusia itu tidak dapat dipercaya, karena manusia tidak dapat mengetahui hakikat dari sesuatu apapun dan tidak dapat mengetahui sesuatu apapun secara keseluruhan. Lebih jauh, nihilisme menganggap bahwa kebenaran itu tidak ada (nihil). Islam menghargai pencapaian manusia dalam memahami kebenaran dari zat yang Maha Absolut. Dengan demikian, umat Islam tidak kehilangan pedoman hidup karena manusia mampu meraih setitik kebenaran dari kebenaran absolut tadi. Sementara skeptisime dan nihilisme berusaha untuk menghilangkan pedoman hidup manusia dengan mengatakan bahwa manusia sama sekali tidak dapat meraih kebenaran.

Kita selaku generasi muda Islam sudah sepatutnya bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi perbedaan pemahaman yang muncul di dalam Islam. Dan hal itu tidak perlu disesali. Perbedaan di dalam Islam adalah rahmat, artinya perbedaan tersebut justru memberikan kemudahan bagi umat Islam. Misalnya, ketika pendapat seorang imam mazhab fikih terasa berat untuk dijalankan —karena faktor lingkungan dan lain sebagainya— maka kita boleh memilih pendapat lain yang lebih kompatibel dengan lingkungan kita. Wallâhua’lambishawâb [ ]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 7 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 8 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebaik-baiknya Tahun adalah Seluruhnya …

Ryan Andin | 8 jam lalu

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Siasat Perangi KKN Otonomi Daerah …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Pancasila : Akhir Pencarian Jati Diri Kaum …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: