Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Andra10

Terlahir sebagai lelaki pencinta Lelaki juga. Mereka bilang aku tidak Normal hanya karena aku berbeda,tanpa selengkapnya

Homo,Mitos, Pilihan dan Dilema

OPINI | 12 April 2013 | 04:11 Dibaca: 625   Komentar: 5   1

Penafsiran Homo masih rancu di masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat tentang Homo menjadi dilema sepanjang hayat yang dihadapi seorang Homo, yang menjadikan homo terombang ambing mencari jatidiri sesunguhnya .Mereka hanya butuh ruang untuk bernafas bukan untuk disekap,mereka butuh ruang untuk telanjang bukan ditelanjangi,mereka butuh ruang untuk di dengar bukan diceramahi,dan mereka adalah manusia yang memiliki rasa dan hati .

Beberapa mitos yang salah dan dibenarkan oleh masyarakat tentang Homo
Homo adalah sebuah penyakit ,
Masyarakat banyak yang mempercayai Homo adalah penyakit bahkan mereka percaya Homo akan sembuh apabila ia menikah sama wanita ditambah lagi memiliki keturanan maka masyarakat percaya si Anu sudah sembuh dari homonya. Padahal Realitanya tidak seperti itu,Banyak Homo yang menikah agar bisa diterima di masyarakat atau mencoba coba mana tau seleranya terhadap lelaki berubah seiring berjalanya waktu, bahkan Homo sendiri banyak yang menyakini kalau dia sedang sakit ( tidak heran sebutan Untuk seorang Homo disebut Sekong yang artinya Sakit ), Dan faktor lainya,Namun realitanya Homo bukanlah penyakit melainkan Orientasi Seksual ,Namun penerimaan realita ini sulit diterima dikarenakan terbenturnya dengan norma sosial,agama yang berlaku di masyarakat maka harus ditasbihkan Homo bisa Sembuh karna Homo adalah penyakit. Dan Realitanya tidak pernah ada Rumah Sakit Homo yang menerima Pasien Homo agar bisa sembuh dari penyakitnya .

Homo adalah keturunan umat Nabi Luth
Dangkalnya penafsiran orang orang tentang Teks ayat ayat suci mengenai perilaku liwath ( Seks melalui dubur) menambah panjang tuduhan terhadap orang yang terlahir sebagai Homo . Sehingga banyak homo menutup jati dirinya sendiri ditengah masyarakat agar tidak di cap menyimpang.Realitanya banyak laki laki Straight yang berfantasi melakukan seks melalui lubang terlarang tadi,dan kalau ditanya secara jujur banyak kaum Homo tidak menginginkan hubungan semacam itu, bahkan saya sendiri tidak pernah menikmatinya.Namun Penafsiran tadi terlanjur melekat ke kaum Homo ,Dan jikapun ada Homo yang mengakui ke Homoanya sering disebut sebagai Pembenaran dan tidak pernah diangap kebenaran.

Homo adalah masalah penerimaan bukan pilihan. Ketika seorang Homo menyadari kalau dirinya terlahir berbeda,biasanya mereka menyangkal dan terus mencari jati diri terus menerus,kalau dirinya memang terlahir sebagai Homo, selangkah demi selangkah seiring dengan waktu maka banyak Homo yang menyadari kalau dia dicptakan berbeda.Ketika menyadari baru lah ada pilihan yang akan dijalani lengkap dengan segala resiko yang ada . yaitu menjadi dirinya sendiri dengan memilih terbuka kepada siapa saja,atau memilih menutupinya dan mengangap sebuah rahasia besar dalam hidupnya karna ini adalah Aib bagi yang mengetahui.Dan kedua pilihan tadi tetaplah memiliki resiko masing masing.

Hidup adalah sebuah masalah .Tanpa masalah bukanlah sebuah kehidupan melainkan kematian.homo bermasalah tentang penerimaan diri sendiri ( faktor dari dalam) dan penerimaan masyarakat ( Faktor dari luar ), artinya banyak Homo yang belum bisa menerima dirinya sendiri secara utuh dan terus memakai topeng ,namun tidak sedikit Homo yang sudah menerima diri seutuhnya .

Dilema ..;
Mekkah (10 April -2013)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: