Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Teguh Murtazam

saya adalah mahasiswa fakultas Syariah, jurusan Muamalah Wa Iqtisad, ketertarikan saya antara lain dalam bidang selengkapnya

Filosofi Sapu Lidi

OPINI | 12 April 2013 | 02:43 Dibaca: 1094   Komentar: 0   0

Sebuah perubahan besar terkadang sangat susah diwujutkan bahkan oleh orang yang hebat sekalipun jika hal tersebut dilakukan seorang diri. Tapi akan lain halnya jika dilakukan bersama, semut binatang yang kecil sekalipun mampu mengangkat beban yang massanya berkali-kali lipat tubuhnya, bagimanakah hal yang luar biasa ini terjadi? Kuncinya adalah KEBERSAMAAN. Tentunya hal ini bisa menjadi sebuah ibrah bagi kita makhluk yang diberi akal oleh yang maha kuasa, betapa dahsyatnya jika sebuah kebersamaan dibina bahkan kita bisa melakukan hal yang seakan-akan tidak mungkin dilakukan, menjadi bisa jika kita lakukan bersama.

Filosofi sapu lidi merupakan sebuah istilah yang mempunyai arti yang laur biasa jika kita mau merenung sejenak, menenangkan diri, dan berusaha berpikir jerih. Sapu lidi adalah benda yang sering digunakan orang banyak untuk membersihkan suatu tempat agar terlihat bersih dan nyaman, benda ini dengan mudah dapat membersihkan kotoran walaupun jumlahnya sangat banyak, serta tempat yang dibersihkan sangat luas. Namun bayangkan jika sapu lidi yang terikat rapi yang terdiri dari sekian banyak lidi terlepas dan tercerai berai. Sehingga orang yang hendak membersihkan sampah dengan sapu lidi tersebut menggunakan 1 lidi yang terpisah tadi, bisakah anda bayangkan? Jangankan untuk membersihkan suatu tempat yang luas. Untuk membersihkan ruang 1×1 saja sangat susah. Nah apa artinya semua itu?

Allah SWT telah memberikan kepada manusia sebuah pembeda dengan organisme yang lain yaitu akal yang membuat manusia berpotensi untuk berpikir dan mengambil pelajaran dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Mata yang memandang sebuah objek secara otomatis mengirimkan signal keotak sehingga diproses secara khas otak manusia yang diberikan akal sehingga menjadi sebuah informasi yang sudah diolah dan siap menjadi pengetahuan baru bagi si manusia tersebut. Begitu juga dengan alat indra lainnya. Hal inilah yang menghasilkan berbagi macam pelajaran baru bagi manusia tersebut.

Lalu apa sebenarnya hubungan sapu lidi, sebuah alat kebersihan dengan manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir? Hubungannya adalah sapu lidi merupakan sebuah objek yang oleh otak manusia diolah menjadi sebuah informasi dan menjadi pelajaran baru bagi simanusia dan manusia itu sendiri bisa menyerap ibrah yang ada didalamnya. Diparagraf awal tadi penulis telah mendeskripsikan bagai mana dahsyatnya  kebersamaan itu bekerja, semut sebagai contohnya. Sapulidi juga menggunakan prinsip yang sama, dia bisa bekerja dengan baik dan maksimal jika digunakan utuh sebagai sebuah sapu lidi bukan sebagai lidi tunggal, walau pun lidi tersebut kuat, dan terbuat dari sumber yang terpilih. tapi untuk menjalankan fungsinya sebagi alat kebersihan akan nihil rasanya jika digunakan satu lidi saja. Akan tetapi akan maksimal jika digunakan bersama lidi-lidi lainnya dan menjadi sebuah sapu lidi, begitulah kebersamaan yang diwujutkan dengan saling bekerja sama dan mempunyai visi yang sama, tidak saling menindas dan menjatuhkan, serta bersama-sama mewujutkan satu tujuan atau visi  yang hendak dicapai bersama.

Indonesia adalah negara yang begitu luas terbentang dari Sabang sampai Meroke. Terdiri dari 33 provinsi dan beratus-ratus kabupaten. Setiap daerah mepunyai berbagai macam keunikan baik sisi sumberdaya alam, kebudayaan, sosial dsb.  Negara ini kaya dengan dengan hal-hal semacam itu, tanah yang subur, udara yang sejuk, laut yang indah, bumi yang menyimpan bermacam-macam barang tambang dsb. yang sebenarnya bisa menjadi deposito kekayaan raksasa yang tidak akan pernah habis, tapi realitanya, saat ini banyak sekali masyarakat negri ini masih harus menderita kelaparan ditengah tanah yang dihiasi dengan kesuburan, merasa kedinginan saat hujan turun karna tidak ada tempat berlindung, buta aksara, sakit yang tidak berkeseduahan, dan berbagai penderitaan lain yang menimpa penduduk negeri yang kaya ini, Sadis memang melihat realita yang menakutkan seperti ini. Lalu apa yang salah dengan negri ini? Pertanyaan yang besar tentunya.

Sepertinya para “petinggi” republik yang tercinta ini lupa dengan filosofi sapu lidi yang penulis paparkan diatas, mereka ingin namanya dikenal serta mengharap keuntungan pribadi sebanyak banyaknya sehingga menjatuhkan satu dan lainnya sehingga sapu yang tadinya terikat layaknya sebuah sapu kini terlepas menjadi lidi-lidi yang terpisahkan. Bagaimana mungkin tujuan besar akan dicapai jika kenyataannya seperti ini.

Para petinggi negri yang mulia ini seharusnya harus menset ulang tujuan mereka menjadi satu yaitu memajukan negri yang seharusnya kaya ini menjadi negri yang benar-benar kaya, sehingga rakyatnya makmur dan terbebas dari penderitaan yang tidak habis-habisnya yang sedang merka alami saat ini. Mereka harus mengesampingkan kepentingan pribadi dan bekerja sama sesuai dengan kaedah sapu lidi yang penulis paparkan diatas tadi. Sehingga tujuan mulia yang sudah sepatutnya mereka perjuangkan demi kemajuan negri ini. Bisa benar-benar menjadi kenyataan dan negri ini tidak hanya terus bermimpi menjadi negri yang maju, makmur dan sejahtra. Tapi harus ada kesungguhan untuk mengubah mimpi menjadi relita yan menjadiakan negri tercinta ini menjadi sebuah negri yang bisa memaksimalkan segala potensi yang ada, bayangkan jika semua sumberdaya yang ada bisa dimaksimalkan dan digunakan sepenuhnya bagi keperluan bangsa maka negri ini bisa lebih kaya dari negri mana pun juga didunia ini. Tapi hal yang kita impikan ini tentunya sangat susah direalisasikan jika kita masih saja menafikan kebersamaan dan berjuang sendiri-sendiri. Oleh sebab itu mari kita masukkan FILOSOFI SAPU LIDI kedalam salah satu metode untuk memajukan negri yang tercinta ini menjadi negri aman, makmur dan sejahtra.

Wasalam.

Teguh Murtazam

Banda Aceh, 14 januari 2012

Mahasiswa jurusan syariah muamalah wa iqtisadiyah

IAIN AR RANIRY, Darussalam-Bandaa Aceh

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 7 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 9 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: