Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sekelumit Pandangan Jawa tentang Estetika

REP | 07 April 2013 | 13:37 Dibaca: 570   Komentar: 0   1

Dalam rangka membentuk manusia idaman dan pentingnya nilai estetika, maka Plato mengemukakan pendapatnya agar musik menjadi salah satu mata pelajaran. Salah satu mata kuliah yang dianggap penting oleh Cassiodorus adalah rethorica yaitu seni berpidato. Sepanjang sejarah umat manusia bidang seni selalu tampil dalam kehidupan dan berperan dalam berbagai kegiatan. Nyanyian, lukisan, bahasa dan pakaian ikut berperanan dalam berbagai kegiatan manusia, baik yang bersifat profan maupun sakral. Nilai seni ternyata sangat berguna bagi manusia dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari. Karena itu cabang filsafat yang membicarakan mengenai seni juga bermanfaat bagi manusia.

Manusia Jawa pun sejak dulu kala suka berkontemplasi yang menggunakan aspek cipta-rasa-karsa. Menurut filsafat Jawa, kesempurnaan hidup manusia dihayati dengan seluruh totalitas cipta-rasa-karsa. Manusia sempurna telah menghayati dan mengerti awal akhir hidupnya. Orang sering menyebut mulih mula mulanira atau meninggal. Manusia telah kembali dan manunggal dengan penciptanya, manunggaling kawula Gusti. Manusia sempurna memiliki kawicaksanan dan kemampuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu atau kawaskithan. Dalam pandangan filsafat universal, hakikat kebenaran semata-mata berorientasi pada aktifitas olah cipta. Sedangkan dalam filsafat Jawa, hakikat kebenaran lebih berorientasi kepada olah rasa, yaitu sari rasa jati - sarira sajati, sari rasa tunggal - sarira satunggal.

Kebijaksanaan hidup yang dilandasi logika - etika - estetika, cipta - rasa - karsa, kebenaran - kebaikan - keindahan, dalam filsafat Jawa akan bersemayam dalam sanubari jalma pinilih, pethingane manungsa, pitatane dumadi. Manusia berjiwa agung, yang tidak kaget atas segala perubahan sosial, karena dirinya sudah pana pranaweng kapti, tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi. Hatinya selalu terang benderang. Pambukane warana, sinimpen telenging kalbu, tarlen saking liyep-layaping aluyup. Layar kesadarannya akan memantulkan aura kewibawaan.

Kebijaksanaan hidup adalah tuntutan dari setiap orang dan terlebih manusiayang menjalankan amanah sebagai pemegang kekuasaan yang dalam tradisi Jwa memangku jabatan sebagai Raja. Dalam kitab Paramayoga karya R.Ng. Ranggawarsita, seorang pujangga istana Kraton Surakarta Hadiningrat, disebutkan konsep serta atribut yang melekat pada diri raja. Dijelaskan bahwa raja adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, mamayu hayuning bawana. Artinya, raja besar laksana dewata dari kahyangan yang memegang hukum dan pemerintahan, senantiasa bersikap adil serta kasih sayang, dan membuat aman tenteram dunia.

Pernyataan di atas sesungguhnya mengandung keseimbangan dalam tata kehidupan masyarakat. Memang raja dalam melaksanakan tugas diberi kekuasaan penuh, yaitu narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati. Begitu besar kekuasaannya seolah-olah dia mempunyai wewenang seperti dewa. Kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif semua berada dalam genggaman tunggal yang tidak terbagi. Kalau dipikir sampai di sini saja, maka akan ada tafsiran bahwa kekuasaan raja tampak otoriter, absolut dan cenderung bisa menyalahgunakan wewenang. Akan tetapi, hak raja itu juga diimbangi dengan kewajiban yang tidak ringan agar terwujud sebuah tertib sosial.

Raja mesti mempunyai sifat ambeg adil paramarta, yaitu menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, dengan pertimbangan akal sehat, belas kasih serta ketulusan hati. Kepastian hukum dalam bernegara akan mendorong tiap-tiap individu untuk bertindak tertib sesuai dengan norma dan kaidah yang telah disepakati bersama. Dalam pepatah Melayu populer dengan ungkapan raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Dalam menegakkan keadilan itu pula raja wajib menggunakan hati nurani dan nilai kemanusiaan.

Demi kebenaran dan keadilan ini, Sunan Paku Buwana IV memberi ajaran kepemimpinan melalui serat Wulangreh. Narendra pan tan darbe garwa miwah sunu, bahwasanya raja secara hakiki tidak memiliki istri dan anak. Secara eksplisit Sunan Paku Buwana IV membedakan antara raja sebagai institusi dan raja sebagai pribadi. Narendra sanyata kagungane wong sanagara, maksudnya raja itu sepenuhnya dimiliki oleh semua warga negara. Oleh karena itu anak istri para bangsawan harus diperlakukan sama dengan warga lainnya, sebagai manifestasi dari prinsip egalitarianisme.

Usaha melahirkan generasi yang unggul, perlu dimulai sejak kecil dengan mendidik generasi muda dengan nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakatnya. Nilai merupakan pembentukan mental yang dipengaruhi oleh pendidikan, pengetahuan, pengalaman warisan, dan suasana, interaksi sosial dan sebagainya. Nilai-nilai luhur itu salah satunya dapat digali dari warisan budaya

Tags: estetika jawa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Para Tabib Muda di Karimunjawa …

Dhanang Dhave | | 23 May 2015 | 11:58

Bukchon Hanok Village, Desa Tradisional di …

Ita Dk | | 23 May 2015 | 14:04

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Begini Cara Mengetahui Foto Hoax dari …

Gunawan | | 23 May 2015 | 09:25

Kita Pernah Bersama …

Ando Ajo | | 23 May 2015 | 13:06


TRENDING ARTICLES

Favorit Bule, PSK Eksotis Indonesia dibayar …

Riana Dewie | 10 jam lalu

Dihantui Rasa Bersalah ,Tehnisi QZ8501 Bunuh …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Deadline FIFA Seminggu Lagi, PSSI justru …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Belajar dari Jokowi memilih 9 Wanita …

Imam Kodri | 12 jam lalu

Jokowi Merekrut Orang Gila Agar Bisa Tetap …

Ahmad Maulana S | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: