Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Palti Hutabarat

Hanya ingin berbagi reportase dan opini. Semoga bermanfaat bagi semua kompasianer. Staf Perkantas Riau. Inisiator Jaringan selengkapnya

Membunuh Preman Tidak Membuat Kita Lebih Baik daripada Preman

OPINI | 07 April 2013 | 13:48 Dibaca: 438   Komentar: 0   1

Tindakan membunuh adalah tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Karena dengan membunuh, seseorang telah mengambil hak seseorang untuk hidup. Padahal hak untuk hidup adalah HAM paling dasar dari manusia.

Lalu mengapa ada sebagian orang yang menganggap pembunuhan keempat orang yang membunuh seorang anggota Kopassus adalah sebuah hal yang wajar dan benar?? Apakah HAM seseorang bisa dihilangkan ketika orang tersebut adalah seorang pembunuh, pelaku kriminalitas, atau seorang preman?? Apakah tindakan membunuh pembunuh atau membunuh preman (apalagi secara brutal) bukanlah tindakan pelanggaran HAM??

Bagi saya pribadi ketika melihat serangan brutal yang dilakukan oleh 11 orang kepada 4 orang pelaku pembunuhan seorang anggota Kopassus adalah sebuah tindakan yang tidak dibenarkan. Tidak ada sedikit pun pembenaran yang bisa diberikan kepada seseorang yang membunuh manusia, apalagi unsurnya karena dendam. Karena tindakan balas dendam seperti itu membuat anggota Kopassus tersebut tidak lebih baik dari preman. Balas dendam dan main hakim sendiri adalah sikap yang biasa dikembangkan dalam dunia mafia atau premanisme.

Tindakan balas dendam dan saling bunuh membunuh adalah tindakan paling keji dalam aspek kemanusiaan. Apalagi tindakan ini membuat manusia tidak lagi menghormati hukum dan juga agama. Tindakan ini membuat manusia kembali kepada zaman tanpa hukum dimana manusia menerapkan hukum rimba dan bebas saling membunuh. Padahal manusia diciptakan punya akal, hati, dan kehendak yang berbeda dari ciptaan yang lain.

Manusia tidak sama dengan binatang yang punya insting saling membunuh dan memakan untuk keberlangsungan hidupnya atau untuk menyelamatkan hidupnya. Manusia bukanlah binatang, manusia diciptakan lebih mulia dari binatang. Karena itu manusia harus punya perilaku dan tindakan yang lebih mulia dari binatang.

Saya berharap para pembunuh 4 orang di LP Cebongan dihukum dengan hukum seadil-adilnya. Tidak boleh ada kekebalan hukum dari seseorang yang main hakim sendiri. TNI juga harus menjamin kenyamanan dan stabilitas keamanan hidup bermasyarakat, supaya tidak ada orang yang takut bersosialisasi dengan TNI. Karena TNI harusnya dekat dengan rakyat dan bukan menakut-nakuti rakyatnya.

Sekali lagi saya ingin menyatakan bahwa membunuh brutal preman yang membunuh secara brutal, tidak membuat seseorang lebih baik atau lebih manusiawi dari preman tersebut. Karena jika kita mengaku berTuhan, maka kita tidak akan pernah melukai atau mengambil kemanusiaan seseorang.

Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: