Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Semar, Panakawan yang Loyal

OPINI | 07 April 2013 | 06:31 Dibaca: 1180   Komentar: 0   1

Dalam tradi wayang kulit Jawa, tokoh Semar merupakan sosok panakawan atau abdi yang sentiasa menjadi pengiring dan pemberi naseht untuk para kesatriya.Tokoh Panakawan diciptakan oleh para pujangga Jawa sebagai sarana untuk menyampaikan kebijaksanaan hidup. Pertunjukan bayang-bayang di Jawa yang kemudian disebut wayang adalah ciptaan asli orang Indonesia di Jawa. Demikian pula dengan tokoh Semar bukan merupakan imitasi dari India, adalah berdasarkan kata-kata yang terdapat pada prasasti- prasasati ataupun karya-karya sastra kuna seperti: abanyol, haringgit, hanabanwal atau pukana ringgit. Juga dalam kitab Pararaton (± 1222 zaman Kediri-Singasari) terdapat kalimat … lamun hawayang banyol sira gasak ketawang. Jadi nyata bahwa kata-kata wayang dan banyol sudah ada sebelum zaman Majapahit.

Para tokoh panakawan tersebut sangat kuna dan tak dapat diterangkan artinya, bahkan penggambaran boneka- boneka wayangnya pun mempunyai tipe yang sangat berlainan dengan penggambaran di India. Semar beserta anak-anaknya selain sebagai pamong juga sebagai penasehat dan pelindung bagi keturunan satria Pandawa, bahkan sanggup terbang ke kahyangan tempat para dewa bertahta. Sarjana-sarjana Barat antara lain: Van Stein Callenfels, W.H. Rassers, Pigeaud dan Kats bersepakat serta sependapat bahwa Semar benar-benar ciptaan asli orang Indonesia (Jawa) dan bukan berasal atau imitasi dari India, meskipun kemudian timbul polemik dan pendapat-pendapat yang berlainan atau simpang siur, bahkan membingungkan, namun akhirnya menjadi suatu tokoh kesayangan mitologis religius Nusantara dan merupakan suatu konsepsi yang mempunyai nilai filsafat keagamaan cukup menarik untuk diperhatikan dan dipelajari secara seksama.

Dalam tradisi Jawa, Semar bukan saja tokoh dalam dunia wayang tetapi juga merupakan legenda dan mitos politik. Dalam legenda pewayangan tersebut, Semar dikenal sebagai tokoh yang menyimpan sumber kepemimpinan kharismatik sekaligus rasional. Selain itu ia juga menyimpan sumber daya kekuatan fisik yang dikenal dalam idiom Jawa sebagai kadigdayan atau kasekten dan kekuatan spiritual yang luar biasa. Walaupun demikian, tampilan empiris Semar sama sekali tidak menggambarkan citra kekuasaan yang luar biasa hebat, tetapi dalam wajah santun yang terkesan rural.

Dan begitu populernya tokoh Semar dalam dunia orang Jawa, sehingga tokoh ini berada dalam mitologi kekuasaan dan kesadaran politik Jawa. Tokoh yang satu ini memiliki posisi khusus dalam struktur kepribadian Jawa sebagai simbol yang melukiskan bukan saja sebuah kebijakan tetapi juga simbol orang bijak. Ia memiliki akses terhadap sebuah pusat pemerintahan, namun juga dekat dan dihormati oleh rakyat kebanyakan. Sosok

Semar adalah penjelmaan Bathara Ismaya yang turun ke madyapada untuk menjadi pamong satria agung. Para satria yang berbudi luhur tentu akan mendapat bimbingan langsung dari Kyai Semar, yang sudah tidak samar terhadap segala mobah mosiking jagad raya. Begitu populernya tokoh Semar dalam pewayangan, banyak tokoh pemuka negeri ini yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar yang di- anggap mempunyai kebijakan dan kebajikan.

Betapa pun hebatnya sang satria utama, wejangan dari Kyai Semar tetap diharap. Bagi para satria, Semar adalah figur yang waskitha ngerti sadurunge winarah. Kyai Semar tahu betul peta sosio kultural di Triloka atau tiga dunia yaitu dewata, raksasa dan manusia. Di benak para satria utama itu, kehadiran Semar diyakini akan mendatangkan kebenaran dan keberuntungan. Jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos), keduanya mendapat pengawalan dari Kyai Semar, sang panakawan minulya. Para dewa di Kahyangan takluk total kepada pribadi agung Semar. Bathara Kala beserta bala tentara jin pun terlalu kecil keperkasaannya bila berhadapan dengan Sang Pamomong Agung, Kyai Semar.

Semar adalah tokoh yang luwes, bisa berempan papan dan mampu bertindak secara tepat pada situasi apa saja. Ketika berada di alam kahyangan Semar sangat dihormati, disegani dan diperhitungkan pendapatnya oleh para dewa. Bahkan Bathara Guru sebagai raja dewa sekalipun, terhadap Semar tidaklah berani sembarangan. Setiap kali Bathara Guru melakukan kesalahan yang menyimpang dari prosedur wewenangnya, yang mampu mengingatkan dan meluruskan jalan hidupnya hanyalah Semar. Tokoh wayang lain jarang yang berani mengingatkan apalagi melawan. Juga permaisuri Bathara Guru yakni Bathari Durga, hanya Semarlah yang mampu mengendalikannya.

Meskipun di kahyangan Semar tidak memiliki posisi dan jabatan apapun, tetapi berkat pengalaman, kedalaman ilmu, dan kepatuhannya dengan hukum, dan keteguhannya terhadap nilai kebijaksanaan, Semar berwibawa dan di hadapan para dewa yang terkenal mempunyai kekuasaan dan kesaktian yang sangat luar biasa. Di dunia Marcapada pun Semar selalu menjadi pamong, pendamping dan penasehat para raja serta satria luhur. Prabu Kresna, raja Dwarawati yang dianggap kondang akan kecerdikan dan kebijaksanaan itu terhadap Semar juga berlaku sangat santun. Saran-saran Semar mesti menjadi bahan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan penting. Juga para Pandawa, Semar dianggapnya sebagai kamus hidup dan pelita yang mampu menerangi sewaktu dirundung kegelapan.Maka dari itu, sudah amat wajar bila ada yang menyebut Semar sebagai kawula pinandhita (kawula yang dianggap sebagai pendheta).

Dalam mistik Jawa pada tokoh Semar dapat kita temukan adanya kesadaran orang Jawa, bahwa mereka mempunyai ketergantungan pada yang memberi pengayoman. Semar adalah penjamin adanya keselarasan harmonis alam semesta. Laku tapa dan semadi bilamana dikaitkan dengan Semar akan terjadi suatu pengurangan tekanan, demikian pula kekuatan-kekuatan gaib yang bagaimana pun hebatnya. Dengan demikian dalam dunia mistik Jawa kita menemukan dua jalan untuk melindungi diri dari ancaman kekuatan-kekuatan magis dan adikodrati. Pertama adalah pencarian yang dilakukan sendiri untuk mendapatkan kesaktian, sedang yang kedua adalah di bawah pengayoman Sang Panakawan Agung Kyai Semar. Dalam pewayangan, Semar beristrikan Batari Kanastren. Dari pernikahan itu Sang Hyang Ismaya yang telah menjadi Semar berputra sepuluh dewa yaitu: Batara Wungkuan, Temboro, Patuk, Kuwera, Sang Hyang Mahayekti, Siwah, Surya, Candra, Yamadipati dan Kamajaya. Karena sangat populer di hati penghayat wayang, Semar memiliki banyak lakon, khususnya lakon dengan tema Semar maupun lakon-lakon lain di mana Semar banyak berperan. Lakon-lakon tersebut antara lain: Semar Kuning, Semar Minta Bagus, Semar Mas, Begawan Asmarasanta, Semar Mbangun Kayangan, Semar Mbangun Gedhong Kencana, Semar Mantu, Begawan Kilat Buwana, Semar Mbarang Jantur, Rimong Bathik, Wahyu Tejamaya, Pandhawa Nugraha, Wahyu Purba Kayun, dan sebagainya. Peran

Banyaknya peran Semar melahirkan bermacam- macam bentuk ekspresi air muka yang dalam pedalangan disebut wanda. Setidak-tidaknya dalam pengetahuan wanda wayang. Semar memiliki dua belas wanda dengan beraneka ragam bentuk ekspresi muka dan postur tubuh. Wanda- wanda itu antara lain Semar wanda brebes, mega, dhunuk, dukun, glegek, paled, jenggel, mesem, mendhung, jenggleng, wedhon, dan dhemit. Wanda mendhung adalah Semar dengan ekspresi susah, mesem untuk adegan sedang gembira, dukun digunakan dalam adegan sedang memberi nasehat pada para bendara dan sebagainya. Bentuk wayangnya yang tambun, berkepala kecil, bermata rembes, berperut dan berpantat besar pula, perilaku Semar sangat khas. Jika sedang gembira Semar sering tertawa. Tawanya bagai suara air mendidih. Namun jika hatinya susah, ia sering menangis, suaranya melengking- lengking bagai tangisan bocah.

Sebagai simbol kearifan dalam khasanah budaya Jawa, Semar adalah dewa yang menyamar sebagai kawula alit untuk mengembalikan perdamaian di saat-saat yang gawat. Seperti konflik yang penuh dengan kekerasan antar komunitas etnis atau agama, merupakan kondisi yang dalam legenda pewayangan memerlukan kehadiran Semar. Inilah wacana yang menawarkan solusi atas konflik kemanusiaan dan keagamaan melalui refleksi budaya hingga spiritualitas.

Penampilan tokoh Semar memberikan pengertian bahwa derajat kemanusiaan serta moral seseorang tidak dapat diukur dengan rupa yang tampan serta lahiriyah yang sopan- santun, melainkan sikap batin yang menentukan moral seseorang. Sikap Semar selalu memayu hayuning bawana, sepi ing pamrih rame ing gawe. Hal ini terbukti dalam lakon Semar Kuning, Kresna Duta, Karna Tandhing dan Bima Suci.

Ia puas dengan kedudukannya sebagai abdi yang setia, menjalankan darmanya dengan baik, ia puas dengan kedudukannya yang sederhana, namun apabila para bendara melupakan akan tertimpa malapetaka seperti dalam lakon Semar Kuning. Raja Kresna merendahkan Semar karena seorang pembantu memberikan nasehat kepada raja binathara. Ia sebagai panakawan tidak perlu diperhatikan. Tak dapat disangsikan bahwa peranan Semar itu mendorong untuk bersikap hormat terhadap apa yang kelihatan sederhana, lucu, dan seakan-akan tak perlu diperhitungkan oleh penguasa- penguasa resmi. Semar hubungannya dengan para dewa merupakan suatu pertalian yang kokoh dan kuat, tanpa memihak pada satu golongan atau partai. Hanya yang berpegang teguh pada prinsip kebenaran mendapat prioritas pertama. Hubungan Semar dengan keluarga Pandhawa memperlambangkan pengertian kawula (umat manusia) dan Gusti (Tuhan Yang aha Esa). Dalam hal ini mengandung pengertian bahwa para Pandhawa dapat ditinggalkan oleh Ki Lurah Semar apabila mereka melampaui batas kebenaran, seperti dalam lakon Semar Boyong. Keselarasan

Dalam dunia pewayangan Semar beserta panakawan lainnya merupakan lambang keselarasan antara pemimpin dan rakyat. Kiranya dalam Semar muncul suatu paham yang kuat dan mendalam di antara masyarakat Jawa meskipun jarang terungkap yaitu bahwa, berbeda dengan kesan lahiriah, rakyatlah dan bukan lingkungan kraton yang merupakan sumber yang sebenarnya dari kekuatan, kesuburan dan kebijaksanaan masyarakat Jawa. Tetapi sebagaimana para Pandawa akan tertimpa malapetaka, apabila mereka lupa apa yang sebenarnya mereka peroleh dari para panakawan, begitu pun rakyat Jawa mengharapkan agar pemimpin-pemimpin mereka jangan melupakan berkat siapa mereka sebenarnya dapat menikmati kedudukan mereka. Justru kenyataan bahwa Semar menurut ukuran manusiawi tidak bagus, bagi orang Jawa menjadi tanda bahwa di dalamnya keilahian yang sebenarnya nampak. Karena cita-cita keindahan dan estetika manusia dengan sendirinya tidak memadai dengan yang benar-benar ilahi.

Dalam pakeliran, Semar selalu ditampilkan sebagai seorang Panakawan yang setia, selalu mengikuti keinginan satria, bendara-nya. Ketika sang bendara dalam keadaan susah, Semar pandai menghibur dengan nasehat-nasehat yang melahirkan pencerahan hati majikannya. Kadang-kadang tingkahnya bagai orang dungu, mudah mengantuk dan agak tuli. Yang menarik, bila bendara-nya mengalami keadaan yang sangat kritis, Semar akan datang sebagai dewa penolong. Penutup

Eksistensi Semar  mengandung suatu relativasisasi dari cita-cita priyayi mengenai satria yang berbudaya, halus lahir-batinnya, sebagaimana khususnya terjelma oleh diri Arjuna. Anggapan tersebut ternyata runtuh, karena berlawanan dengan kenyataan pada diri Semar. Semar dalam wayang Jawa menunjukkan suatu pengertian yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bernilai pada manusia, bukan rupa yang kelihatan, bukan pembawaan lahiriah yang sopan santun, bukan penguasaan tatakrama kehalusan menentukan derajat kemanusiaan seseorang, melainkan sikap batinnya. Siapapun Semar, namun pengejawantahannya pastilah identik dengan jati dirinya, sebagai dewa yang kumawula, yang sangat sederhana namun penuh kearifan, yang senioritasnya mengatasi segala Dewa, di bawah Sang Hyang Wenang sebagai Dewa terakhir yang dapat digambar wayang. Sebab di atasnya hanya dikenal namanya yakni Sang Hyang Wening dan atau Sang Hyang Tunggal. Sebagai dewa yang ngejawantah maka unsur kedewaannya tidak ditampakkan, serta tidak terusik oleh situasi sabrang yang dipertuan kakaknya yakni Togog, berhubung dengan kekayaan duniawi yang melimpah.

Yang tidak kalah menarik ialah sosoknya yang serba samar, seolah-olah di ambang, ditambah dengan posisi istrinya yang ada di ubun-ubunnya. Itulah dampar palenggahan Sang Hyang Wenang, manakala turun ke mayapada, demi keseimbangan kosmis yang goncang oleh tingkah angkara murka pihak-pihak yang lupa diri. Kini jagad pakeliran tengah disibuki oleh paket informatif Lakon Semar mBabar Jati Diri, yang tentunya disertai oleh langkah transformatif, tanpa kehilangan konformasi dengan jati dirinya. Berbagai tanda tanya segera akan menjadi terang oleh Sumurupa-Byare. Eneng-Ening/Awas Eling.

Tags: wayang semar

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dilema Makan Nasi Dalam Bakul …

Giri Lumakto | 3 jam lalu

“Ahok Si Macan Putih dari …

Pakfigo Saja | 5 jam lalu

Kacaunya Pagelaran Ulang Tahun RCTI ke-25 …

Samandayu | 5 jam lalu

Febriana Wanita Indonesia Jadi Bintang dalam …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Pilpres: Beda Prabowo & Megawati …

Mania Telo | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: