Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mufti El-amiry

suka membaca dan menulis, suka jalan-jalan lihat pemandangan.

Perbedaan Hikmah Al-Qur’an dan Filsafat

REP | 04 April 2013 | 08:34 Dibaca: 105   Komentar: 0   0

Perbedaan antara hikmah Al-Qur’an dengan filsafat yang dihasilkan manusia adalah sebagai berikut :

Seorang penguasa yang masyhur, cerdik dan beriman ingin membuat salinan al-Qur’an yang seindah mungkin dengan keindahan yang layak bagi kesakralan makna dan keajaiban redaksinya agar dapat menghormati keindahan kata-kata itu dengan cara yang layak. Maka kemudian dia menuliskannya dengan indah, menghiasinya dengan segala jenis permata yang mahal. Untuk menunjukkan kebenaran yang ada di dalamnya, dia menuliskan huruf-hurufnya dengan berlian dan zamrud, batu-batu laut yang indah dan koral, emas dan perak. Dia menghiasinya sedemikian rupa sehingga orang yang memandangnya akan dipenuhi rasa kagum. Al-Qur’an itu menjadi sebuah maha karya bagi orang-orang yang cinta kebenaran, karena keindahan yang tampak melukiskan keindahan kandungan al-Qur’an dan keindahan luarnya.

Sang Penguasa menunjukkan al-Qur’an itu kepada seorang ahli filsafat asing (bukan orang Islam) dan seorang ulama Muslim. Dengan maksud untuk menguji dan akan memberi mereka hadiah, dia memerintahkan kepada mereka masing-masing untuk menuliskan pendapat mereka. Kedua orang itu menyanggupinya. Sang ahli filsafat menulis tentang bentuk huruf-huruf, hiasan, dan keselarasan, serta permata-permata itu dan cara memadukannya. Dia tidak menyinggung maknanya sama sekali, karena yang tampak baginya adalah hiasan-hiasan itu. Bahwa itu adalah kitab yang tidak ternilai harganya dan mengandung makna yang dalam tidak disadarinya. Dia adalah seorang yang sangat memahami bidang tehnik dan kimia, dan dia menjelaskan benda-benda, dan tahu banyak tentang permata, tetapi dia tidak tahu apapun mengenai bahasa dan huruf Arab. Maka dia menuliskan menurut apa yang dia kuasai. Sebaliknya, si ulama Muslim tahu bahwa ini adalah Buku Yang Jelas (al-Qur’an), maka tak dihiraukannya hiasan-hiasan yang berada dalam kitab dan huruf-hurufnya. Dia menjelaskan tentang rahasia dan kebenaran yang terkandung dibalik hiasan-hiasan itu, karena itulah yang lebih bernilai dan patut dihormati, lebih bermanfaat dan penuh hikmah.

Kedua orang itu menyerahkan buku mereka kepada sang penguasa. Dia melihat buku yang ditulis oleh ahli filsafat terlebih dahulu. Walaupun dia tahu si ahli filsafat itu telah bekerja keras, namun dia menolak bukunya dan menyuruh dia pergi. Mengapa? Karena dia tidak menulis apapun tentang kebenaran al-Qur’an yang berhiaskan permata itu, tidak mengerti arti apapun dari dalamnya, dan menunjukkan rasa tidak hormat dengan mengira kitab kebenaran ini sekedar benda yang dihiasi. Kemudian dia melihat buku yang kedua. Dia melihat bahwa si ulama ini menuliskan terjemahan yang indah dan sangat berguna, tulisan yang bijak dan memberikan penerangan, maka dia memberinya ucapan selamat. Buku yang ditulisnya berisi hikmah, penulisnya benar-benar seorang yang terpelajar bak pujangga. Sebagai hadiahnya sang penguasa memberi pelajar itu 10 keping uang emas dari kekayaannya yang tak pernah habis, untuk setiap huruf yang dituliskan dalam bukunya.

Arti cerita ini adalah sebagai berikut: Al-Qur’an yang dihiasi permata itu adalah dunia yang penuh keindahan; sang penguasa itu adalah Penguasa Yang Kekal. Orang pertama melukiskan garis filsafat dan para filosof; orang yang kedua mewakili jalan yang ditunjukkan al-Qur’an dan orang-orang yang membacanya. Sesungguhnya, al-Qur’an adalah terjemahan yang paling besar dan penerjemah yang paling fasih mengenai dunia ini (al-Qur’an makro). Al-Qur’an adalah Pembeda yang memberikan petunjuk bagi jin dan manusia dalam tanda-tanda penciptaan — hukum-hukum Ilahi mengenai penciptaan dan ‘tata kerja’ dunia — yang ditorehkan oleh Pena Kekuasaan di atas kitab dunia dan halaman masa. Kitab ini memandang setiap makhluk, masing-masing merupakan huruf yang bermakna, yang mengandung makna sesuatu yang lain (atas nama Pencipta) dan berkata “Betapa mereka telah diciptakan dengan indah, betapa mereka menunjukkan keindahan dan keagungan Sang Pencipta”. Jadi al-Qur’an menunjukkan keindahan dunia yang hakiki.

Sedangkan filsafat tersesat karena memusatkan perhatian pada desain dan dekorasi pembuatan “huruf-hurufnya”-nya. Filsafat seharusnya melihat “huruf-huruf” dari kitab makro ini sebagai pembawa makna bagi sesuatu lainnya (atas nama Allah). Namun, dia melihat “huruf-huruf” itu sebagai apa adanya (atas nama huruf-huruf itu sendiri) dan dia berkata:”Betapa indahnya huruf-huruf itu”, bukan “Betapa huruf-huruf itu telah dibuat dengan indah.” Jadi, para filsuf merendahkan penciptaan dan menyebabkannya menderita. Pada kenyataannya, filsafat meterialistik adalah kesalahan yang tidak memiliki kebenaran, sebuah penghinaan terhadap penciptaan.

Sungguh indah kiasan yang diberikan Badiuzzaman Said Nursi di atas dalam The Mysteries of the Qur’an-nya. Beliau mampu mengungkap sisi keindahan al-Qur’an dan apa artinya bagi kehidupan dengan sangat menyentuh. Di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan tuntutan materi ini karya-karya Said Nursi bisa dijadikan penghilang dahaga seperti oase di tengah padang pasir. Monggo teman-teman sekalian membaca dan meresapi makna dari karya yang telah digali oleh Badiuzzaman Said Nursi. Ataukah kita membedah biografi dan karyanya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menengok Harga BBM dan Cara …

Tjiptadinata Effend... | | 28 August 2014 | 18:04

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | | 28 August 2014 | 15:41

Foto Dicuri, Om Dedes Descodes Ngetop …

Widianto.h Didiet | | 28 August 2014 | 17:02

Masih Soal Final Piala Dunia 2014 …

Ahmad Khadafi | | 28 August 2014 | 16:28

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 13 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 13 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Florence: di Mana Bumi Dipijak di Situ …

Ifani | 9 jam lalu

Hitam Putih Kopi Hitam …

Ibnu Hasan Sadeli | 9 jam lalu

Membangun ‘Candu’ Budaya …

Irman Syah | 9 jam lalu

Bahasa Asing Bisa Menambah Kecerdasan Anak …

Seneng Utami | 10 jam lalu

Festival Film Indonesia 2014 …

Wurry Parluten | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: