Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Alfath Satriya

Mahasiswa fakultas hukum universitas indonesia, wakil kepala departemen kastrat BEM FH UI 2013 bidang aksi dan selengkapnya

Fenomena Kelas: antara Marx dan Webber

REP | 01 April 2013 | 06:57 Dibaca: 250   Komentar: 0   1

Oleh: Catur Alfath Satriya[1]

Banyak ilmuwan, ahli, maupun pemikir dalam membahas tentang masyarakat pasti selalu mengaitkannya dengan kelas masyarakat. Hal ini seringkali kita lihat baik di media cetak maupun media elektronik dan dilakukan untuk memudahkan para ilmuwan, ahli, maupun pemikir dalam melakukan analisis sosial yang biasanya terkait dengan pembangunan, kondisi ekonomi, maupun kesejahteraan masyarakat di suatu daerah atau negara yang selanjutnya akan digunakan oleh aparatur negara dalam membuat suatu kebijakan (policy). Di dalam tulisan ini saya mencoba melakukan komparasi dalam melihat fenomena kelas antara perspektif Marx dan perspektif Webber.

Perspektif Marx

Di dalam melihat fenomena kelas, Marx berpendapat bahwa eksistensi kelas menengah apabila dilihat dari segi historis atau perjalanan sejarah manusia, kelas menengah itu sesungguhnya tidak ada. Marx berpendapat bahwa sesungguhnya kelas menengah merupakan konsep yang tidak jelas (absurd) dan hanya merupakan ‘akal-akalan’ kapitalis. Dia melihat bahwa fenomena kelas menengah itu muncul ketika paham liberalisme-kapitalisme sedang berkembang subur di masyarakat dan semangat ini pun muncul karena adanya paham feodalisme[2] yang menciptakan tatanan-tatanan feodal di masyarakat yang menindas dan sewenang-wenang. Marx melihat bahwa ternyata dari paham liberalisme- kapitalisme ini menimbulkan munculnya kelas borjuis (bourgesess) [3]yang pada waktu itu kepentingannya terganggu oleh pemimpin-pemimpin feodal. Kelas borjuis ini melakukan perlawanan terhadap pemimpin/raja yang feodal dan sewenang - wenang itu dengan membatasi kekuasaan raja tersebut yang akhirnya memunculkan suatu konsep konstitusionalisme dan perwakilan. Dari sini kaum borjuis mendapatkan ‘kemenangannya’ dan mereka dianggap sebagai representasi kelas menengah yaitu kelas yang menjadi alat mediasi/penghubung antara penguasa dengan rakyat. Tetapi Marx melihat bahwa seiring berjalannya waktu ternyata kelas menengah yang dianggap sebagai ‘penolong’ rakyat kecil ternyata malah berkolaborasi dengan penguasa, mereka membuat faksi elitis yang bukannya menyejahterakan rakyat malah semakin menindas rakyat kecil. Dari sini Marx skeptis melihat kelas menengah, bagi dia kelas menengah hanya akan menjadi kelas yang lama kelamaan menjadi kelas penguasa yang akhirnya mendominasi dan menindas rakyat kecil. Dari sini juga akhirnya dia memunculkan konsep scientific socialism yang menjadi cikal bakal dari komunisme[4]. Pendapat Marx ini bisa dikatakan suatu tesis radikal dalam menilai dan mengamati fenomena kelas

Perspektif Webber

Berbanding terbalik dengan pendapatnya Marx, tesis yang diajukan Webber lebih kompromistis dan konvensional. Webber yang dalam hal ini juga sependapat dengan emile durkheim berpendapat bahwa adanya klasifikasi kelas disebabkan karena adanya revolusi industri yang semakin lama menuntut seseorang untuk melakukan diversifikasi dan spesialisasi. Dalam era industrialisasi dan modernisasi seperti ini spesialisasi dan diversifikasi harus dilakukan agar kerja yang dilakukan lebih efektif dan efisien. Webber melihat bahwa proses klasifikasi kelas bersifat alamiah dan pasti terjadi dalam era industrialisasi seperti ini karena hal ini merupakan tuntutan kondisi dan zaman.

Disini terlihat sekali perbedaan yang sangat fundamental antara Marx dan Webber dalam melihat fenomena kelas. Marx melihat fenomena kelas dalam sebuah perspektif yang berlawanan atau kontradiktif, dia melihat bahwa perbedaan kelas akan selalu menjadi suatu pertentangan, perlawanan, dan konflik. Hal ini sesuai dengan perspektif Marx bahwa sejarah manusia adalah sejarah pertentangan antar kelas dan hal ini akan berhenti apabila kelas proletar bisa mengalahkan kelas borjuis dan menjadi penguasa. Sedangkan Webber berpendapat bahwa adanya kelas-kelas di masyarakat lebih bersifat alamiah dan evolutif. Dia melihat bahwa adanya kelas di masyarakat merupakan konsekuensi logis dari berkembangnya zaman ke era yang lebih modern dan industrialis dan perbedaan kelas ini yang merupakan manifestasi dari spesialisasi dan diversifikasi di era berkembangnya industri.


[1] Penulis adalah mahasiswa FH UI 2011, wakil kepala departemen kastrat BEM FH UI 2013 bidang aksi dan propaganda, anggota serambi FH UI

[2] . Feodalisme adalah suatu paham yang berkembang di zaman pertengahan atau medieval ages. Di zaman ini ilmu pengetahuan di eropa sedang mengalami kemunduran dan biasanya zaman ini disebut juga zaman kegelapan (dark ages). Di zaman ini ditandai dengan dominasi gereja yang sangat kuat yang menghambat berkembangnya ilmu pengetahuan di eropa.

[3] Di Inggris kaum borjuis disebut dengan Lord. Di dalam pemikirannya Marx kaum borjuis ini akan selalu mendominasi dan bertentangan dengan kaum proletar/buruh dan apabila ingin tercapainya suatu kesejahteraan yang menyeluruh maka kaum proletar harus bisa mengalahkan kaum borjuis

[4] Komunisme merupakan suatu paham yang dikembangkan oleh Marx dan Lenin. Secara garis besar saya berpendapat bahwa komunisme merupakan perpaduan antara konsep teori Marx dan politik praktis Lenin. Di dalam berbagai literatur istilah komunisme bisa disebut juga dengan Marxisme-Leninisme

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 4 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 4 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 4 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 5 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 5 jam lalu


HIGHLIGHT

Senang Sama Visi Poros Maritim Dunia …

Cdt888 | 8 jam lalu

Sinyal “Revolusi Mental” Skuad …

F Tanjung | 8 jam lalu

Tantangan Membuat Buku Mini Kumpulan Puisi …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Bakmi Mama Lie Ling …

Benediktus Satrio R... | 8 jam lalu

Borneo Menulis …

Anton Surya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: