Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Alfath Satriya

Mahasiswa fakultas hukum universitas indonesia, wakil kepala departemen kastrat BEM FH UI 2013 bidang aksi dan selengkapnya

Teori Kritis: Socrates, Kant, Marx dan Hegel

REP | 01 April 2013 | 06:59 Dibaca: 3806   Komentar: 0   1

Oleh: Catur Alfath Satriya [1]

Dalam era demokrasi seperti ini, perbedaan-perbedaan pendapat sering kali terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi sebuah konflik dalam perbedaan pendapat tersebut. Biasanya konflik ini terjadi karena adanya suatu pendapat yang  berusaha untuk menegasikan pendapat yang lain atau yang lebih dikenal dengan thesis dan anti-thesis. Anti-thesis iniliah yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai kritik.

Disini saya akan menjabarkan, bagaimana sebuah pemikiran kritis muncul secara filosofis dengan menggunakan alur dari pemikiran-pemikiran filsuf barat. Ada 4 filsuf barat yang saya gunakan untuk melihat bagaimana pemikiran teori kritis berkembang yaitu Socrates, Kant, Marx dan Hegel. Teori kritis ini bisa dijadikan suatu acuan dalam melihat suatu gejala sosial-politik yang ada.

Metode Socrates

Pemikiran awal kritis sebetulnya sudah dimulai pada zaman yunani kuno, ini pertama kali diperkenalkan oleh socrates dengan metode sokratesnya (socratic method). Metode ini merupakan suatu cara berpikir dimana untuk memulai suatu diskursus diawali dengan sebuah pertanyaan. Metode ini merupakan suatu metode untuk membangun diskusi yang komperhensif yang saling membantu dalam membangun suatu pengertian terhadap suatu persoalan[2]. Metode ini merupakan suatu metode yang diperkenalkan oleh sokrates dalam bidang pendidikan. Metode sokrates ini bisa dikatakan menjadi awal atau basis dari permulaan teori kritis karena metode ini menitikberatkan kepada kedua pihak yang sedang berdiskusi tidak seperti indokrtrinasi yang hanya menekankan kepada salah satu pihak saja. Dari metode ini akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang sangat berperan dalam teori kritis.

Immanuel Kant

Selanjutnya pemikiran kritis dikembangkan oleh Immanuel Kant dengan pendapatnya yaitu das ding an sich yang menyatakan bahwa manusia sebagai subjek tidak dapat menangkap realitas sebenarnya dari suatu objek[3]. Teori Kant ini merupakan suatu teori yang berusaha untuk menjembatani 2 paham yang besar yang sebelumnya bertentangan yaitu antara rasionalisme[4] dan empirisme[5]. Kant menyatakan bahwa sebenarnya yang ditangkap oleh manusia terhadap suatu objek hanyalah suatu fenomena - yang bukan sebenarnya - dari realitas objek tersebut yang disebut Kant sebagai noumena. Fenomena ini merupakan penampakan dari noumena. Penampakan ini menurut Kant sudah dipengaruhi ruang dan waktu serta kualitas dan kuantitasnya. Hal ini menurut Kant sangat bergantung dari persepsi yang terdapat dalam pikiran manusia tersebut dan manusia tersebut dalam membuat persepsinya sangat dipengaruhi oleh kategori-kategori dalam menilai suatu objek yang dipersepsikan itu. Kategori inilah yang di dalam teori Kant disebut dengan kategoris imperatif. Kategoris imperatif adalah suatu keharusan dan kewajiban di dalam diri manusia yang dikaitkan dengan ide-ide metafisik tertentu[6].

Hegel dan Marx

Selain Kant, pemikir lain yang mencoba mengembangkan teori kritis adalah Hegel. Hegel mencoba mengkritik pemikiran Kant. Dia berpendapat bahwa Kant dalam meletakkan rasio kritisnya tidak mengenal waktu, netral, dan ahistoris[7]. Dia juga berpendapat bahwa rasio menjadi kritis apabila ia menyadari asal-usul pembentukannya sendiri. Rasio menjadi kritis apabila dihadapkan dengan suatu rintangan. Lewat proses ini rasio melangkah menjadi lebih tinggi (aufgebeung). Proses inilah yang digambarkan hegel dengan model dialektikanya[8]. Proses ini menurut Hegel mementingkan adanya kontradiksi antar unsur. Unsur ini harus dinegasikan satu dengan yang lain untuk menghasilkan unsur yang lebih baik. Dengan kata lain, rasio kritis menurut Hegel adalah rasio yang sudah melalui refleksi atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan kontradiksi-kontradiksi yang menghambat proses pembentukannya. Dalam teori ini Hegel sebagai tokoh idealisme dialektis, menyimpulkan bahwa pertentangan antara tesis dan anti-tesis akan menghasilkan sebuah sintesis yang semakin lama apabila terus dipertentangkan akan menjadi sebuah kebenaran absolut.

Setelah itu, proses metode dialektika ini dikembangkan oleh Karl Marx dalam konteks sosial-politik dimana untuk melakukan suatu perubahan fundamental dalam suatu sistem sosial-politik harus dilakukan suatu revolusi dengan mempertentangkan kelas borjuis dan kelas proletar. Marx mendasarkan teorinya ini dalam suasana masyarakat kapitalis dimana pada waktu itu kaum borjuis yaitu kaum pemilik modal menindas kaum proletar yaitu kaum buruh. Sehingga di dalam teorinya, apabila kaum buruh dipertentangkan dengan kaum borjuis dan kaum buruh dapat memenangkan pertentangan tersebut maka akan tercapai suatu kesejahteraan dengan ditandainya suatu masyarakat tanpa kelas. Teorinya ini disebut dengan matrealisme dialektis

Marx memberikan suatu paradigma baru dalam teori kritik. Marx mencoba mengontekstualisasikan teori kritik dengan kehidupan sosial politik masyrakat pada waktu itu. Teorinya ini juga didasari dengan analogi basis-suprastruktur dan kelas masyarakat yang akhirnya memunculkan suatu konsep sosialisme ilmiah (scientific socialism).

Teori kritis mengalami suatu perkembangan yang lebih pesat lagi di era post- Marxisme. Di era post Marxisme muncul berbagai macam mazhab-mazhab yang mencoba untuk memberikan paradigma baru dalam teori kritis seperti Mazhab frankfurt dengan tokohnya Adorno, Horkheimer, Habermas dan Mazhab Post-strukturalis dan Post-Modernis dengan tokohnya Foucault dan Derrida.


[1] Penulis adalah mahasiswa FH UI 2011, wakil kepala departemen kastrat BEM FH UI 2013 bidang aksi dan propaganda, anggota serambi FH UI

[2] Kumara Ari Yuana, The Greatest philosophers: 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM – Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis (Yogyakarta: penerbit Andi, 2010), hal. 33.

[3] Bagus Takwin, akar-akar ideologi: Pengantar Kajian konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu (Yogyakarta: Jalasutra), hal. 47.

[4] Rasionalisme adalah paham yang menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui rasio  (common sense) dan bersifat apriori. Tokoh yang terkenal adalah Rene Descartes dengan “cogito ergo sum” yaitu aku berpikir maka aku ada

[5] Empirisme adalah paham yang menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman (experience) dan bersifat aposteriori. Tokoh yang terkenal adalah Aristoteles dan John Locke.

[6] Bagus Takwin, akar-akar ideologi: Pengantar Kajian konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu (Yogyakarta: Jalasutra), hal. 49.

[7] Ibid, hal. 51.

[8] Ibid, hal. 52.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | | 18 December 2014 | 00:46

Nangkring Parenting bersama Mentari Anakku: …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Membangun Bangsa dari Pabrik Fillet Patin …

Indar Wijaya | | 18 December 2014 | 08:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 3 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 4 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 7 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: